5 KIAT MENGATASI
KEGUNDAHAN HIDUP
Ustadz Abu Abdillah
Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله
Disalin dari Majalah
Al-Furqon No.145 Ed.9 Th.ke-13_1435H/ 2014M
Download > 700
eBook Islam di
www.ibnumajjah.com
www.ibnumajjah.com
MUQODDIMAH
Sebagian orang, ada yang merasa kehidupannya
selalu diselimuti dengan perasaan galau, gundah, dan tidak tenang. Perasaan ini
seringkali muncul ketika problem kehidupan meningkat sedangkan imannya melemah.
KETAHUILAH, ketaatan kepada Allah عزّوجلّ di yang diwujudkan dengan amal shalih adalah cara
terbaik dalam meraih kebahagiaan, ketenangan, dan pengusir rasa gundah.
Tidaklah kebaikan dunia terwujud kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Allah عزّوجلّ berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang
mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka se-sungguhnya akan Kami beri-kan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya
akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl [16]: 97)
Fudhail ibn Iyadh رحمه
الله berkata, "Sungguh
ketika aku berbuat maksiat kepada Allah maka aku ketahui pengaruhnya pada akhlak
keledaiku dan penjagaku."[1]
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه
الله mengatakan, "Sungguh dalil nash, akal, fitrah, dan bukti
nyata telah menunjukkan bahwa mendekatkan diri kepada Allah Rabb semesta alam
dan men-cari ridha-Nya serta berbuat baik kepada manusia adalah sebab terbesar
untuk mendatangkan segala kebaikan, dan perkara yang menjadi lawannya adalah
sebab terbesar datangnya segala kejelekan."[2]
INILAH KIAT-KIATNYA
Berikut ini sebagian kecil dari cara dan kiat
agar hidup kita tenang dan tidak galau sepanjang hari. Di antaranya:
Pertama: Membaca al-Qur'an
dengan Tadabur
Hikmah diturunkannya al-Qur'an
agar manusia dapat merenungi ayat-ayatnya serta mengambil pelajaran darinya.
Allah رحمه الله berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab
yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan
ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS
Shad [38]: 29)
Allah mencela orang-orang yang enggan
memperhatikan al-Qur'an, dalam firman-Nya:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan
al-Qur'an ataukah hati mereka yang terkunci? (QS Muhammad [47]: 24)
Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin رحمه الله
berkata, "Dalam ayat ini, Allah mencela orang-orang yang tidak menghayati
al-Qur'an, dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk terkuncinya hati mereka
dan tercegahnya kebaikan pada mereka."[3]
Ketahuilah, al-Qur'an adalah petunjuk
kebaikan bagi kehidupan manusia. Jika kita menginginkan hati yang terang,
bening sebening kaca, dan jiwa yang bersih maka jangan mencari obat ke
mana-mana. Al-Qur'an adalah solusinya. Allah عزّوجلّ berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ
الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya al-Qur'an
ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar
gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar. (QS al-Isra' [17]: 9)
Ketenteraman adalah dengan membaca al-Qur'an,
merenungi maknanya, bukan dengan mendengarkan lagu-lagu dan semisalnya. Perhatikan
firman Allah عزّوجلّ berikut ini:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ
أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Yaitu orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS al-Ra'd [13]: 28)
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله mengatakan,
"Hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan keyakinan. Tidak ada jalan
untuk menggapai iman dan keyakinan kecuali dengan al-Qur'an. Karena tenang dan
tenteramnya hati termasuk keyakinannya terhadap al-Qur'an. Dan guncangnya hati
pertanda keraguannya. Dengan al-Qur'an dapat tergapai keyakinan dan tertolak
keraguan, sangkaan, dan kebimbangan. Maka tidak akan tenang hati seorang muslim
kecuali dengan al-Qur'an."[4]
Maka mulai detik ini, renungi dan pahamilah
al-Qur'an, kaji lebih dalam lagi jangan engkau berpaling darinya, karena Allah عزّوجلّ
berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Dan barangsiapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS
Thaha [20]: 124)
Kedua: Shalat Tahajud
Shalat Tahajud adalah shalat
yang dikerjakan pada malam hari setelah sebelumnya tidur terlebih dahulu.[5]
Al-Imam as-Safarini رحمه
الله mengatakan, "Orang
yang shalat Tahajud adalah orang yang shalat di waktu malam. Para ulama kita
mengatakan, 'Shalat Tahajud itu tidak dikerjakan kecuali setelah tidur terlebih
dahulu. Sedangkan shalat malam lebih umum, waktunya sejak tenggelamnya matahari
dan terbitnya fajar. la adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan.'"[6]
Allah عزّوجلّ sering memuji para
hamba yang shalih karena mereka mengerjakan shalat Malam dan Tahajud.
