SELAMAT DATANG-WELCOME-AHLAN WA SAHLAN>>> TERIMA KASIH KUNJUNGANYA-THANKS FOR JOIN

View Entri




UNTUK YANG LAGI GALAU >>> Jangan Lupa * tAKe & GivE*

Friday, 27 June 2014

BEKAL RAMADHAN

BEKAL
RAMADHAN
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu رحمه الله




Biografi Penulis
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu lahir di kota Halb, Suria pada tahun 1344 H atau tahun 1920 M. Sejak kecil beliau sudah senang mempelajari ilmu-ilmu agama. Hafal Al-Qur'an di usia belasan tahun. Setelah hafal Al-Qur'an beliau mempelajari tafsir, fikih Hanafi, nahwu dan sharaf, sejarah Islam, hadits, dan ilmu-ilmu lain seperti fisika, kimia, matematika, bahasa Perancis dan lain-lain di Al Kulliyah Asy Syar'iyah At Tajhiziyah.
Seperti kebanyakan orang Islam di negerinya, beliau hanya mengetahui tauhid rububiyah. Satu jenis tauhid yang diyakini oleh orang-orang musyrik yang diperangi Nabi. Allah berfirman:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka.' Niscaya mereka menjawab, 'Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)." (QS. Az Zukhruf: 87)"
Bahkan juga diyakini oleh setan laknatullah 'alaihi. Dalam Al Qur 'an disebutkan:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ
"Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat. pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi’'' (QS. Al Hijr: 39)
Sedangkan tauhid uluhiyah dan asma wa sifat sama sekali merupakan sesuatu yang asing bagi kebanyakan orang saat itu. Bahkan lebih parah lagi para guru di sekolah-sekolah sering menakwilkan ayat-ayat sifat.
Pada tahun 1948 beliau menyelesaikan studi-nya dan memperoleh ijazah dari madrasah. Tahun itu juga diterima pada program pengutusan pengajar yang diadakan Al Azhar tetapi beliau tidak mengikutinya karena alasan kesehatan. Setelah tidak jadi mengikuti program tadi beliau mengajar di Darul Mu'allim selama kurang lebih 29 tahun.
Setelah itu beliau meninggalkan kegiatan mengajar.
Ketika melaksanakan umrah pada tahun 1399, beliau berkenalan dengan Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz رحمه الله. Dari perkenalan itu beliau ditunjuk oleh Syaih bin Baz untuk mengajar di Masjidil Haram selama musim haji. Tugas mengajar ini tidak hanya sampai di sini. Setelah musim haji berakhir, Syaikh mengirim beliau ke Yordania dan tinggal di kota Ramtsa tepatnya di Universitas Shalahuddin. Di sini beliau merangkap sebagai imam, khatib, dan guru al-Qur'an.
Bulan Ramadhan tahun 1400 H, beliau diminta oleh salah seorang pelajar dari Darul Hadits Khairiyah Mekkah untuk mengajar di sekolah tersebut karena mereka sedang membutuhkan tenaga pengajar, terutama untuk ilmu hadits. Setelah menghubungi kepala sekolah dan juga atas tazkiyah yang diberikan oleh Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz رحمه الله, beliau mengajar di sekolah tersebut dengan materi tafsir, tauhid, Al Qur'an, dan pelajaran-pelajaran lain.
Di sekolah inilah, berkat taufik dan pertolongan dari Allah, beliau mulai menulis risalah-risalah kecil yang ringkas. Alhamdulillah mendapat sambutan hangat dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, antaranya bahasa Inggris, Perancis, Benggali, Indonesia, Turki, Urdu, dan lain-lain. Risalah-risalah yang berjumlah kurang lebih 20 buah ini beliau kumpulkan lalu diberi judul judul Silsilah At Taujihat Al Islamiyah. Beberapa di antaranya telah dicetak sampai ribuan eksemplar. Ada juga yang dibagi cuma-cuma.
Semoga risalah-risalah ini bermanfaat dan amalan beliau dicatat sebagai amalan yang ikhlas.
Beliau wafat pada hari Jum'at 29 Syawal 1431 H dan disholatkan di Masjidil Haram Makkah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni beliau, amin...
________________
Sumber:
1.    Ash-Shufiyyah fi Mizan Al-Kitab wa Sunnah, edisi Indonesia SUFI menurut Al-Qur’an dan Sunnah oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Terbitan Media Hidayah, hal 98-101
2.    Berita wafat beliau di http://alfirqatunnajiyyah.blogspot.com/

SEKAPUR SIRIH

Sesungguhnya, bulan Ramadhan adalah bulan mulia lagi berbarakah yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Namun, sudahkah kaum muslimin mempersiapkan dirinya di dalam menyambut tamu yang agung ini? Sungguh, tidak mempersiapkan diri di dalam menyambut tamu yang agung ini adalah suatu kerugian dan ketidakhormatan.
Oleh karena itulah, di dalamnya menyambut bulan yang mulia ini, kami mempersembahkan kepada kaum muslimin, sebuah terjemahan buku kecil yang sangat sederhana ini, sebagai bekal-bekal dan panduan singkat di dalam menghadapi bulan Ramadhan.
Semoga apa yang kami lakukan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi bekal bagi penterjemah di dalam menghadapi hari, dimana harta dan anak-anak tidaklah befaidah sedikitpun, kecuali hati yang selamat. Semoga Alloh membalas penulis risalah ini, Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dengan pahala yang berlimpah, atas jerih payahnya di dalam menyebarkan dakwah dan ilmu. 
 Amien

