Mu’min itu Bersaudara
Dalam
menegakkan keharmonisan hubungan antara anggota masyarakat, Islam mempunyai dua landasan yang
prinsipal, yaitu:
1.
Demi
melindungi persaudaraan, sebagai suatu ikatan yang kuat antara satu dengan
lainnya,
2.
Demi
menjaga hak dan kehormatan yang selalu di lindungi oleh Islam terhadap setiap
ang gota masyarakat, baik darah, harga diri maupun hartanya.
Oleh kerana itu setiap
perkataan, perbuatan atau tindakan yang pertentangan dengan dua prinsip di
atas, adalah di haramkan oleh Islam menurut tingkatan bahaya yang tampak, di lihat
dari segi moral maupun material.
Dalam beberapa ayat berikut ini, ada beberapa
larangan yang sangat membahayakan jalinan ukhuwah dan kehormatan manusia.
Firman Allah:
“Sesungguhnya
orang-orang mu'min adalah bersaudara, oleh karena itu adakanlah perdamai an di
antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
Hai orang-orang yang beriman! Jangan ada satupun kaum
merendahkan kaum lain, sebab barang kali mereka (yang di rendahkan) itu justru
lebih baik dari mereka (yang merendahkan); dan janganlah ada perempuan
merendahkan perempuan lainnya, sebab barangkali mereka (yang di rendahkan) itu
lebih baik dari mereka (yang merendahkan); dan jangan kamu mencela diri-diri
kamu; dan jangan kamu memberi gelar dengan gelar-gelar (yang tidak baik)
--misalnya fasik-- sebab seburuk-buruk nama ialah fasik sesudah dia itu
beriman, dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itu adalah orang-orang
yang zalim. Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak sangka, karena
sesungguhnya sebahagian sangkaan itu berdosa; dan jangan kamu mengintai
(menyelidiki cacat orang lain); dan jangan sebahagian kamu mengumpat
sebahagiannya, apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai
saudaramu padahal kamu tidak menyukainya? Takutlah kepada Allah, karena
sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan belas-kasih.” (al-Hujurat: 10-12)
Allah Ta'ala telah menetapkan di awal ayat-ayat
ini, bahawa orang mu'min pada hakikatnya adalah bersaudara yang meliputi
saudara seagama dan saudara sesama manusia. Maka demi kelangsungan persaudaraan
ini harus ada saling kenal-mengenal; dan jangan saling mengingkari, bahkan
harus saling berhubungan dan jangan saling memutuskan, saling merapat dan
jangan berjauhan, saling menyintai dan jangan saling membenci; dan harus
bersatu, jangan berselisih. Dan dalam hadis Nabi s.a.w. dikatakan: "Jangan
kamu saling hasut-menghasut, dan jangan saling bertolak belakang, dan jangan
saling membenci. tetapi jadilah kamu hamba Allah bersaudara." (Riwayat
Bukhari).
Dan dari situlah, maka Islam mengharamkan
seorang muslim berlaku kasar terhadap sahabatnya, memutuskan hubungan dan
menjauhinya. Islam tidak memperkenankan seorang muslim menjauhi kawannya,
kecuali dalam batas tiga hari, sehingga tenanglah kemarahan kedua belah pihak.
Kemudian mereka berdua harus berusaha untuk memperbaiki, menjernihkan suasana
dan mengatasi perasaan-perasaan congkak, benci dan permusuhan. Sebab di antara
sifat-sifat yang terpuji dalam al-Quran ialah:
“Merendah
diri terhadap orang-orang mu'min.” (al-Maidah: 54)
Sabda
Rasulullah s.a.w.: "Tidak halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih
dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan
dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya
bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia
kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang mem beri salam telah keluar dari
dosa kerana menjauhi itu." (Riwayat Abu Daud)
Lebih
hebat lagi haramnya memutuskan silaturrahmi ini apabila terhadap keluarga yang
oleh Islam di wajibkan untuk menyambungnya dan melindungi kehormatannya.
Firman
Allah:
“Dan
takutlah kamu kepada Allah yang padaNya Kamu meminta dan jagalah keluarga
kerana sesungguhnya Allah maha mengawasi atas kamu.” (an-Nisa': 1)
Rasulullah
s.a.w. menggambarkan silaturrahmi ini dan nilainya, dalam salah satu sabdanya
sebagai berikut: "Kekeluargaan bergantung di Arsy, ia akan berkata:
barangsiapa menghubungi aku, maka Allah pun akan menghubunginya; dan
barangsiapa memutus aku, maka Allah pun akan memutusnya." (Riwayat Bukhari
dan Muslim)
Dan
sabdanya pula: "Tidak masuk syorga orang yang memutus." (Riwayat
Bukhari)
Sebahagian ulama ada yang menafsirkan kata-kata
memutus itu yakni: memutuskan silaturrahmi. Dan lainnya menafsirkan dengan:
memotong jalan (penyamun). Jadi seolah-olah kedua-duanya berada dalam satu
kedudukan.