Allah عزّوجلّ berfirman:
كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ . وَبِالأسْحَارِ
هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.
Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. (QS adz-Dzariyat
[51]: 17-18)
Sahabat yang mulia Ibn Abbas رضي الله عنهما
mengatakan, "Waktu malam tidak berlalu begitu saja bagi mereka, melainkan
mereka selalu mengerjakan shalat Malam walaupun hanya sedikit."[7]
Allah عزّوجلّ juga memuji orang
yang mengerjakan shalat Malam dalam firman-Nya:
تَتَجَافَى
جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ . فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً
بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan
mereka selalu berdo'a kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka
menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai
nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa
yang mereka kerjakan. (QS as-Sajdah [32]: 16-17)
Al-Imam Ibn Katsir رحمه
الله berkata, "Yaitu
mereka mengerjakan shalat malam, meninggalkan tidur, dan meninggalkan berbaring
di atas kasur yang empuk."[8]
Anas ibn Malik رضي
الله عنه berkata, "Sungguh seorang tidak dapat mengerjakan shalat
Malam dan puasa di siang hari karena sebab berbohong yang dia kerjakan."[9]
Ketahuilah, shalat malam
yang dikerjakan dengan khusyuk, menyendiri, dan memaknai kandungan bacaan
al-Qur'an dan do'a yang dibaca akan membawa ketenangan hati, perasaan tenteram,
dan jiwa yang baik. Permasalahan dunia yang sulit akan terasa
ringan jika kita mengerjakan shalat. Karena shalat adalah penghibur dan penyejuk
hati. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَا
بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَابِهَا
"Bangkitlah,
hai Bilal, hiburlah kami dengan shalat."[10]
Bahkan, Nabi صلى
الله عليه وسلم setiap kali
dirundung masalah, beliau melaksanakan shalat. Sahabat yang mulia Hudzaifah رضي الله عنه
berkata:
كَانَ
النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلى
"Adalah
Nabi صلى الله عليه وسلم apabila dirundung masalah maka beliau mengerjakan shalat."[11]
Hal itu tiada lain karena shalat adalah
komunikasi antara hamba dengan Rabbnya. Berdiri di hadapan Allah dengan shalat
memiliki pengaruh kuat dalam memperbaiki jiwa orang yang shalat bahkan seluruh
manusia. Karena, shalat adalah penyejuk mata. Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda:
جُعِلَ
قُرَّةُ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلاَةِ
"Telah
dijadikan kesejukan mataku di dalam shalat."[12]
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله berkata,
"Ketahuilah, tidak ada keraguan bahwa shalat adalah penyejuk mata
orang-orang yang tercinta, kelezatan jiwa-jiwa orang yang bertauhid, tamannya
orang-orang yang beribadah, kelezatan hati orang yang khusyuk. la adalah rahmat
Allah yang dihadiahkan kepada hamba-Nya yang beriman."[13]
Beliau juga berkata, "Sesungguhnya shalat
itu bisa menghapus kejelekan bagi orang yang menunaikan hak-hak shalat, dia
menyempurnakan kekhusyukan shalat. Dia berdiri di hadapan Allah dengan hati
yang hadir dan berpikir. Orang yang semacam ini jika selesai shalat akan
menjumpai keringanan dalam shalat, menjumpai semangat dan kelapangan hati
setelah shalat."[14]
Ketiga: Berteman dengan Teman yang Shalih