MUQODDIMAH

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله
Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh yang kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, kami memohon perlindungan Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh tak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang dileluasakan kesesatan atasnya tak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak untuk disembah kecualli Alloh semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma Badu : sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu rukun Islam, yang tampak di dalam keikhlasan, ihsan dan amanah, dan hal ini dicapai ketika seorang yang berpuasa menahan dari makan, minum dan perkara yang dapat membatalkannya sedangkan ia tidak menahan diri dari perkara ini melainkan karena muroqobatullah (merasa diawasi Alloh Taala) dan ru`yah (penglihatan) Alloh kepadanya.
Saya telah memaparkan di dalam buku ini tentang keutamaan puasa, adab-adab dan hukum-hukumnya, pembatal-pembatal puasa, sholat malam di dalamnya, lailatul qodar dan keutamaannya. Saya juga memaparkan tentang Itikaf, zakat fithri, sholat ied dan selainnya dari perkara-perkara yang penting.
Hanya kepada Allohlah saya memohon supaya menjadikan tulisanku ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadikan perbuatanku ini ikhlas hanya mengharap wajah Alloh yang mulia semata.
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu 


AYAT TENTANG PUASA


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Baqoroh : 183-185)

Faidah Ayat

1.   Alloh mewajibkan puasa terhadap kaum mukminin sebagaimana Alloh wajibkan atas orang-orang sebelum mereka yang mana di dalam puasa ini terdapat faidah-faidah bagi dunia dan akhirat.
2.   Diperolehnya tingkatan takwa kepada Alloh Azza wa Jalla di dalam puasa.
3.   Puasa itu hari-harinya spesifik tertentu, namun tidaklah lebih dari tiga puluh hari.
4.   Orang yang sakit dan musafir, diperbolehkan berbuka pada bulan Ramadhan dan wajib atas mereka menggantinya (qodho).
5.   Dahulu, ada pilihan antara berbuka di bulan ramadhan dan membayar fidyah atau berpuasa, kemudian hukumnya dimansukh (dihapus) dan berpuasa di bulan Ramadhan menjadi wajib hukumnya.
6.   Keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan Al-Qur`an yang Alloh turunkan di dalamnya. Perlu diketahui bahwa yang namanya inzal (menurunkan Al-Qur`an) itu pastilah dari atas ke bawah, oleh karena itulah inzal ini menunjukkan atas ketinggian Alloh di atas arsy-Nya sebagaimana ditegaskan tentangnya ayat-ayat dan hadits-hadits nabi yang shahih (autentik).
7.   Wajibnya berpuasa atas mukallaf (orang yang mendapatkan beban kewajiban) yang mendapati bulan Ramadhan.
8.   Syariat Alloh yang samhah (toleran/lapang) dan mudah, jauh dari kesukaran dan kesulitan.
9.   Mengagungkan Alloh dengan bertakbir pada hari ied dan ucapan syukur atas nikmat-nikmat Alloh.

PUASA TERMASUK RUKUN ISLAM

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun atas lima hal :
1.    Syahadat (persaksian) Laa ilaaha illalloh
[لا معبودا بحق إلا الله : tiada sesembahan yang hak kecuali Alloh] dan Muhammad Rasulullah [Muhammad yang Alloh mengutus beliau untuk menyampaikan agama-Nya dan wajib mentaati beliau di dalam semua yang beliau sampaikan dari Alloh.]

2.    Menegakkan Sholat
[menunaikan pada waktunya dengan memenuhi rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya dengan tenang dan khusyu’.]

3.    Menunaikan Zakat
[Apabila seorang muslim memiliki sekurang-kurangnya 85 gram emas atau uang yang senilai dengannya, maka ia harus membayarkan zakatnya sebesar 2,5 persen setelah satu tahun. Adapun selain uang maka ada ukurannya tersendiri.]

4.    Pergi haji ke Baitullah
[bagi orang yang memiliki kemampuan, yaitu orang yang memiliki biaya perjalanan pulang pergi beserta nafaqoh-nya sedangkan ia tidak memiliki hutang.]

5.    Berpuasa Ramadhan
[yaitu menahan diri dari makan, minum, jima’ (berkumpul dengan isteri) dan setiap hal yang dapat membatalkan puasa dari fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala.] (Muttafaq ‘alaihi)

PUASA RAMADHAN DAN HUKUMNYA

1.    Definisi puasa: ialah menahan diri dari makan, minum, jima’ dan seluruh hal yang dapat membatalkannya dengan niat beribadah kepada Alloh Ta’ala dari semenjak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
2.    Hukumnya: wajib atas setiap muslim yang telah baligh (dewasa), berakal, mampu melaksanakannya dan muqim (menetap). Wajib pula bagi wanita apabila telah suci dari haidh (menstruasi) dan nifas (darah pasca bersalin).
3.    Ramadhan ditetapkan dengan melihat hilal (bulan sabit muda) atau menyempurnakan Sya’ban sebanyak 30 hari [apabila terhalang melihat hilal, pent.].
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَان ثَلَاثِينَ يَوْمًا
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Apabila (penglihatan) kalian terhalang maka sempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari.” (Muttafaq ‘alaihi)
4.    Hukum Niat: wajib berniat untuk puasa ramadhan dan bagi orang yang berpuasa cukuplah baginya meniatkan di dalam hatinya. Tidak ada dalilnya melafazhkan niat baik ketika puasa ataupun sholat. Barangsiapa yang bersahur sebelum fajar maka ia telah berniat dan barangsiapa yang menahan dari makan, minum dan pembatal puasa di tengah hari dengan ikhlas kepada Alloh, maka ia telah berniat walaupun ia tidak bersahur. [Lihat Fiqhus Sunnah].