Bukanlah yang dimaksud silaturrahmi yang wajib
itu sekadar seorang kerabat menghu bungi dan berbuat baik kepada yang lain,
sebab ini adalah satu hal yang biasa dan yang mesti demikian. Tetapi apa yang
di maksud silaturrahmi yang wajib ialah tetap menghubungi keluarga-keluarganya
sekalipun mereka itu menjauhinya.
Seperti
sabda Nabi:
"Bukanlah
orang yang menghubungi keluarga itu ialah orang yang menjamin, tetapi yang di namakan
orang yang menyambung kekeluargaan ialah apabila keluarganya itu memutus kan
dia, maka dia tetap menghubunginya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ini
semua tidak berlaku terhadap hal yang di benarkan Allah dan dalam masalah yang
hak. Sebab teguhnya ikatan iman ialah: Cinta karena Allah, dan benci pun karena
Allah.
Rasulullah s.a.w. pernah menjauhi
ketiga orang sahabatnya yang tidak mau turut dalam peperangan Tabuk selama 50
hari, sehingga bumi ini layaknya sempit dan hatinya merasa kebingungan, dan
tidak ada seorang pun yang mahu bergaul dengan mereka, atau bercakap dan
memberi salam. Begitulah sehingga Allah menurunkan ayat tentang di terima nya
taubat mereka itu.
Dan
pernah juga Rasulullah s.a.w. menjauhi sebahagian isterinya selama 40 hari.
Ibnu
Umar pernah menjauhi anaknya sampai ia meninggal dunia, kerana anaknya tidak
mahu mengoreksi hadis yang diterimanya dari ayahnya dari Rasulullah s.a.w.
tentang dilarangnya laki-laki menghalang-halangi isterinya pergi ke masjid.
Adapun menjauhi kawan lantaran kepentingan
duniawi, maka sesungguhnya duniawi harus lebih di kesampingkan dalam
hubungannya dengan Allah dan seorang muslim, daripada membawa kepada sikap
berjauhan dan memutuskan tali persahabatan antara seorang muslim dengan
saudaranya. Sebab memutuskan hubungan itu akan dapat menghalangi pengampunan
dosa dan rahmat Allah. Seperti diterangkan oleh hadis Rasulullah s.a.w.:
"Pintu-pintu
sorga akan dibuka pada hari Isnin dan Khamis, kemudian Allah akan memberi
ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun; kecuali
seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka
berkatalah Allah: tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah
kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini
sehingga mereka berdamai." (Riwayat Muslim)
Kalau dia yang berada di pihak yang benar, maka
cukup kiranya pihak yang bersalah datang dan minta maaf, dan dia pun harus
memberi maaf. Dengan demikian maka selesailah persengketaan, dan haram hukumnya
dia menolak permintaan maaf saudaranya itu.
Terhadap orang yang berbuat demikian, Rasulullah
s.a.w. mernberikan ancaman, bahawa kelak di hari kiamat tidak akan masuk sorga.
Firman
Alloh :
“...
maka adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada
Allah agar kamu mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)
Dalam
salah satu hadistnya Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan tentang keutamaan
mendamaikan ini, serta bahayanya pertentangan dan perpisahan.
Sabda
Rasulullah s.a.w.:
"Mahukah
kamu saya tunjukkan suatu perbuatan yang lebih utama daripada tingkatan
keutamaan sembahyang, puasa dan sedekah? Mereka menjawab: Baiklah ya
Rasulullah! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “ mendamaikan persengketaan
yang sedang terjadi; sebab kerusakan kerana persengketaan berarti menggundul,
saya tidak mengatakan menggundul rambut, tetapi menggundul agama." (Riwayat
Tarmizi dan lain-lain)
Jangan Suatu Kaum
Menghina Kaum Lain
Dalam ayat-ayat yang telah disebutkan terdahulu
terdapat sejumlah hal yang di larang oleh Allah, demi melindungi persaudaraan
dan kehormatan manusia.
Larangan
pertama:
Tentang memperolokkan orang lain. Oleh kerana itu tidak halal seorang muslim
yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memper olokkan
orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan
perolokan nya. Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan
penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang
neraca kebajikan di sisi Allah. Jus tru itu Allah mengatakan: "Jangan ada
suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barang kali mereka yang di perolokkan
itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan ja ngan pula perempuan
memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang di perolokkan itu
lebih baik daripada mereka yang memperolokkan."
Yang di namakan baik dalam pandangan Allah, yaitu:
iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari
rupa, badan, pangkat dan kekayaan.
Dalam hadisnya Rasulullah s.a.w. mengatakan:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi
Allah melihat hati kamu dan amal kamu." (Riwayat Muslim)
Bolehkah
seorang laki-laki atau perempuan di perolokkan kerana suatu cacat di badannya,
perangainya atau kerana kemiskinannya?