Allah memerintahkan kepada kita untuk
bersama-sama orang yang baik dan shalih. Allah عزّوجلّ berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah
kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS at-Taubah
[9]: 119)
Allah عزّوجلّ juga berfirman:
الأَخِلاءُ
يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya
menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang ber-taqwa. (QS
az-Zukhruf [43]: 67)
Teman punya pengaruh yang sangat kuat dalam
membentuk kepribadian, sifat dalam diri seorang muslim. Sebab itu, tidak
mengherankan bila Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah memberikan peringatan sejak
jauh-jauh hari agar berteman dengan teman yang baik dan menjauhi teman yang
jelek. Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّمَا
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ
الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ
وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ
ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
"Permisalan teman yang shalih dan teman
yang jelek, bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak
wangi, bisa jadi dia akan memberikan minyak wanginya, atau engkau membeli
darinya atau engkau mendapatkan wanginya. Adapun pandai besi, dia bisa membakar
bajumu atau engkau mendapati baunya yang tidak enak."[15]
Al-Imam Ibn al-Mubarak رحمه
الله mengatakan, "Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak
meremehkan tiga golongan: ulama, para pemimpin, dan teman-teman. Karena,
sesungguhnya orang yang meremehkan ulama akan hilang akhiratnya, barangsiapa
yang meremehkan pemimpin akan hilang dunianya, dan barangsiapa yang meremehkan
teman-teman maka akan hilang wibawa dan kehormatannya."[16]
Keempat: P u a s a
Puasa akan menjernihkan hati dan pikiran. Ini
termasuk hikmah yang jarang diketahui manusia. Dengan meninggalkan berbagai
kenikmatan dan keinginan jiwa ketika berpuasa, akan membuat pikiran dan hati
menjadi jernih dan bersih. Hati dan pikirannya akan terpusat untuk dzikir dan
beribadah. Karena, banyak makan dan minum akan membuat hati menjadi lalai dan
sibuk, bahkan tidak mustahil membuat hati menjadi keras dan gersang.
Ibrahim ibn Adham berkata, "Barangsiapa
yang mampu menahan perutnya, maka dia akan mampu menjaga agamanya. Barangsiapa
yang dapat menguasai rasa lapar, dia akan meraih akhlak yang mulia. Karena, maksiat
kepada Allah sangat jauh bagi orang yang lapar dan sangat dekat bagi yang
kenyang. Kenyang itu dapat mematikan hati, karena kenyang dia akan banyak
senang, gembira, dan tertawa."[17]
Puasa yang hakiki adalah
puasa yang mencegah pelakunya dari perbuatan maksiat, mencegah akal sehat dari kungkungan
hawa nafsu. Jika semua ini dilakukan, maka sangat dipastikan orang
yang berpuasa hidupnya akan tenang, tidak gundah gulana, karena kemaksiatan
tidak membawa pelakunya kecuali kebingungan, keterikatan hati dan lain sebagainya.
Al-Hafizh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata, "Orang berpuasa yang sebenarnya adalah orang yang
menahan anggota badannya dari segala dosa, lisannya dari dusta, perutnya dari
makanan, minuman, dan farjinya dari jimak. Bila berbicara, dia tidak mengeluarkan perkataan yang menodai
puasanya. Jika berbuat, dia tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya.