KEUTAMAAN RAMADHAN DAN PUASA

1.    Alloh Ta’ala berfirman :
شَهْرُ مَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ
“Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`an” (QS Al-Baqoroh : 185).
2.    Alloh Ta’ala berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya kami menurunkannya di malam lailatul qodar.” (QS Al-Qodar : 1).
3.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَمَاءِ وَأُغْلِقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمِ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْن
“Apabila Ramadhan telah masuk, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup serta syaithan-syaithan dibelenggu.”
Di dalam riwayat lain :
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ
“Apabila Ramadhan telah datang, pintu-pintu surga dibuka”.
Di dalam riwayat lain :
فُتِحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ
“pintu rahmat dibuka”. (Muttafaq ’alaihi)
4.    Di dalam hadits riwayat Turmudzi :
وَيُنَادِي مُنَاٍد : يَا بَاغِيَ الخَيْرِ هَلُمَّ وأَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِ أَقْصِرْ وِلْلَّهِ عتقاءُ مِنَ النَّارِ وَ ذلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ حَتَّى يَنْقَضِيَ رَمَضَان
“Berseru seorang penyeru, wahai orang yang menghendaki kebaikan lakukan dan laksanakanlah, wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah. Dan Alloh memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka dan hal ini terjadi setiap malam sampai berakhirnya Ramadhan.” (dihasankan oleh al-Albani).
5.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلى مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amal bani Adam dilipatgandakan, kebaikan diganjar sepuluh kali lipat yang sepadan dengannya hingga sampai seratus kali lipat, bahkan hingga sampai kepada apa yang Alloh kehendaki. Alloh Azza wa Jalla berfirman : kecuali puasa, karena se-sungguhnya puasa itu untukku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makannya hanya karena Aku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu adalah lebih harum di sisi Alloh dibandingkan harumnya kesturi.” (muttafaq ’alaihi).
6.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan ar-Royyan. Orang-orang yang berpuasa masuk darinya pada hari kiamat, dan tidak ada seorangpun selain mereka yang dapat memasukinya. Apabila mereka (orang-orang yang berpuasa, pent.) telah memasukinya pintu tersebut ditutup, dan tidak ada lagi seorangpun yang dapat memasukinya.” (Muttafaq ’alaihi).
7.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan ihtisab (mengharap balasan dari Alloh) maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaq ’alaihi).
8.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
وَالصَّلوَاتُ الخَمْسُ وَالجُمْعَةُ إِلى الجُمْعَةِ وَرَمَضَان إِلى رَمَضَانِ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَتْ الكَبَائِرُ
“...antara sholat lima waktu, antara Jum’at yang satu ke Jum’at yang lain dan antara Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang lain, terdapat kafarat (penghapus dosa) diantaranya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).
9.    Dari Abi Umamah beliau berkata : Aku mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan aku berkata :
مُرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ
“Tunjukkan padaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga.”
Beliau menjawab :
عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ
“berpuasalah karena tidak ada yang sepadan dengannya.”
Kemudian aku mendatangi beliau kedua kalinya, beliau tetap berkata :
عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ
“Berpuasalah”. (Shahih, HR. Ahmad).
10. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Alloh, melainkan Alloh jauhkan pada hari itu wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh kharif (jarak perjalanan).” (HR. Muslim).
11. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيه
“Puasa dan Al-Qur`an memberikan syafa’at bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : Wahai Rabb, sesungguhnya aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka berilah dia syafa’at karenaku.” (Shahih, HR. Ahmad dan selainnya).

KEWAJIBAN ANDA DI BULAN RAMADHAN
 Ketahuilah wahai saudaraku se-Islam, bahwa Alloh mewajibkan atas kita berpuasa sebagai ibadah bagi-Nya, dan agar puasa anda menjadi sempurna dan bermanfaat, maka lakukanlah hal-hal berikut ini :
1.    Jagalah sholat anda. Diantara orang-orang yang berpuasa ada orang yang menelantarkan sholat padahal sholat merupakan tiangnya agama dan meninggalkannya termasuk kekufuran.
2.    Jagalah puasa Ramadhan. Latihlah anak-anak anda untuk berpuasa kapan saja mereka mampu dan berhati-hatilah dari berbuka (membatalkan puasa) di bulan Ramadhan tanpa ada udzur.
Nabi صلى الله عليه وسلم pernah melihat di dalam mimpinya sebuah kaum  :
مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيْبِهِمْ، مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ، تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا. قُلْتُ: مَا هَؤلاء قَالَ: هَؤلاء الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ
Yang digantung terbalik dengan kepada di bawah, mulut-mulut mereka robek dan dari mulut mereka darah bercucuran. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata : ”Siapakah mereka ini?” (Malaikat) menjawab : ”mereka adalah orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka.” [Sebelum halal puasa mereka yaitu sebelum waktu berbuka]. (Dishahihkah al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi).
Barangsiapa yang membatalkan puasanya sehari dengan sengaja maka wajib atasnya menggantinya dan bertaubat.
3.    Berhati-hatilah dari berbuka puasa di hadapan manusia, sebagai implementasi sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافىً إِلاَّ المُجاَهِرِيْنَ
“Seluruh umatku terampuni kecuali mujahir (orang yang menampakkan kemaksiatan).” (Muttafaq ’alaihi).
Ath-Thibi berkata: ”Setiap umatku diampuni dari ghibah kecuali orang-orang yang menampakkan (dosa). Membatalkan puasa adalah suatu keberanian atas Alloh, meremehkan Islam dan kelancangan terhadap manusia. Ketahuilah barangsiapa yang tidak berpuasa maka tidak ada ied atasnya, karena ied itu adalah suatu kegembiraan besar dengan menyempurnakan puasa dan diterimanya ibadah.”
4.    Jadilah orang yang berakhlak baik, jauhilah kekufuran dan mencela agama serta mu`amalah yang buruk terhadap manusia, berhujjah dengan puasa anda. Puasa itu mendidik jiwa dan tidak memperburuk akhlak. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengumpat (yarfuts) dan jangan pula membentak-bentak (yaskhob). Apabila ada seorang yang mencela atau menganiayanya, maka katakanlah : sesungguhnya aku seorang yang sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaihi).
[mengumpat : mengucapkan kata kotor, membentak : mengangkat suara].
5.    Menjaga lisan dari ghibah (menggunjing), berdusta dan selainnya. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَعَمِلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةً فِى أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta atau melakukan kedustaan, maka Alloh tidak butuh akan (puasanya yang) meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)
Dan sabda beliau :
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَمِهِ إِلاَّ الظَّمَأ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidaklah mendapatkan dari puasanya melainkan hanya dahaga.” [Shahih, HR ad-Darimi].
6.    Bacalah risalah seputar masalah puasa dan selainnya, supaya anda dapat mengetahui hukum-hukum seputar puasa sehingga anda dapat mengetahui bahwa makan dan minum karena lupa tidaklah membatalkan puasa, jinabah (berkumpul dengan isteri atau mimpi) pada malam hari tidaklah mencegah puasa, walaupun yang wajib adalah menghilangkan junub-nya untuk berthoharoh dan sholat.