Dalam
sebuah riwayat di ceriterakan, bahawa Ibnu Mas'ud pernah membuka betisnya dan
nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebahagian orang. Lantas Rasulullah s.a.w.
bersabda: "Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas'ud, demi
Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahawa kedua betisnya itu timbangannya
lebih berat daripada gunung Uhud." (Riwayat Thayalisi dan Ahmad)
Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang
musyrik yang memperolok orang-orang mu'min, lebih-lebih mereka yang lemah
--seperti Bilal dan 'Amman-- kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik,
yang mengolok-olok menjadi yang di olok-olok dan di tertawakan,
Firman
Allah:
“Sesungguhnya
orang-orang yang durhaka itu mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan
apabila mereka melalui mereka, mereka berlirik-lirikan. Dan apabila mereka
kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan suka cita. Dan apabila mereka
melihat mereka itu, mereka berkata: 'Sungguh mereka itu orang-orang yang
sesat.' Padahal mereka itu tidak di utus untuk menjadi pengawal atas mereka.
Oleh kerana itu pada hari ini orang-orang mu'min akan mentertawakan orang-orang
kafir itu.” (al-Muthaffifin 29-34)
Ayat ini dengan tegas dan jelas menyebutkan di larangnya
perempuan mengolok-olok orang lain, padahal perempuan sudah tercakup dalam
kandungan kata kaum. Ini menunjuk kan, bahwa pengolok-olokan sementara
perempuan terhadap yang lain, termasuk hal yang biasa terjadi di kalangan
mereka.
Jangan Mencela Diri-Diri
Kamu
Larangan kedua: Tentang lumzun, yang menurut
arti lughawi berarti: al-wakhzu (tusukan) dan ath-tha'nu (tikaman). Sedang
lumzun yang dimaksud di sini ialah: 'aib (cacat). Jadi seolah-olah orang yang
mencela orang lain, berarti menusuk orang tersebut dengan ketajaman pedangnya,
atau menikam dengan hujung tombaknya.
Penafsiran
ini tepat sekali. Bahkan kadang-kadang tikaman lidah justru lebih hebat.
Seperti kata seorang penyair:
Luka kerana tombak masih
dapat diubati
Tetapi luka kerana lidah
berat untuk diperbaiki.
Bentuk
larangan dalam ayat ini mempunyai suatu isyarat yang indah sekali.
Ayat
tersebut mengatakan: laa talmizu anfusakum (jangan kamu mencela diri-diri
kamu). Ini tidak berarti satu sama lain saling cela-mencela. Tetapi al-Quran
menuturkan dengan jama'atul mu'minin, yang seolah-olah mereka itu satu tubuh.
Sebab mereka itu secara kese luruhannya saling membantu dan menolong. Jadi
barangsiapa mencela saudaranya, berarti sama dengan mencela dirinya sendiri.
kerana dia itu dari dan untuk saudaranya.
Jangan Menggelar dengan
Gelaran yang Buruk
Ketiga: Termasuk mencela yang di haramkan,
ialah: memberi gelar dengan beberapa gelar yang tidak baik, yaitu suatu
panggilan yang tidak layak dan tidak menyenangkan yang membawa kepada suatu
bentuk penghinaan dan celaan.
Tidak layak seorang manusia berbuat jahat kepada
kawannya. Dipanggilnya kawannya itu dengan gelar yang tidak menyenangkan bahkan
menjengkelkan. Ini boleh menyebabkan beru bahnya hati dan permusuhan sesama
kawan serta menghilangkan jiwa kesopanan dan perasa an yang tinggi.
Su'uzh-Zhan (Berburuk
sangka)
Keempat: Islam menghendaki untuk menegakkan
masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik;
bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangka-sangka, Untuk itu, maka
datanglah ayat al-Quran membawakan keempat sikap yang diharamkan ini, demi
melindungi kehormatan orang lain.
firman
Allah:
“Hai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak menyangka, kerana sesungguhnya sebaha
gian sangka’an itu berdosa.” (al-Hujurat: 12)
Sangkaan yang berdosa, yaitu sangka’an yang
buruk. Oleh kerana itu tidak halal seorang muslim berburuk sangka terhadap
saudaranya, tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. Sebab manusia secara umum
pada asalnya bersih. Oleh kerana itu prasangka-prasangka tidak layak di ketengahkan
dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh.
Sabda
Nabi:
"Hati-hatilah kamu terhadap prasangka,
kerana sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan." (Riwayat
Bukhari)
Manusia karena kelemahan sifat kemanusiaannya,
tidak dapat menerima prasangka dan tuduhan oleh sebahagian manusia, lebih-lebih
terhadap orang-orang yang tidak ada hubungan baik. Oleh kerana itu sikap yang
harus ditempuh, dia harus tidak menerima tuduhan itu dan berjalan mengikuti
suara nafsu tersebut.