Sehingga ucapannya yang keluar adalah bermanfaat dan balk. Demikian pula amal
perbuatannya, ibarat wewangian yang dicium baunya oleh kawan duduknya. Seperti
itu juga orang yang puasa, kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman
dari kedustaan, kemaksiatan, dan kezalimannya. Inilah hakikat puasa sebenarnya,
bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan minuman."[18]
Ibn al-Jauzi رحمه الله berkata, "Ketahuilah wahai
saudaraku dan orang yang mau menerima nasihatku, bahwasanya dosa itu punya
pengaruh yang jelek, rasa pahitnya melebihi rasa manisnya dengan
berlipat-lipat."[19]
Puasa Ramadhan termasuk salah satu rukun
Islam. Secara umum, tujuan disyari'atkannya puasa adalah agar seseorang menjadi
hamba yang bertaqwa. Allah عزّوجلّ
menegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertaqwa. (QS al-Baqarah [2]: 183)
Kelima: Dzikrullah
Dzikir bagi hati ibarat
air bagi ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan jika dipisahkan dari air?[20]
Dzikir dapat
membersihkan jiwa dari kelalaian dan kealpaan, obat dari
kerasnya hati. Suatu ketika, ada yang mengadu kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri
رحمه الله, "Wahai Abu Sa'id, hatiku keras, bagaimana obatnya?"
Beliau menjawab, "Obatilah dengan berdzikir!"[21]
Pada kesempatan yang
lain, al-Imam al-Hasan al-Bashri رحمه الله pernah mengatakan, "Carilah
kelezatan dalam tiga perkara: di dalam shalat, dzikir, dan membaca al-Qur'an. Jika
kalian mendapati ... Jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu kelezatan telah
tertutup."[22]
Allah Ta'ala berfirman:
أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenang. (QS ar-Ra'du [13]: 28)
Berkata asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa'di رحمه الله, "Selayaknya dan sudah menjadi keharusan bahwa hati tidak
akan tenang kecuali hanya dengan dzikir. Tidak ada yang lebih lezat lagi manis
bagi hati daripada kecintaan dan ma'rifat kepada penciptanya. Maka, sesuai
dengan kadar kecintaan dan ma'rifatnya, ia akan selalu ingat kepada Allah, ini
menurut pendapat yang mengatakan bahwa dzikrullah adalah dzikirnya seorang
hamba kepada Rabbnya berupa tasbih, tahlil, takbir, dan sebagainya."[23]
TANDA KEBAIKAN MANUSIA ADALAH
DENGAN MENGERJAKAN KETAATAN
DENGAN MENGERJAKAN KETAATAN
Islam telah memberikan patokan bahwa tanda
kebaikan seseorang adalah dengan baiknya hati. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ
الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah
bahwasanya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka
baik pula seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh
jasadnya, ketahuilah ia adalah hati."[24]
Allah tidak melihat rupa, fisik, dan wajah
manusia. Yang Allah nilai adalah hati seseorang dan amalannya. Inilah tolok
ukur yang jelas dan pasti, baiknya seseorang
dengan mengerjakan ketaatan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ
وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa
dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amalan kalian."[25]
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله mengatakan, "Maha Suci Allah
Rabb semesta alam, meninggalkan dosa dan maksiat akan membawa manfaat, menjaga
wibawa, menjaga kehormatan, menjaga harta, dicintai manusia, hidup yang enak,
badan yang lapang, penyejuk hati, jiwa terasa tenteram, dada yang tidak sempit,
aman dari gangguan orang-orang fasik, tidak banyak bersedih, jiwa jadi mulia,
menjaga hati tetap berkilau dari noda maksiat, dimudahkan rezekinya dari jalan
yang tak disangka-sangka, dimudahkan dalam segala perkara, dimudahkan dalam
melaksanakan ketaatan.. ,"[26]
Maka hati dan jiwa tidak akan merasakan
tenang dan tenteram, hidup tidak akan terasa indah dan nyaman, kecuali dengan
ketaatan kepada Allah Rabb semesta alam. Adapun jalan-jalan selain itu, seperti
minum obat tenang, konsumsi yang haram berupa narkoba dan selainnya adalah
jalan setan yang akan membuat diri semakin gelisah, tidak tenang, dan hidup
tidak akan indah. Allahu al-Musta'an.
MUTIARA HIKMAH AS-SALAF
ASH SHALIH
1.
Al-Imam
Ibn al-Mubarak رحمه
الله mengatakan, "Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati,
membinasakannya dan menyebabkan kehinaan. Meninggalkannya adalah kehidupan bagi
hati, selalu menjauhinya adalah terbaik bagimu."[27]
2.
Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata, "Obatilah hatimu, karena kebutuhan Allah kepada
hamba-Nya terletak pada baiknya hati."[28]
3.
Ada seorang yang berkata kepada al-Hasan
al-Bashri, "Wahai Abu Sa'id, aku tidur malam dalam keadaan sehat, aku
ingin sekali shalat malam, tetapi mengapa aku tidak bisa bangun?" Al-Hasan
al-Bashri رحمه الله menjawab, "Dosamu yang telah mengikatmu."[29]
4.
Wahab ibn Munabbih رحمه الله mengatakan, "Tidak ada yang paling dicintai oleh setan dari anak Adam
melainkan orang yang banyak tidur dan makan."[30]
5.
Al-Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله berkata, "Pokok bagusnya jiwa adalah dengan menyibukkan diri dalam
perkara yang bermanfaat. Dan hancurnya jiwa adalah dengan tenggelam dalam perkara
yang tidak bermanfaat."[31]
Allahu A'lam.
[1] Al-Hilyah 8/109
[2] Ibn al-Qayyim, al-Jawab al-Kafi, hlm.
9.
[3] Ushulfi Tafsir hlm. 25.
[4] Madarij as-Salikin 2/535
[5] Lisan al-'Arab 3/432 Ibn al-Manzhur, al-Qamus
hlm. 418 Fairuz Abadi
[6] Ghidza' al-Albab 2/389 as-Safarini
[7] Tafsir ath-Thabari 13/197
[8] Tafsir Ibn Katsir 6/363
[9] Syu'ab al-Iman 4/4890
[10] HR Abu Dawud: 4986, Ahmad 5/371. Dinilai
shahih oleh al-Albani dalam al-Misykah: 1253.
[11] HR Abu Dawud: 1319, Ahmad 5/388. Hadits ini
dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud: 1319
[12] HR an-Nasa'i: 3949, Ahmad 4/330, al-Hakim
2/160. Dinilai hasan oleh Ibn Hajar dalam at-Talkhish 3/133. Lihat
takhrij lengkapnya dalam ash-Shahihah: 1809 oleh al-Albani.
[13] Asrar ash-Shalat hlm. 55-56 Ibn
al-Qayyim, Dar Ibn Hazm.
[14] Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 46 Ibn
al-Qayyim.
[15] HR al-Bukhari: 2101, Muslim: 2628
[16] Siyar A'lam an-Nubala' 17/251
[17] Jami' al-'Ulum wa al-Hikam 2/473 Ibn
Rajab. Lihat pula Min Akhbar as-Salaf hlm. 116 Zakariya ibn Ghulam Qadir
al-Bakistani.
[18] Al-Wabil ash-Shayyib wa Rafi' al-Kalim
ath-Thayyib hlm. 57 Ibn al-Qayyim. Lihat pula Nadhratu an-Na'im
7/2646 Isyraf: Shalih ibn Abdullah al-Humaid, Makalah Akhuna al-Ustadz Abu
Ubaidah Yusuf as-Sidawi "10 Faedah Seputar Ramadhan" yang dimuat
dalam Majalah Al Furqon Edisi Khusus Ramadhan 1427 H.
[19] Shaid al-Khathir hlm. 223.
[20] Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 93.
[21] Tazkiyah an-Nufus hlm. 46.
[22] Madarij as-Salikin 2/441
[23] Taisir Karim ar-Rahman hlm. 372.
[24] HR al-Bukhari: 52, Muslim: 1599
[25] HR Muslim: 2564
[26] al-Faiwa'id hlm.151-152.
[27] Tazkiyah an-Nafs hlm. 33 Ahmad Farid.
[28] Hilyah al-Auliya' 2/157, lihat Ma'alim
fi Suluk wa Tazkiyah Nufus hlm. 70.
[29] Ihya' 'Ulumuddin 1/313.
[30] Az-Zuhd hlm. 373 Ahmad ibn Hanbal.
[31] Al-Fawa'id hlm. 177.

No comments:
Post a Comment