SUNNAH DAN ADAB BERPUASA 
1.    Sahur, berbuka dan berdo’a.
a.     Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Bersahurlah karena di dalam sahur itu adalah berkah.” (Muttafaq ’alaihi)
b.     Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq ’alaihi)
c.     Hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تُمَيْرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Adalah Rasulullah صلي الله عليه وسلم berbuka sebelum menunaikan sholat dengan beberapa ruthob (kurma basah), dan apabila tidak memiliki ruthob beliau berbuka dengan beberapa tamr (kurma kering), dan apabila tidak memiliki tamr beliau berbuka dengan menenggak seteguk air.” (Shahih, HR. Turmudzi).
d.     Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
ثَلاثٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ، وَ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga orang yang tidak ditolak do’a mereka, yaitu: seorang yang berpuasa ketika berbuka, seorang imam yang adik dan do’a orang yang teraniaya.” (Shahih, HR. Turmudzi dan selainnya).
e.     Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم apabila berbuka, beliau mengucapkan :
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah sirna dahaga dan telah basah urat-urat serta telah ditetapkan pahala dengan kehendak Alloh.” (Hasan, HR. Abu Dawud).
2.    Perbanyaklah berdzikir kepada Alloh, mem-baca dan mendengar Al-Qur`an, men-tadabburi maknanya dan mengamalkannya, dan pergilah ke Masjid-Masjid untuk men-dengarkan pengajian-pengajian yang bermanfaat.
3.    Perbanyaklah sedekah terhadap kerabat dan orang-orang yang papa, kunjungilah karib keluarga dan berbuat baiklah terhadap musuh. Jadilah orang yang berhati lapang lagi mulia. Sungguh Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling lapang dengan kebaikan dan yang paling murah hati perbuatannya di Ramadhan.
4.    Janganlah berlebih-lebihan di dalam makan dan minum ketika berbuka, sehingga anda menyia-nyiakan faidah puasa dan memperburuk kesehatan anda. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمُ وِعَاءً شَرً مِنْ بَطْنِهِ
“Tidaklah Ibnu Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya.” (Shahih, HR. Turmudzi).
5.    Jangan mendengarkan nyanyian dan musik-musik, karena ia adalah seruling syaithan.
6.    Jangan pergi ke bioskop dan janganlah menonton televisi yang bisa jadi anda akan melihat sesuatu yang merusak akhlak dan menghilangkan pahala puasa.
7.    Jangan banyak begadang sehingga anda melewatkan sahur dan sholat fajar (shubuh) dan lebih utama bagi anda beraktivitas di pagi hari. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
اللُّهمَّ بَارِكْ لِأٌمَّتِيْ بُكُرِهَا


“Ya Alloh berkahilah umatku di pagi hari mereka.” (Shahih, HR. Ahmad).

HARI YANG DILARANG BERPUASA 
1.    Dua Hari raya ‘Ied, yaitu ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adhha. Sebagaimana ucapan ‘Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه:
إِنَّ هَذَيْنِ يِوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم عَنْ صِيَامِهَمَا : يِوْمَ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَاْلآخَرُ يَوْمَ تَأْكُلُوْنَ فِيْهِ مِنْ نُسُكِكُمْ
“Sesungguhnya ini adalah dua hari yang Rasulullah صلي الله عليه وسلم melarang berpuasa di dalamnya, yaitu hari berbuka (fithri) kalian setelah kalian berpuasa, dan hari dimana kalian di dalamnya memakan hewan sembelihan kalian (yaitu Iedul Adhha).” (HR. Muslim).
2.    Hari (dimana wanita mengalami) haidh dan nifas, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hak kaum wanita :
أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فّذَالِكَ مِنْ نُقْصَنِ دِيْنٍهَا
“Tidakkah ketika haidh mereka tidak sholat dan tidak berpuasa? Maka demikian inilah yang merupakan kekurangan agama mereka.” (HR. Bukhari).
3.    Menyambung puasa selama dua hari berturut-turut atau lebih tanpa berbuka. Hal ini disebut dengan puasa wishol, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
إِيَّاكُمْ وَالوِصَال
“Jauhilah oleh kalian puasa wishol.” (Muttafaq ‘alahi)
Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لَا تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ
“Janganlah kalian berpuasa wishol, dan siapa saja diantara kalian yang menghendaki untuk menyambung puasanya maka sambunglah sampai sahur saja.” (HR. Bukhari)
4.    Berpuasa pada hari syak (hari yang meragukan), yaitu pada hari ketiga puluh bulan Sya’ban, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ تُقَدِّمُوْا بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
“Janganlah kalian mendahului berpuasa Ramadhan dengan sehari atau dua hari (sebelumnya) kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa maka berpuasalah.” (HR. Muslim).

