SHOLAWAT NABI S.A.W.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat
untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab:
56)
Allah telah mengutus nabi Muhammad
dan telah memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah. Ia
telah menjadikannya rahmat bagi seluruh alam dan pemimpin bagi orang-orang yang
bertaqwa serta menjadikannya orang yang dapat memberi petunjuk ke jalan yang
lurus. Maka seorang hamba harus taat kepadanya, menghormati dan melaksanakan
hak-haknya. Dengan segala jasa beliau kepada umat manusia, lalu Allah menyebutkan
tindakan yang pantas untuk dilakukan kepada belliau, yakni mengucapkan
shalawat.
Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat
untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(Al-Ahzab: 56)
Banyak pendapat tentang pengertian
Sholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, dan yang benar adalah seperti
apa yang dikatakan oleh Abul Aliyah: “Sesungguhnya Sholawat dari Allah itu
adalah berupa pujian bagi orang yang bersholawat untuk beliau di sisi
malaikat-malaikat yang dekat” -Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shohihnya
dengan komentar yang kuat- Dan ini adalah mengkhususkan dari rahmat-Nya yang
bersifat umum.
Pendapat ini diperkuat oleh syekh
Muhammad bin ‘Utsaimin.
Salam: Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan
bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan sholawat maka kitapun
mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi
dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari
kekurangan dan dengan sholawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi
dan lebih sempurna.
Hukum Bershalawat Kepada Nabi saw
Kaidah ushul menyebutkan, asal
perintah adalah untuk menunjukkan kewajiban. Dengan adanya kaidah ini, perintah
Allah untuk bershalawat di dalam surat al-Ahzab bisa difahami sebagai sebuah
kewajiban. Namun di sini para ulama’ berbeda pendapat tentang kapan pelaksanaan
kewajiban ini. Ada di antara mereka mengatakan kewajibannya adalah sekali dalam
seumur hidup. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa shalawat di dalam tasyahhud
adalah wajib. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Qodhi Abu Bakar bin Bakir berkata:
“Allah swt telah mewajibkan makhluk-Nya untuk bersholawat
dan salam untuk nabi-Nya, dan tidak menjadikan itu dalam waktu tertentu saja.
Jadi yang wajib adalah hendaklah seseorang memperbanyak sholawat dan salam
untuk beliau dan tidak melalaikannya.” Dan ada pula yang mengatakan bahwa
perintah di dalam ayat di atas dimaknai dengan sunnah saja.
Saat-Saat Yang Disunnahkan Membaca
Sholawat Untuk Nabi saw
Di dalam kitab Jila’ul Afham, Ibnul
Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan 40 tempat yang disunnahkan untuk mengucapkan
shalawat. Di antaranya adalah sebagai berikut;
1.
Sebelum berdoa,
sebagaimana disebutkan oleh Fadhalah bin ‘Abid: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi
wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholatnya, tetapi tidak
bersholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:
“Orang ini tergesa-gesa” Lalu beliau
memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya dan kepada yang lainnya: “Bila
salah seorang di antara kalian sholat (berdoa) maka hendaklah ia memulainya
dengan pujian dan sanjungan kepada Allah lalu bersholawat untuk nabi, kemudian
berdoa setelah itu dengan apa saja yang ia inginkan.” [H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Hakim]
2.
Ketika menyebut, mendengar dan
menulis nama beliau, berdasarkan kepada sabda Rasulullah saw:
“Celakalah seseorang yang namaku
disebutkan di sisinya lalu ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]
3.
Dianjurkan memperbanyak shalawat
Nabi pada hari Jum’at, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari ‘Aus bin ‘Aus:
“Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya di antara hari-hari
yang paling afdhal adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah sholawat untukku pada
hari itu, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku……” [R. Abu Daud, Ahmad dan Hakim]
4.
Ketika masuk dan keluar masjid,
sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan dari Fatimah ra, ia
berkata: “Rasulullah saw bersabda:
“Bila anda masuk mesjid, maka
ucapkanlah: ”Dengan nama Allah, salam untuk Rasulullah, ya Allah sholawatlah
untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, ampunilah kami dan mudahkanlah bagi kami
pintu-pintu rahmat-Mu.” “Dan bila keluar dari mesjid maka ucapkanlah itu, tapi
(pada penggalan akhir) diganti dengan: “Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu
karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah dan
Tirmidzi]
5.