Inilah makna hadis Nabi yang mengatakan:
"Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan." (Riwayat
Thabarani)
Tajassus (Mengintip)
Kelima: Tidak adanya kepercayaan terhadap orang
lain, menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan batin yang di sebut
su'uzh-zhan dan melakukan perbuatan badan yang berbentuk tajassus. Sedang Islam
bertujuan menegakkan masyarakatnya dalam situasi bersih lahir dan batin. Oleh
kerana itu larangan bertajassus ini dibarengi dengan larangan su'uzh-zhan
(berburuk sangka). Dan banyak sekali su'uzh-zhan ini terjadi kerana adanya
tajassus.
Setiap manusia mempunyai kehormatan diri yang
tidak boleh dinodai dengan tajassus dan di selidiki cacat-cacatnya, sekalipun
dia berbuat dosa, selama di lakukan dengan ber sembunyi.
Abul Haitsam sekretaris Uqbah bin 'Amir --salah
seorang sahabat Nabi-- berkata: saya pernah berkata kepada Uqbah: saya
mempunyai tetangga yang suka minum arak dan akan saya panggilkan polisi untuk
menangkapnya. Maka kata Uqbah: Jangan! Tetapi nasihatilah mereka itu dan
peringatkanlah. Abul Haitsam menjawab: Sudah saya larang tetapi mereka tidak
mahu berhenti, dan tetap akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Uqbah
berkata: Celaka kamu! Jangan! Sebab saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w.
berkata:
"Barangsiapa
menutupi suatu cacat, maka seolah-olah ia telah menghidupkan anak yang di tanam
hidup-hidup dalam kuburnya." (Riwayat Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Hibban)
Rasulullah s.a.w. menilai, bahwa menyelidiki
cacat orang lain itu termasuk perbuatan orang munafik yang mengatakan beriman
dengan lidahnya tetapi hatinya membenci. Kelak mereka akan di bebani dosa yang
berat di hadapan Allah.
Dalam hadis Nabi yang di riwayatkan dari Ibnu
Umar ia berkata: Rasulullah s.a.w, pernah naik mimbar kemudian menyeru dengan
suara yang keras: "Hai semua orang yang telah menyatakan beriman dengan
lidahnya tetapi iman itu belum sampai ke dalam hatinya! Janganlah kamu
menyakiti orang-orang Islam dan jangan kamu menyelidiki cacat-cacat mereka.
Sebab barangsiapa menyelidiki cacat saudara muslim, maka Allah pun akan
menyelidiki cacatnya sendiri; dan barangsiapa yang oleh Allah di selidiki
cacatnya, maka Ia akan nampakkan kendatipun dalam perjalanan yang jauh." (Riwayat
Tarmizi dan Ibnu Majah)
Maka demi melindungi kehormatan orang lain,
Rasulullah s.a.w. mengharamkan dengan keras seseorang mengintip rumah orang
lain tanpa izin; dan ia membenarkan pemilik rumah untuk melukainya. Seperti
sabda Nabi: "Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa izin mereka,
maka halal buat mereka untuk menusuk matanya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Diharamkan juga mendengar-dengarkan omongan
mereka tanpa sepengetahuan dan perkenannya. Sabda Nabi: "Barangsiapa
mendengar-dengarkan omongan suatu kaum; sedang mereka itu tidak suka, maka
kelak di hari kiamat kedua telinganya akan dituangi cairan timah."
(Riwayat Bukhari)
Al-Quran mewajibkan kepada setiap muslim yang
berkunjung ke rumah kawan, supaya jangan masuk lebih dahulu, sehingga ia minta
izin dan memberi salam kepada peng huninya.
Firman
Allah:
“Hai
orang-orang yang beriman! Jangan kamu masuk rumah lain selain rumah-rumah kamu
sendiri, sehingga kamu minta izin lebih dahulu dan memberi salam kepada pemilik
nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, supaya kamu ingat. Maka jika kamu
tidak menjumpai seorang pun dalam rumah itu, maka jangan kamu masuk, sehingga
kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepadamu: kembalilah! Maka kembalilah
kamu. Yang demikian itu lebih bersih buat kamu, dan Allah Maha Menge tahui apa
saja yang kamu kerjakan.” (an-Nur: 27-28)
Di dalam hadis Nabi, juga dikatakan:
"Barangsiapa membuka tabir kemudian dia masukkan pandangannya sebelum
diizinkan, maka sungguh dia telah melanggar suatu hukum yang tidak halal
baginya untuk dikerjakan." (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)
Nas-nas larangan tentang tajassus dan
menyelidiki cacat orang lain ini meliputi hakim dan yang terhukum, seperti yang
diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Mu'awiyah dari Rasulullah s.a.w.
ia bersabda: "Sesungguhnya kamu jika menyelidiki carat orang lain, berarti
kamu telah merusak mereka atau setidak-tidaknya hampir- merusak mereka
itu." (Riwayat Abu Daud dan ibnu Hibban)
Abu Umamah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w.,
ia bersabda: "Sesungguhnya seorang kepala apabila mencari keragu raguan
terhadap orang lain, maka ia telah merusak mereka." (Riwayat Abu Daud)
Ghibah (Mengumpat)
Keenam: Kita dilarang ghibah (mengumpat).