HARI YANG DIBENCI BERPUASA 
1.    Puasa ‘Arofah bagi orang yang tengah berhaji dan berada di ‘Arofah. (Dalilnya): Ummu Fadhl mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan beliau ketika itu sedang berada di atas untanya di ‘Arofah dan beliau meminumnya. (HR Muslim)
2.    Hari jum’at secara bersendirian, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ تَصُوْمُوا يَوْمَ الجُمْعَةِ إِلاَّ وَقَبْلُهُ يَوْمٌ أَوْ بَعْدَهُ يَوْمٌ
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali diiringi dengan sehari sebelum atau setelahnya.” (Shahih, HR. Ahmad)
3.    Hari Sabtu secara bersendirian, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِي الفَرِيْضَةِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلَّا عُودَ كِرَمٍ أَوْ لِحَاءَ شَجَرَةٍ فَلْيَفْطِرْ عَلَيْهِ
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang wajib. Apabila salah seorang dari kalian tidak mendapatkan (makanan) kecuali ranting kayu atau akar pohon, maka berbukalah dengannya.” (Shahih, HR. Ahmad dan selainnya).
4.    Puasa ad-Dahr (sepanjang tahun) yaitu puasa yang dilakukan pada seluruh tahun tanpa berbuka, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَد
“Tidak ada puasa bagi orang yang berpuasa sepanjang tahun.” (Shahih, HR. an-Nasa`i).
5.    Puasanya seorang wanita dan suaminya ada di sisinya melainkan dengan izinnya, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ تَصُومُ المَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَان
“Janganlah seorang wanita berpuasa selain puasa Ramadhan sedangkan suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya.” (Muttafaq ‘alaihi). 
6.    Tiga hari tasyriq, yaitu pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :
أَيَامُ التَّشْرِيْقِ أَيَامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْر ٍلِلّهِ
“Hari tasyriq adalah hari makan-makan dan minum-minun serta berdzikir kepada Alloh.” (HR. Muslim)

YANG DIBOLEHKAN TIDAK BERPUASA

1.    Orang yang sakit dan musafir, maka wajib atas mereka qodho’ (menggantinya), sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqoroh: 184).
Adapun seorang yang sakitnya tidak ada harapan untuk sembuh, maka wajib atasnya memberikan makan orang miskin setiap harinya sebanyak satu mud gandum (makanan pokok).
2.    Wanita haidh dan nifas, maka wajib atas mereka qodho’, sebagaimana ucapan ‘Aisyah رضي الله عنها:
كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
“Kami diperintahkan untuk mengganti puasa namun tidak diperintahkan untuk mengganti sholat.” (Muttafaq ‘alaihi)
3.    Lelaki dan pria tua yang telah jompo yang sudah tidak mampu lagi berpuasa, maka wajib atas mereka memberi maka orang miskin setiap harinya.
4.    Wanita hamil dan wanita menyusui yang khawatir atas (kesehatan) dirinya dan bayinya, maka wajib atas mereka memberi makan orang miskin setiap harinya. Dari ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau melihat Ummu Walad yang tengah hamil atau menyusui, lantas beliau berkata :
أَنْتِ مِنَ الَّذِيْنَ لاَ يُطِيْقُونَهُ عَلَيْكِ الجَزَاء وَلَيْسَ عَلَيْكِ القَضَاء
“Engkau adalah termasuk orang yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka wajib atasmu al-jazaa’ (membayar) namun tidak wajib atasmu qodho’  (mengganti).”  (Shahih, HR. ad-Daruquthni).

BEBERAPA FAIDAH PUASA 
Ketahuilah wahai saudaraku seislam bahwa Alloh mewajibkan kepada kita puasa sebagai peribadatan kepada-Nya, dan puasa memiliki sejumlah faidah, diantaranya :
1.    Firman Alloh Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqoroh: 183)
Anda benar-benar akan mendapatkan derajat ketakwaan  kepada Alloh dengan berpuasa.
2.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu perisai” (Muttafaq ’Alaihi)
Perisai yaitu penghalang dari perbuatan keji dan dosa termasuk juga penghalang neraka.
3.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كاَنَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun.” (Shahih, HR Tirmidzi)
4.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
عُمْرَةٌ فِيْ رَمَضَانِ تَعْدِلُ حَجَّة
“Umroh di bulan Ramadhan sepadan dengan haji.” (Muttafaq ‘alaihi)
5.    Para perokok dapat mengambil manfaat di dalam puasanya untuk meninggalkan rokok yang notabene merupakan penyebab kanker dan gangguan kesehatan. Ia akan berusaha mencoba untuk meninggalkan rokok pada malam hari sebagaimana ia tinggalkan pada pagi harinya.
6.    Puasa akan mengistirahatkan alat pencernaan dan lambung dari kepayahan yang kerjanya saling berkorelasi, menggelontorkan ampas-ampas yang tersisa dan menguatkan fisik. Puasa juga bermanfaat untuk berbagai macam penyakit. Selain itu, puasa akan mengistirahatkan para perokok dari meng-hisap rokok yang diharamkan secara syar’i dan membantunya untuk meninggalkannya.
7.    Puasa itu mendidik jiwa dan membiasakannya untuk senantiasa di atas kebenaran, ke-disiplinan, ketaatan, kesabaran dan ke-ikhlasan serta menguatkan keinginan.
8.    Seorang yang berpuasa akan merasakan adanya kesetaraan diantara saudara-saudaranya yang berpuasa, yang mana ia berpuasa dan berbuka bersamaan dengan mereka sehingga ia merasakan kesatuan seluruh umat Islam.
9.    Seorang yang berpuasa akan berempati dengan merasakan lapar sehingga ia akan menolong saudara-saudaranya yang meng-alami kelaparan dan membutuhkan, serta ia akan mensedekahkan hartanya kepada orang-orang fakir miskin.
10. Apabila seorang yang berpuasa menahan diri dari perkara yang halal dengan mengharap keridhaan Alloh Ta’ala, maka lebih utama lagi baginya dirinya untuk menahan diri dari perkara yang haram.
11. Amanah dan Muroqobatullah (merasa diawasi Alloh): Ketika seorang yang berpuasa me-ninggalkan perkara yang dapat membatalkan puasanya, ia sadar bahwa Alloh Ta’ala sedang mengawasi dirinya, sehingga ia menjaga amanahnya di dalam interaksinya dengan manusia, serta ia merasa takut kepada Alloh Ta’ala baik di saat sendiri maupun dihadapan orang ramai.