Ketika Shalat
jenazah Disyari’atkan bershalawat pada shalat jenazah setelah takbir yang kedua
didasarkan atas hadis yang diriwayatkan oleh Abu Umamah ra, bahwa beliau
diberitahu oleh seorang shahabat nabi; Bahwa sunnah di dalam shalat bagi mayat
adalah imam bertakbir, kemudian membaca Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah)
setelah takbir pertama, kemudian bershalawat kepada Nabi saw (Hadis Shahih,
diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan yang lainnya)Cara Bershalawat kepada Rasulullah Di dalam firman Allah di atas,
Allah memerintahkan agar dalam
bershalawat diikuti dengan salam, “Bersholawatlah
kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)
Berdasarkan ayat tersebut yang utama adalah dengan
menggandengkan shalawat dan salam, seperti shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah
bentuk shalawat dan salam untuk beliau saw secara umum. Maka tidak benar kalau
mengucapkan salam kepada Rasulullah saw tanpa diikuti dengan shalawat, atau
shalawat tanpa salam, seperti ‘alaihis salam atau allahumma shalli ‘alaih
saja.Selain dalam makna umum, shalawat harus terdiri dari shalawat dan salam,
Rasulullah teleh memberikan contoh bacaan shalawat secara khusus, di dalam
hadis disebutkan, dari Abi Hamid As-Sa’id -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana
kami bersholawat untukmu? Beliau
menjawab:
“Katakanlah :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ
كَمَ بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Ya Allah! Berilah sholawat untuk Muhammad, istri-istri dan
keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat untuk Ibrahim. Berkatilah
Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi] Selain bacaan shalawat tersebut, masih ada
beberapa riwayat lain yang menyebutkan bacaan shalawat sebagaimana yang
diajarkan oleh Rasulullah saw.
v Celaan Bagi
Yang Tidak Bersholawat Untuk Nabi.
Mengingat benyaknya jasa Rasul
kepada kita, tentu layak kalau kita mendo’akan beliau. Terlebih lagi karena
do’a itu bukan untuk beliau sendiri, tetapi untuk kita sendiri. Sebab ketika
kita mengucapshalawat, banyak keutamaan yang diberikan kepada kita. Maka orang
yang tidak mau mengucap shalawat kepada Nabi saw adalah sebuah tindkan kurang
ajar, sekaligus sombong. Setidaknya kekurangajaran itu digambarkan di dalam
riwayat dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah saw bersabda: “Orang yang paling bakhil adalah seseorang
yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Nasa’i,
Tirmidzi dan Thabaraniy]
v Kesalahan yang
Berkait dengan Shalawat
Dalam melaksanakan perintah Allah
untuk bershalawat kepada nabi Muhammad saw ini, ada beberapa kekeliruan yang
biasa dilakukan oleh umat Islam. Di antara kekeliruannya adalah mengkhususkan
waktu yang tidak ditentukan oleh Rasulullah untuk bershalawat. Dan ada juga
yang membuat bacaan shalawat yang bertentangan dengan kaidah umum dalam Agama
Islam.
Di antara kekeliruan itu antara
lain;
1. Mengkhususkan shalawat pada bulan Rabi’ul
Awwal. Di bulan Rabi’ul Awwal ini sebagian kaum muslimin mengadakan peringatan
atas kelahiran Nabi Muhammad saw. Di antara bentuk peringatan yang dilakukan
adalah dengan memperbanyak membaca shalawat dan berzanji. Tindakan ini termasuk
ke dalam bid’ah, meskipun pada dasarnya membaca shalawat itu ada perintah dari
Allah dan juga sunnah Rasulullah saw. Sebab Alloh dan RasulNya tidak pernah
menentukan bulan Rabi’ul Awwal sebagai bulan shalawat, sebagaimana yang mereka
lakukan. Berbeda halnya dengan hari Jum’at, memang kita diperintahkan untuk
meperbanyak bacaan shalawat kepada Rasulullah saw.
2. Membaca shalawat-shalawat bid’ah,
bahkan syirik, seperti shalawat Badar dan Shalawat Nariyah. Shalawat sudah
sangat masyhur, bahkan banyak didendangkan di dalam nasyid, yaitu :
shalatullah
salamullah, ‘ala thaha Rasulillah…
Kekeliruan shalwat ini adalah
bertawasul dengan nabi, bahkan para pahlawan perang Badr. Perhatikanlah bagian
dari shalawat itu, “tawassalna
bibismillah, wabil hadi Rasulillah, wakulli mujahidilillah biahlil badri yaa
Allah” (kami bertawasul dengan Nama Allah, dan juga dengan pembawa hidayah,
Rasulullah, dan juga bertawassul dengan seluruh mujahid Allah, dengan para
pahlawan badar, Ya Allah..”