Seperti
firman Allah: “Dan jangan sebahagian kamu
mengumpat sebahagiannya.” (al-Hujurat: 12)
Rasulullah s.a.w. berkehendak akan mempertajam
pengertian ayat tersebut kepada sahabat-sahabatnya yang dimulai dengan cara
tanya-jawab, sebagaimana tersebut di bawah ini:
"Bertanyalah
Nabi kepada mereka: Tahukah kamu apakah yang disebut ghibah itu? Mereka
menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Maka jawab Nabi, iaitu: Kamu
membincangkan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya. Kemudian
Nabi ditanya: Bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan
tadi? Rasulullah s.a.w. menjawab: Jika padanya terdapat apa yang kamu
bincangkan itu, maka berarti kamu mengumpat dia, dan jika tidak seperti apa
yang kamu bincangkan itu, maka berarti kamu telah menuduh dia." (Riwayat
Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasa'i)
Manusia tidak suka kalau bentuknya, perangainya,
nasabnya dan ciri-cirinya itu di bin cangkan. Seperti tersebut dalam hadis
berikut ini: "Dari Aisyah ia berkata: saya pernah berkata kepada Nabi:
kiranya engkau cukup (puas) dengan Shafiyah begini dan begini, yakni dia itu
pendek, maka jawab Nabi: Sungguh engkau telah berkata suatu perkataan yang
andaikata engkau campur dengan air laut niscaya akan bercampur." (Riwayat
Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi)
Ghibah adalah keinginan untuk menghancurkan
orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang
lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapan nya. Ini menunjukkan kelicikannya,
sebab sama dengan menusuk dari belakang. Sikap sema cam ini salah satu bentuk
daripada penghancuran. Sebab pengumpatan ini berarti melawan orang yang tidak
berdaya.
Ghibah di sebut juga suatu ajakan merusak, sebab
sedikit sekali orang yang lidahnya dapat selamat dari cela dan cerca. Oleh
kerana itu tidak mengherankan, apabila al-Quran melukiskannya dalam bentuk
tersendiri yang cukup dapat menggetarkan hati dan menum buhkan perasaan.
Firman Allah:
“Dan jangan sebahagian kamu mengumpat
sebahagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai
saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!” (al-Hujurat: 12)
Setiap manusia pasti tidak suka makan daging
manusia. Maka bagaimana lagi kalau daging saudaranya? Dan bagaimana lagi kalau
daging itu telah menjadi bangkai? Nabi memperoleh pelukisan al-Quran ini ke
dalam fikiran dan mendasar di dalam hati setiap ada kesempatan untuk itu.
Ibnu Mas'ud pernah berkata: "Kami pernah
berada di tempat Nabi s.a.w., tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri
meninggalkan majlis, kemudian ada seorang laki-laki lain mengumpatnya sesudah
dia tidak ada, maka kata Nabi kepada laki-laki ini: Berselilitlah kamu! Orang
tersebut bertanya: Mengapa saya harus berselilit sedangkan saya tidak makan
daging ? Maka kata Nabi: Sesungguhnya engkau telah makan daging
saudaramu." (Riwayat Thabarani dan rawi-rawinya rawi-rawi Bukhari)
Dan di riwayatkan pula oleh Jabir, ia berkata:
"Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau
busuk. Lalu bertanyalah Nabi: Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin
(bau) nya orang-orang yang mengumpat arang-orang mu'min." (Riwayat Ahmad
dan rawi-rawinya kepercayaan)
Batas
Perkenaan Ghibah
Seluruh nas ini menunjukkan kesucian kehormatan
pribadi manusia dalam Islam. Akan tetapi ada beberapa hal yang oleh ulama-ulama
Islam di kecualikan, tidak termasuk ghibah yang di haramkan. Tetapi hanya
berlaku di saat darurat.
Diantara yang di kecualikan, yaitu seorang yang
di aniaya melaporkan halnya orang yang menganiaya, kemudian dia menyebutkan
kejahatan yang di lakukannya. Dalam hal ini Islam memberikan rukhshah untuk
mengadukannya.
Firman
Allah:
“Allah
tidak suka kepada perkataan jelek yang di perdengarkan, kecuali (dari) orang
yang teraniaya, dan adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”
(an-Nisa': 148)
Kadang-kadang ada seseorang bertanya tentang
pribadi orang lain kerana ada maksud mengadakan hubungan dagang, atau akan
mengawinkan anak gadisnya atau untuk menye rahkan suatu urusan yang sangat
penting kepadanya.
Di sini ada suatu kontradiksi antara suatu
keharusan untuk mengikhlaskan diri kepada agama, dan kewajiban melindungi
kehormatan orang yang tidak di hadapannya. Akan tetapi kewajiban pertama justru
lebih penting dan suci. Untuk itu kewajiban pertama harus di dahulukan daripada
kewajiban kedua.