PEMBATAL PUASA 
Hal-hal yang membatalkan puasa ada dua macam, yaitu :
1.    Yang membatalkan puasa dan hanya wajib mengqodho-nya saja, yaitu :
a.     Makan, minum dan merokok secara sengaja (dan wajib atas pelakunya bertaubat).
b.     Muntah dengan sengaja, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
مَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ القَضَاء
“Barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib atasnya qodho’.” (Shahih, HR Hakim dan selainnya).
c.     Wanita haidh atau nifas, walaupun ia berada pada waktu akhir menjelang terbenamnya matahari.
2.    Yang membatalkan puasa dan wajib mengqodho’ serta membayar kafarat, yaitu: Jima’ (bersetubuh) dan tidak ada selainnya menurut mayoritas ulama.
Kafarat-nya yaitu : membebaskan budak, apabila tidak ada budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut, apabila tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin. Sebagian ulama tidak mensyaratkan harus berurutan di dalam kafarat (maksudnya boleh memilih salah satu diantara tiga, pent.)

HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA 
1.        Makan dan minum karena lupa, keliru (maksudnya, mengira sudah waktunya buka ternyata belum, pent.) atau terpaksa. Tidak wajib mengqodho’-nya ataupun membayar kafarat, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
“Barangsiapa yang lupa sedangkan ia berpuasa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Alloh telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq ’alaihi).
Dan sabda beliau : ”Sesungguhnya Alloh mengangkat (beban taklif) dari umatku (dengan sebab) kekeliruan, lupa dan keterpaksaan.” (Shahih, HR Thabrani).
2.        Muntah tanpa disengaja, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
“Barangsiapa yang mengalami muntah sedangkan ia dalam keadaan puasa maka tidak wajib atasnya mengqodho’.”  (Shahih, HR Hakim).
3.        Mencium isteri, baik untuk orang yang telah tua maupun pemuda selama tidak sampai menyebabkan terjadinya jima’. Dari ’Aisyah رضي الله عنها beliau berkata : ”Rasulullah pernah menciumi (isteri-isteri beliau) sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa, beliau juga pernah bermesraan sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling mampu menahan hasratnya.” (muttafaq ’alaihi)
4.        Mimpi basah di siang hari walaupun keluar air mani.
5.        Keluarnya air mani tanpa sengaja seperti orang yang sedang berkhayal lalu keluar (air mani).
6.        Mengakhirkan mandi janabat, haidh atau nifas dari malam hari hingga terbitnya fajar. Namun yang wajib adalah menyegerakannya untuk menunaikan sholat.
7.        Berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke dalam rongga hidung) secara tidak berlebihan, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Laqith bin Shabrah :
أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا
“Sempurnakan wudhu’ dan sela-selailah jari jemari serta hiruplah air dengan kuat (istinsyaq) kecuali apabila engkau sedang berpuasa.” (Shahih, HR. ahlus sunan).
8.        Menggunakan siwak kapan saja, dan yang semisal dengan siwak adalah sikat gigi dan pasta gigi, dengan syarat selama tidak masuk ke dalam perut.
9.        Mencicipi makanan dengan syarat selama tidak ada sedikitpun yang masuk ke dalam perut.
10.    Bercelak dan meneteskan obat mata ke dalam mata atau telinga walaupun ia merasakan rasanya di tenggorokan.
11.    Suntikan (injeksi) selain injeksi nutrisi dalam berbagai jenisnya. Karena sesungguhnya, sekiranya injeksi tersebut sampai ke lambung, namun sampainya tidak melalui jalur (pencernaan) yang lazim/biasa.
12.    Menelan air ludah yang berlendir (dahak), dan segala (benda) yang tidak mungkin menghindar darinya, seperti debu, tepung atau selainnya (partikel-partikel kecil yang terhirup hingga masuk tenggorokan dan sampai perut, pent.).
13.    Menggunakan obat-obatan yang tidak masuk ke dalam pencernaan seperti salep, celak mata, atau obat semprot (inhaler) bagi penderita asma.
14.    Gigi putus, atau keluarnya darah dari hidung (mimisan), mulut atau tempat lainnya.
15.    Mandi pada siang hari untuk menyejukkan diri dari kehausan, kepanasan atau selainnya.
16.    Menggunakan wewangian di siang hari pada bulan Ramadhan, baik dengan dupa, minyak maupun parfum.
17.    Apabila fajar telah terbit sedangkan gelas ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkan-nya melainkan setelah ia menyelesaikan hajat-nya, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
“Apabila salah seorang dari kalian telah mendengar adzan dikumandangkan sedangkan gelas masih berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajat­-nya tersebut.” (Shahih, HR Abu Dawud).
18.    Berbekam, ”karena Nabi صلى الله عليه وسلم pernah berbekam sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.” (muttafaq ’alayhi). Adapun hadits yang berbunyi : ”Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya” (Shahih, HR Ahmad) maka statusnya mansukh (terhapus) dengan hadits sebelumnya dan  dalil-dalil yang lainnya.
Ibnu Hazm berkata : ”Hadits ”orang yang membekam dan dibekam batal puasanya” adalah shahih tanpa diragukan lagi, akan tetapi kami mendapatkan di dalam hadits Abu Sa’id : ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan keringanan berbekam bagi orang yang berpuasa dan sanad hadits ini shahih sehingga wajib menerimanya. Oleh sebab keringanan (rukhshah) itu terjadi setelah ’azimah (ketetapan), maka (hal ini) menunjukkan atas dinaskh (dihapusnya) hadits yang menjelaskan batalnya puasa karena bekam, baik itu orang yang membekam maupun yang dibekam.” (Lihat Fathul Bari 4:178).