Sedangkan shalawat Nariyah, adalah “Allahumma shalli
shalatan kamilah….”
Kekeliruannya, di dalam shalawat ini
disebutkan bahwa Nabi Muhamad adalah pelepas segala problem kehidupan,
sebagaimana disebutkan di dalam baitnya, “tanhallu
bihil uqad, wa tuqdlo bihil hawa’ij..” dengannya
(Nabi Muhammad saw) segala ikatan akan lepas, dan segala kebutuhan akan dipenuhi)
Shalawat semacam ini bermasalah,
tetapi cukup poluler di hampir semua lapisan kaum muslimin di Indonesia hari
ini. Ketika ada upaya untuk mengingatkan mereka, maka tiba-tiba mereka marah.
Dalam keadaan marah itu lah lalu mereka menuduh orang yang mengingatkan
kekeliruan dalam bershalawat sebagai kelompok anti shalawat. Ini adalah sebuah
tuduhan yang kelewat batas. Sebab yang ditolak bukan shalawat yang benar,
tetapi yang ditolak adalah shalawat yang tidak benar.
Shalawat Ulul 'Azmi
"Allahumma
shalli wasallim wabaarik 'alaa sayyidinaa Muhamaddin wasayyidinaa Aadama
wasayyidinaa Nuuhin wasayyidinaa Ibraahiima wasayyidinaa Muusaa wasayyidinaa
'Iisaa wamaa bainahum minan nabiyyina wal mursaliina shalawaatullaahi
wasalaamuhu 'alaihim ajma'iin".
Artinya:
"Ya
Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan serta berkah kepada junjungan kami
Nabi Muhammad saw., kepada junjungan kami Nabi Adam as., kepada junjungan kami
Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as. dan Nabi Isa as. serta kepada
orang yang diantara mereka, dari para Nabi dan semua Rasul. Semoga seluruh
rahmat Allah dan salamNya melimpah kepada mereka semuanya".
Shalawat Badriyah
Shalaatullaah
Salaamullaah - 'Alaa Thaaha Rasuulillaah, Shalaatullaah Salaamullaah - 'Alaa
Yaasiin Habiibillaah,Tawassalnaa Bibismillaah - Wabil Haadi Rasuulillaah,Wakulli
Mujaahidinlillah - Biahlil Badri Yaa Allah. Shalaatullaah Salaamullaah - - - -
- Ilaahi Sallimil Ummah - Minal Aafaati Wanniqmah,
Wamin Hammin Wamin Ghummah - Biahlil Badri Yaa Allah.
Wamin Hammin Wamin Ghummah - Biahlil Badri Yaa Allah.
Artinya:
Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Thaaha utusan Allah, Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah. Kami berwasilah dengan berkah "Basmallah", Dan dengan Nabi yang menunjukkan , lagi utusan Allah, Dan seluruh orang yang berjuang karena Allah, Sebab berkah sahabat ahli badar yaa Allah. Wahai Tuhanku, semoga Engkau berkenan menyelamatkan ummat, Dari bencana dan siksa, Dan dari susah dan kesempitan, Sebab berkah sahabat ahli badar yaa Allah.
Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Thaaha utusan Allah, Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah. Kami berwasilah dengan berkah "Basmallah", Dan dengan Nabi yang menunjukkan , lagi utusan Allah, Dan seluruh orang yang berjuang karena Allah, Sebab berkah sahabat ahli badar yaa Allah. Wahai Tuhanku, semoga Engkau berkenan menyelamatkan ummat, Dari bencana dan siksa, Dan dari susah dan kesempitan, Sebab berkah sahabat ahli badar yaa Allah.