Dalam sebuah kisah di tuturkan, bahawa Fatimah
binti Qais pernah menyampaikan kepada Nabi tentang maksud dua orang yang akan
meminangnya. Maka jawab Nabi kepadanya: "Sesungguhnya dia (yang pertama)
sangat miskin tidak mempunyai wang, dan Nabi menerangkan tentang yang kedua,
bahwa dia itu tidak mahu meletakkan tongkatnya dari pundaknya, yakni: dia
sering memukul perempuan."
Dan termasuk yang di kecualikan juga yaitu:
kerana bertanya, minta tolong untuk mengubah suatu kemungkaran terhadap
seseorang yang mempunyai nama, gelar atau sifat yang tidak baik tetapi dia
hanya di kenal dengan nama-nama tersebut. Misalnya: Ma’un (pincang), Amir
(rabun) dan anak si Anu.
Termasuk yang di kecualikan juga, yaitu
menerangkan cacatnya saksi dan rawi-rawi hadist.
Definisi umum tentang bentuk-bentuk pengecualian
ini ada dua:
1. kerana ada suatu kepentingan.
2. kerana suatu niat.
Kerana Suatu Kepentingan
Jadi kalau tidak ada kepentingan yang
mengharuskan membincangkan seorang yang tidak hadir dengan sesuatu yang tidak
di sukainya, maka tidak boleh memasuki daerah larangan ini. Dan jika
kepentingan itu dapat di tempuh dengan sindiran, maka tidak boleh
berterang-terangan atau menyampaikan secara terbuka. Dalam hal ini tidak boleh
memakai takhshish (pengecualian) tersebut.
Misalnya seorang yang sedang minta pendapat
apabila memungkinkan untuk mengatakan: "bagaimana pendapatmu tentang
seseorang yang berbuat begini dan begini," maka dia tidak boleh
mengatakan: "bagaimana pendapatmu tentang si Anu bin si Anu."
Semua ini dengan syarat tidak akan membincangkan
sesuatu di luar apa yang ada. Kalau tidak, berarti suatu dosa dan haram.
Kerana Suatu Niat
Adanya suatu niat di balik ini semua, merupakan
suatu pemisahan. Sebab pribadi manu sia itu sendiri yang lebih mengetahui
dorongan hatinya daripada orang lain. Maka niatlah yang dapat membedakan antara
perbuatan zalim dan mengobati, antara minta pendapat dengan menyiar-nyiarkan,
antara ghibah dengan mengoreksi dan antara nasihat dengan memasyhurkan. Sedang
seorang mu'min, seperti di katakan oleh suatu pendapat, adalah yang lebih
berhak untuk melindungi dirinya daripada raja yang kejam dan kawan yang bakhil.
Hukum Islam menetapkan, bahawa seorang pendengar
adalah rekan pengumpat. Oleh kerana itu dia harus menolong saudaranya yang di
umpat itu dan berkewajiban menjauh kannya. Seperti yang di ungkapkan oleh hadist
Rasulullah sa,w.: "Barangsiapa menjauhkan seseorang dari mengumpat diri
saudaranya, maka adalah suatu kepastian dari Allah, bahwa Allah akan
membebaskan dia dari Neraka." (Riwayat Ahmad dengan sanad hasan)
"Barangsiapa menghalang-halangi seseorang
dari mengumpat harga diri saudaranya, maka Allah akan menghalang-halangi
dirinya dari api neraka, kelak di hari kiamat." (Riwayat Tarmizi dengan
sanad hasan)
Barangsiapa tidak mempunyai keinginan ini dan
tidak mampu menghalang-halangi mulut-mulut yang suka menyerang kehormatan
saudaranya itu, maka kewajiban yang paling minim, yaitu dia harus meninggalkan
tempat tersebut dan membelokkan kaum tersebut, sehingga mereka masuk ke dalam
perbincangan lain. Kalau tidak, maka yang tepat dia dapat di kategorikan dengan
firman Allah:
“Sesungguhnya kamu, kalau demikian adalah sama
dengan mereka” (an-Nisa': 140)
Mengadu Domba
Ketujuh: Kalau ghibah dalam Islam di sebut
sebagai suatu dosa, maka ada suatu perbuatan yang lebih berat lagi, yaitu
mengadu domba (namimah). yaitu memindahkan omongan seseorang kepada orang yang
di perkatakan itu dengan suatu tujuan untuk menimbulkan permusuhan antara
sesama manusia, mengotori kejernihan pergaulan dan atau menambah keruhnya
pergaulan.
Al-Quran menurunkan ayat yang mencela perbuatan
hina ini sejak permulaan perioda Makkah.
Firman Allah:
” Dan jangan kamu tunduk kepada orang yang suka
sumpah yang hina, yang suka mencela orang, yang berjalan ke sana ke mari dengan
mengadu domba.” (al-Qalam: 10-11)
Dan sabda Rasulullah s.a.w.: "Tidak masuk
sorga orang-orang yang suka mengadu domba." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Qattat, kadang-kadang di sebut juga
nammam, yaitu seorang berkumpul bersama orang ramai yang sedang membincangkan
suatu perbincangan, kemudian dia menghasut mereka.