PUASA SUNNAH DAN KEUTAMAANNYA 
Rasulullah صلى الله عليه وسلم menganjurkan untuk berpuasa pada hari-hari berikut ini :
1.    Puasa enam hari pada bulan Syawwal. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, sepadan (pahalanya) dengan puasa dahr. (selamanya).” (HR. Muslim dan selainnya),
Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَان بِعَشْرَةِ اَشْهُرٍ وَ صِيَامُ سِتَّةِ اَيَّامٍ بَعْدَهُ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ
“Puasa bulan Ramadhan itu sepadan dengan berpuasa selama sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah Ramadhan sepadan dengan berpuasa selama dua bulan. Maka yang demikian inilah sama dengan puasa setahun penuh.” (Shahih, HR. Ahmad).
Sekiranya puasa ini diulangi terus setiap tahun, seperti berpuasa Dahr.”
2.    Puasa hari ’Arofah bagi selain orang yang berhaji. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
صِيَامُ يَوْم عَرَفَة أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة الَّتِي قَبْلَهُ وَ السَنَة الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa pada hari ’Arofah, aku mengharap kepada Alloh supaya menghapuskan dosa-dosa setahun sebelum dan setelahnya.” (HR. Muslim).
3.    Puasa hari ’Asyura` (10 Muharram) dan sehari sebelumnya. Rasulullahصلى الله عليه وسلم  bersabda:
صِيَامُ يَوْم عَاشُورَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa hari ’Asyura` aku mengharap kepada Alloh supaya menghapuskan dosa-dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)
Dan sabda beliau :
لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِل لأَصُومَنَّ التَّاسِع
“Jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (Muharram).” (HR. Muslim).
4.    “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih banyak berpuasa pada bulan Sya’ban” (Muttafaq ’alaihi)
5.    “Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah bulan Alloh Muharram” (HR. Muslim).
6.    Berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Rasulullahصلى الله عليه وسلم  bersabda:
تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Amal ditampakkan pada hari Senin dan Kamis dan aku menyukai apabila amalku ditampakkan, aku dalam keadaan berpuasa.” (Shahih, HR. Nasa`i).
Beliau pernah ditanya tentang berpuasa pada hari Senin, lalu beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
“Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan (wahyu) kepadaku.” (HR. Muslim).
7.    Berpuasa pada hari-hari putih (ayyamul baidh, tiga hari pertengahan bulan Qomariyah, pent.), sebagaimana ucapan salah seorang Sahabat radhiyallahu ’anhu : ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami untuk berpuasa setiap bulannya pada tanggal 13,14 dan 15.” (Hasan, HR. Nasa`i dan selainnya).
8.    Berpuasa sehari dan berbuka sehari. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
“Puasa yang paling dicintai Alloh adalah puasa Dawud dan sholat yang paling Alloh cintai adalah sholatnya Dawud. Beliau tidur pada pertengahan malam kemudian bangun pada sepertiganya dan tidur kembali pada seperenam malam. Beliau berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (Muttafaq ’alaihi).

Peringatan Penting
1.    Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di sisinya melainkan dengan izinnya. Apabila ia berpuasa sunnah dan suaminya memerintahkannya untuk berbuka maka ia harus berbuka kecuali puasa yang wajib.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ
“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya berada di sisinya melainkan dengan izinnya kecuali Ramadhan” (muttafaq ’alaihi).
2.    Seorang yang berpuasa sunnah berkuasa atas dirinya, apabila ia berkehendak ia boleh berpuasa dan apabila ia berkehendak ia boleh berbuka. Tidak wajib baginya berniat sebelum berpuasa, kecuali puasa yang wajib. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha beliau berkata, pada suatu hari Rasulullah mendatangiku dan berkata : ”Apakah kamu punya sesuatu (yang bisa dimakan)?” Saya menjawab: ”Tidak ada”. Beliau lantas berkata : ”Kalau begitu aku sekarang berpuasa.” Kemudian pada kesempatan yang lain beliau mendatangiku lagi, lalu aku mengatakan kepada beliau : ”Wahai Rasulullah, kita diberi hadiah haysun.”1 Beliau mengatakan: ”Bawalah kemari. Aku tadi pagi sebenarnya berpuasa.” lalu beliau memakannya.” (HR. Muslim).
______________
1.  Haysun adalah kurma yang dicampur minyak dan susu lalu dilumatkan/ditumbuk.