Shalawat Kubraa
Alfu Alfi
Shalaatin wa Alfu Alfi Salaamin 'Alaika yaa sayyidal Mursalin --"-- yaa
sayyidan nabiyyiin --"-- yaa sayyidas shiddiqiin --"-- yaa sayyidar
raaki'iin --"-- yaa sayyidal qaa'idiin --"— yaa sayyidas saajidin --"--
yaa sayyidadz Dzaakiriin
Artinya:
Sejuta rahmat dan sejuta keselamatan untukmu wahai penghulu para utusan --"-- --"—Nabi --"-- --"—shadiqin --"-- --"-- orang-orang yang ruku' --"-- --"-- orang-orang yang duduk --"-- --"-- orang-orang yang sujud --"-- --"-- orang-orang yang dzikir
Sejuta rahmat dan sejuta keselamatan untukmu wahai penghulu para utusan --"-- --"—Nabi --"-- --"—shadiqin --"-- --"-- orang-orang yang ruku' --"-- --"-- orang-orang yang duduk --"-- --"-- orang-orang yang sujud --"-- --"-- orang-orang yang dzikir
Sholawat Nariyah
اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل
به العقد، وتنفرج به الكرب،وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم
وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك
Allohumma
sholli ‘sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina
Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho
bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol
ghomamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa
nafasim bi’adadi kulli ma’lumin laka
Artinya :
Ya Alloh berilah sholawat dengan sholawat yang
sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami
Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi
segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan,
hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan
sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak
hitungan segala yang ada dalam pengetahuanMU
Imam Ad Dinawari
berkata : Siapa saja membaca shalawat
setiap selesai sholat sebanyak 11 kali dan ia menjadikannya sebagai bacaan
rutin maka rizkinya tidak akan pernah putus dan ia mendapatkan derajat yang
tinggi…
(Agar terhindar dari bencana)
Shalatullah
salamullah, 'ala Thaha Rasulillah Shalatullah salamullah, 'ala Yasin Habibillah
Semoga shalawat dan
salam selalu kepada Thaaha, Rasulullah Semoga shalawat dan salam selalu kepada
Yasin, Rasulullah (Thaha dan Yaasin adalah gelar untuk Rasulullah)
Tawasalna
bibismillah, wa bilhadi Rasulillah, wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri,
ya Allah .
Kami bertawasul*
dengan bismillah, petunjuk Rasulillah,
dan dengan seluruh
mujahidin Badar, ya Allah
Ilahi sallimil ummah,
minal afaati wa niqmah )
wa min hammin wa min
ghummah, bi ahli badri, ya Allah
Tuhanku,
selamatkanlah umat ini, dari derita dan bencana
dan dari belenggu
serta kebekuan, demi ahli Badar ya Allah
Ilahi-ghfir wa
akrimna, binaili mathalibi minna (dikabulkan Wa daf'i masaa-atin 'anna, bi ahli
badri, ya Allah
Tuhanku, ampuni dan
muliakan kami, dengan dikabulkannya permohonan kami, dan dijauhkannya kami dari
tragedi yang memilukan, demi ahli Badar ya Allah
Sholawat Fatih
"ALLAHUMMA
SHALLI WASALLIM WABAARIK 'ALA SAYYIDINA MUHAMMADINIL FAATIHI LIMA UGLIQA
WALKHAATIMI LIMAA SABAQA WAN-NAASHIRIL HAQQI BILHAQQI WALHAADI ILAA
HIRAATIKAL MUSTAQIIM WA 'ALAA 'ALAIHI WASHAHBIHI HAQQA QADRIHI
WAMIQDAARIHIL 'AZHIIM"
(Ya
Allah limpahkanlah salawat, salam, dan berkahMu atas pemimpin kami Muhammad
sang pembuka yang tertutup; sang penutup dari yang sudah; sang pembela
kebenaran dengan kebenaran; dan yang menunjukkan ke jalan yang lurus, juga ata
keluarga dan sahabat-sahabatnya sesuai hak dan kedudukannya yang agung)?
Tasawuf & Sholawat Nabi
Shalawat Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam bukanlah amalan yang asing bagi seorang muslim.
Hampir-hampir setiap majlis ta’lim ataupun acara ritual tertentu tidak pernah
lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wassalam.
Terlebih bagi seorang
muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu melantunkan shalawat dan
salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu 'alaihi wassalam.
Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu 'alaihi wassalam merupakan
ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman:
إنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(artinya): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian
kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56)
Rasulullah Shallallahu
'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barangsiapa
bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan
shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan
oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’)
Demikianlah kedudukan
shalawat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dalam agama Islam. Sehingga di dalam
mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi
wassalam.
Sebaik-baik shalawat,
tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam dan
sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi petunjuknya Shallallahu 'alaihi
wassallam. Karena beliau Shallallahu 'alaihi wassalam lebih mengerti shalawat
manakah yang paling sesuai untuk diri beliau Shallallahu 'alaihi
wassallam.
Diantara
shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam
kepada umatnya, yaitu:
اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi
Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada
Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dan masih banyak lagi
shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam . Adapun
shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam
maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa shalawat yang biasa dilantunkan
oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yang tanpa disadari terpengaruh
dengan mereka.
Beberapa Shalawat ala Sufi
1. Shalawat Nariyah Shalawat jenis ini banyak
tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa
yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan
kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:
اللهُمَّ
صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تآمًا عَلَى سَيِّدِنَا مًحَمَّدٍ الَّذِي
تُنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ
وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ
الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ عَدَدَ كَلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
“Ya Allah , berikanlah
shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang
dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan
dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian
yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan
kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada
keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau
miliki.”