Dan qattat itu sendiri, yaitu seseorang yang
memperdengarkan sesuatu kepada orang ramai padahal mereka tidak mengetahuinya,
kemudian dia menghasut mereka itu.
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sejelek-jelek
hamba Allah yaitu orang-orang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba,
yang memecah-belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang
yang baik." (Riwayat Ahmad)
Islam, dalam rangka memadamkan pertengkaran dan
mendamaikan pertentangan, membolehkan kepada juru pendamai itu untuk
merahasiakan omongan tidak baik yang dia ketahui dari omongan seseorang tentang
diri orang lain. Dan boleh juga dia menambah omongan baik yang tidak di dengarnya.
Seperti yang di katakan Nabi dalam hadistnya: "Tidak termasuk dusta orang
yang mendamaikan antara dua orang, kemudian dia berkata baik atau menambah
suatu omongan baik."
Islam sangat membenci orang-orang yang suka
mendengarkan omongan jelek, kemudian cepat-cepat memindahkan omongan itu dengan
menambah-nambah untuk memperdaya atau kerana senang adanya kehancuran dan
kerusakan. Manusia semacam ini tidak mau membatasi diri sampai kepada apa yang
di dengar itu saja, sebab keinginan untuk menghancurkan itulah yang
mendorongnya menambah omongan yang mereka dengar. Dan jika mereka tidak
mendengar, mereka berdusta.
Kata seorang penyair:
Kalau mereka mendengar kebaikan, di sembunyikan
Dan kalau mendengarkan kejelekan, di siarkan
tetapi
jika tidak mendengar apa-apa, ia berdusta.
Ada seorang laki-laki masuk ke tempat Umar bin
Abdul Aziz, kemudian membincangkan tentang hal seseorang yang tidak di sukainya.
Maka berkatalah Umar kepada si laki-laki tersebut; kalau boleh kami akan
menyelidiki permasalahanmu itu. Tetapi jika kamu ber dusta, maka kamu tergolong
orang yang di sebutkan dalam ayat ini:
“Jika datang kepadamu seorang fasik dengan
membawa suatu berita, maka selidikilah.” (al-Hujurat: 6)
Dan jika kamu benar, maka kamu tergolong orang
yang di sebutkan dalam ayat: “Orang yang suka mencela, yang berjalan ke sana ke
mari dengan mengadu domba.” (al-Qalam: 11)
Tetapi kalau kamu suka, saya akan memberi
pengampunan. Maka jawab orang laki-laki tersebut: pengampunan saja ya amirul
mu'minin, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi.
Kehormatan/Harga
Diri
Kedelapan: Kita semua telah memaklumi, bagaimana
Islam dengan melalui ajaran-ajarannya telah melindungi kehormatan dan harga
diri manusia, bahkan sampai kepada bentuk mensucikannya.
Pada satu hari Ibnu Mas'ud pernah melihat
Ka'bah, kemudian dia mengatakan: "Betapa agungnya engkau dan betapa pula
agungnya kehormatanmu. Tetapi orang mu'min lebih agung kehormatannya daripada
engkau." (Riwayat Tarmizi)
Dalam haji wada', Rasulullah s.a.w, pernah
berkhutbah di hadapan khalayak kaum muslimin, di antara isi khutbahnya itu
berbunyi sebagai berikut:
"Sesungguhnya harta benda kamu,
kehormatanmu, darah kamu haram atas kamu (di lindungi), sebagaimana haramnya
harimu ini di bulanmu ini dan di negerimu ini." (Riwayat Tarmizi)
Islam melindungi kehormatan pribadi dari suatu
omongan yang tidak di sukainya untuk di sebut-sebut dalam ghibah, padahal
omongan itu cukup benar. Maka bagaimana lagi kalau omongan itu justru di buat-buat
dan tidak berpangkal? Jelas merupakan dosa besar. Seperti di tuturkan dalam
hadis Nabi: "Barangsiapa mengatakan seseorang dengan sesuatu yang tidak
ada padanya kerana hendak mencela dia, maka Allah akan tahan dia di neraka
jahanam, sehingga dia datang untuk membebaskan apa yang dia omongkan itu."
(Riwayat Thabarani)
Aisyah juga pernah meriwayatkan:
"Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah bertanya kepada para sahabatnya:
Tahukah kamu riba apakah yang teramat berat di sisi Allah? Mereka menjawab:
Allah dan RasulNya yang maha tahu. Kemudian bersabdalah Rasulullah:
Sesungguhnya riba yang teramat berat di sisi Allah, ialah: menghalalkan kehormatan
pribadi seorang muslim."
Kemudian Rasulullah s.a.w. membacakan ayat: “Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan dengan
sesuatu yang pada hakikatnya mereka tidak berbuat, maka sungguh mereka telah
memikul dusta dan dosa yang terang-terangan.” (al-Ahzab: 58)
Bentuk penodaan kehormatan yang paling berat
ialah menuduh orang-orang mu'min perempuan yang terpelihara, melakukan suatu
kemesuman. kerana tuduhan tersebut akan membawa bahaya yang besar kalau mereka
mendengarnya dan didengar pula oleh keluarga-keluarganya, serta akan berbahaya
untuk masa depan mereka. Lebih-lebih kalau hal itu didengar oleh orang-orang
yang suka menyebar luaskan kejahatan di tengah-tengah masyarakat Islam.
Justru itu Rasulullah menganggapnya sebagai
salah satu daripada dosa-dosa besar yang akan meruntuhkan. Dan al-Quran pun
mengancamnya dengan hukuman yang amat berat. Firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh
perempuan-perempuan yang bersih jujur dan beriman, mereka itu dilaknat di dunia
dan di akhirat, dan bagi mereka siksaan yang besar, iaitu pada hari di mana
lidah, tangan dan kaki mereka akan menyaksikan atas mereka tentang apa-apa yang
pernah mereka lakukan. Pada hari itu Allah akan menyempurnakan balasan mereka
dengan benar, dan mereka tahu sesungguhnya Allah, Dialah yang benar yang
nyata.” (an-Nur: 23-25)
Dan firmanNya pula: “Sesungguhnya orang-orang
yang senang untuk tersiarnya kejelekan di kalangan orang-orang mu'min, kelak
akan mendapat siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan Allah mengetahui
sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)
Kehormatan Darah
Kesembilan: Islam membersihkan kehidupan ummat
manusia dan melindungi kehormatan setiap orang serta menetapkan, bahawa
menodainya berarti suatu dosa besar di hadapan Allah, sesudah dosa kufur.
Al-Quran mengatakan sebagai berikut:
“Bahawasanya, barangsiapa membunuh suatu jiwa,
padahal dia tidak membunuh jiwa atau tidak membuat kerusuhan di permukaan bumi,
maka seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (al-Maidah: 32)
Hal ini di sebabkan jenis manusia itu seluruhnya
pada dasarnya satu usrah (satu keluarga). Jadi kalau ada permusuhan oleh
seseorang kepada orang lain, sama halnya dengan memusuhi jenis manusia itu
sendiri.
Lebih hebat lagi haramnya, apabila pihak yang
terbunuh justru orang Islam. Firman Allah:
“Barangsiapa membunuh seorang mu'min dengan
sengaja, maka balasannya neraka jahanam dengan kekal abadi di dalamnya, dan
Allah akan murka dan melaknatnya serta mempersiapkan untuknya siksaan yang
besar.” (an-Nisa': 93)
Dan Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
"Sungguh lenyapnya dunia akan lebih mudah bagi Allah ada (hilangnya dosa)
seseorang yang membunuh orang Islam." (Riwayat Muslim, Nasa'i dan Tarmizi)
Dan sabdanya juga: "Senantiasa seorang
mu'min dalam kelapangan dari agamanya selama dia tidak mengenai darah
haram." (Riwayat Bukhari)
Dan ia bersabda pula: "Setiap dosa ada
harapan Allah akan mengampuninya, kecuali seorang laki-laki yang mati dalam
keadaan syirik atau seorang laki-laki membunuh seorang mu'min dengan
sengaja." (Riwayat Abu Daud, Ibnu Hibban dan Hakim)
Terhadap ayat dan hadis-hadis tersebut, Ibnu
Abbas berpendapat, bahwa taubatnya seorang pembunuh tidak bakal di terima. Jadi
seolah-olah dia berpendapat, bahawa di antara syarat taubat tidak akan di terima
kecuali dengan mengembalikan hak-hak tersebut kepada keluarga terbunuh atau
minta kerelaannya. Sekarang bagaimana mungkin dia dapat mengembalikan hak orang
yang terbunuh itu kepadanya atau minta di relakannya?
Yang lain berpendapat: bahawa taubat yang ikhlas
itu dapat di terima dan menghapus kan syirik, apalagi dosa di bawah syirik?
Firman
Allah:
“Dan
orang-orang yang tidak menyembah Tuhan lain bersama Allah, dan tidak membunuh
jiwa yang di haramkan Allah kecuali kerana hak dan tidak berzina. Barangsiapa
berbuat demikian, maka dia akan menjumpai dosanya yang di lipat-gandakan
baginya siksaan kelak di hari kiamat dan akan kekal dalam siksaan itu dengan
keadaan hina, kecuali orang yang taubat dan beriman dan beramal saleh, maka
mereka itu akan di ganti oleh Allah kejelekan-kejelekannya dengan
kebaikan-kebaikan, dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Belas-kasih.”
(al-Furqan: 68-70)
Allohu a'lam bishawab
Insya'Alloh bermanfa'at

No comments:
Post a Comment