Para pembaca, bila kita
merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kandungan shalawat tersebut sangat
bertentangan dengan keduanya. Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai
kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu
memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang
bersedih?! Allah Ta'ala berfirman :
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا
إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ
وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
(artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku
tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang
ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa
khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188)
Dan juga firman-Nya :
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلاَ
يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً
(artinya): "Katakanlah (wahai Muhammad):
Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka
tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula
memindahkannya." (Al-Isra: 56)
Para ahli tafsir
menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdo’a kepada Al Masih,
atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan jin. (Tafsir Ibnu Katsir
3/47-48)
Seorang laki-laki datang
kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam , lalu mengatakan:
مَا شَاءَ اللهَُ وَ شِئْتَ
"Berdasarkan kehendak Allah dan
kehendakmu”.
Maka beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ لِلَّهِ نِدًّا ؟! “
Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai
tandingan bagi Allah?
Ucapkanlah:
مَا شَاءَ اللهَُ وَحْدَهُ “
Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR.
An-Nasa’i dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal.
227-228, Muhammad Jamil Zainu)
Maka dari itu, jelaslah
dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur
pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam
hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta'ala. Tentunya yang demikian ini
merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.
2. Shalawat Al Faatih (Pembuka) Nash shalawat
tersebut adalah:
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ … "
Ya Allah! berikanlah
shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka segala yang tertutup ….
” Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah
- secara dusta - : “….Kemudian beliau (Nabi Shallahu 'alaihi wassalam)
mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai
setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari
setiap do’a yang kecil maupun besar, dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali,
karena ini termasuk dzikir.” (Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad
Utsman)
Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan
dan kekafiran yang nyata dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi
Shallallahu 'alaihi wassallam , karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia
lebih mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta'ala. Bukankah Allah
telah menegaskan dalam firman-Nya :
وَمَنْ
أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً
(artinya): “Dan siapakah yang perkatannya lebih
benar dari pada Allah? (An Nisaa’:122)
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ
وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al
Qur’an),sebagai kalimat yang benar dan adil.”(Al An’am:115)
Demikian pula Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah
perkataan Allah “. (HR. Muslim)
“Barangsiapa yang
membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu kebaikan. Dan satu
kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan:
alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim
satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang
lainnya dari Abdullah bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani)
Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas
cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih
lagi bila kita telusuri kandungannya yang kental dengan nuansa pengkultusan
terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam yang dilarang dalam agama yang
sempurna ini.
3. Shalawat Sa'adah (Kebahagiaan)
Nash adalah sebagai berikut:
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ
اللهِ …
“Ya Allah, berikanlah
shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah,
shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”.
Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya
dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan
siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk
orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)
Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang
merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di
bawah shalawat sa’adah ini?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas
kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut.
4. Shalawat Burdatul Bushiri Nashnya adalah sebagai
berikut:
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ
“Wahai Rabbku! Dengan
perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam ) penuhilah segala
keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang
Maha Luas Kedermawanannya.”
Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia.
Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia.
Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang,
karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa
musibah dan yang sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’
(minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam
karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a.
Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam ketika beliau telah
meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar
melakukannya.
Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah
(kedudukan) Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang
diada-adakan dalam agama, karena hadits: تَوَسَّلُوا بِجَاهِي “Bertawasullah
dengan kedudukanku”, merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan
bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta'ala
butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap
perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan
makhluk-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
(Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85)
Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi
Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain
Allah Ta'ala. Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang bersumpah dengan selain
Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR At Tirmidzi, Ahmad
dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)
Sohibul, dari sekian makna di atas maka jelaslah
bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi
Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah
mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung
oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para
mujahidin dan ahli Badar).
5. Nash shalawat seorang sufi Libanon:
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ الأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ
"Ya Allah
berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan
dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya)."
Padahal Allah Ta'ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(Asy-Syura: 11)
Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam sendiri pernah
bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang
Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka
katakanlah: “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari). Wallahu
A’lam Bish Shawab
Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat Hadits Anas bin Malik Radiyallahu 'anhu:
Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat Hadits Anas bin Malik Radiyallahu 'anhu:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ عَامًا
“Barangsiapa bershalawat
kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala
dosanya selama 80 tahun.” .
Keterangan:
Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215)
Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215)

No comments:
Post a Comment