SHOLAT MALAM (QIYAM) RAMADHAN 
1.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang melakukan sholat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ’alaihi)
2.    Seorang lelaki dari Bani Qodho’ah datang kepada Rasulullah lalu berkata: ”Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan engkau adalah utusan Alloh, aku menunaikan sholat lima waktu, berpuasa sebulan penuh dan menegakkan sholat malam di bulan Ramadhan serta menunaikan zakat!” Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: ”Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan demikian, maka ia termasuk golongan shiddiqin dan syuhada’.” (Shahih HR. Ibnu Khuzaimah).
3.    "Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم melaksanakan sholat malam sebanyak tiga belas rakaat: di dalamnya sholat witir dan dua rakaat sholat fajar.” (HR. Bukhari).
4.    "Nabi صلى الله عليه وسلم tidak pernah menambah baik di bulan Ramadhan maupun selainnya sholat malam lebih dari 11 rakaat. Beliau sholat 4 rakaat dan janganlah menanyakan bagaimana bagus dan panjangnya, lalu sholat 4 rakaat dan janganlah menanyakan bagaimana bagus dan panjangnya, lalu beliau sholat 3 rakaat.” (Muttafaq ’alaihi).
_________________
Catatan:
Boleh sholat tarawih pada awal malam namun yang utama adalah pada akhir malam.

LAILATUL QADAR DAN KEUTAMAANNYA 
1.    Alloh Ta’ala berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدَرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدَرِ لَيْلَةُ الْقَدَرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qodar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al-Qodar 1-5).
2.    Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم apabila telah memasuki sepuluh (hari terakhir Ramadhan), beliau mengencangkan ikat pinggangnya,1 menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. (Muttafaq ’alaihi).
3.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ قاَمَ لَيْلَةُ الْقَدَرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang menegakkan sholat pada malam Laylatul Qodar dengan keimanan dan penuh pengharapan, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ’alaihi)
Dan sabda beliau :
تَحَرُّوا لَيْلَةَ الْقَدَرِ فِيْ الوِتْر مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِيْ رَمَضَان
“Carilah malam lailatul qodar pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).
4.    Dari ’Aisyah beliau berkata :
ياَ رَسُوْلَ اللهِ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدَرِ مَا أَقُوْلُ ؟ قاَلَ : قُوْلِي اللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda apabila aku mengetahui kapan terjadinya malam lailatul qodar, apa yang seharusnya aku ucapankan di dalamnya?” Beliau menjawab : ”Ucapkanlah: ”Ya Alloh, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mengampuni, maka ampunilah aku.” (Shahih, HR. Turmudzi).
________________
1. Mengencangkan ikat pinggangnya yaitu bersungguh-sungguh di dalam ibadah dan menjauhi dari berkumpul (jima’) dengan isteri-isteri beliau.

I'TIKAF 
1.    Makna I’tikaf secara syariat adalah: mendiami Masjid dan menetap di dalamnya dengan niat bertaqorrub kepada Alloh Ta’ala.
2.    Disyariatkannya: Para ulama bersepakat akan pensyariatannya. ”Karena Nabi صلى الله عليه وسلم dulu pernah beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai Alloh عزّوجلّ mewafatkan beliau. Kemudian isteri-isteri beliau beri’tikaf setelah wafatnya beliau.”
3.    Macam-macam i’tikaf :
a.     I’tikaf yang wajib: yaitu apabila seseorang mewajibkan atas dirinya untuk melakukan-nya dengan sebab nadzar.
b.     I’tikaf yang sunnah: yaitu apabila seorang muslim melaksanakannya dengan maksud mendekatkan diri kepada Alloh dan meneladani Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ditekankan pelaksanannya pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.
4.    Waktu i’tikaf : ”Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم apabila bermaksud untuk melaksanakan i’tikaf, beliau sholat fajar lalu memasuki tempat i’tikaf beliau.” (muttafaq ’alaihi)
[Yaitu pada pagi hari kesepuluh bulan Ramadhan].
“Nabi pernah beri’tikaf pada sepuluh hari di bulan Syawwal.” (muttafaq ’alaihi).
5.    Syarat mu’takif (orang yang beri’tikaf): Dia haruslah seorang yang mumayyiz (berakal sehat dan baligh) dan suci dari janabat, haidh dan nifas.
6.    Rukun I’tikaf : Menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala.
Yang dibolehkan bagi orang yang beri’tikaf :
a.     Keluar dari tempat i’tikaf-nya untuk mengantarkan keluarganya.
b.     Menyisir rambut, mencukur rambut, menggunting kuku, membersihkan badan (mandi), berparfum dan menggunakan pakaian yang bagus.
c.     Keluar dari masjid untuk menunaikan hajat yang mendesak, seperti buang air besar dan kecil, makan dan minum apabila tidak ada yang mengantarkan makanannya.
d.     Bagi seorang yang beri’tikaf, ia haruslah makan, minum dan tidur di Masjid dengan tetap harus menjaga kebersihannya.
7.    Etika di dalam I’tikaf: Dari ’Aisyah رضي الله عنها beliau berkata : ”Tuntunan di dalam i’tikaf yaitu tidak keluar kecuali untuk menunaikan hajat yang mendesak, tidak mengunjungi orang sakit, tidak menyentuh dan berkumpul (jima’) dengan isterinya, dan tidak ada i’tikaf kecuali di Masjid Jama'ah. Juga merupakan tuntunan adalah bagi orang yang beri’tikaf tetap harus berpuasa.” (Shahih, HR al-Baihaqi).
8.    Yang membatalkan i’tikaf: Jima’, keluar dari masjid tanpa ada keperluan secara sengaja, hilangnya ingatan karena gila atau mabuk, dan mengalami haidh dan nifas.
9.    Yang disunnahkah bagi mu’takif: Memperbanyak ibadah-ibadah nafilah seperti sholat, membaca Al-Qur`an, berdzikir dan membaca buku-buku agama.
10.    Yang dibenci bagi mu’takif: Menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan menahan diri dari berbicara dengan anggapan hal ini sebagai pendekatan diri kepada Alloh. (Lihat Fiqhus Sunnah).

ZAKAT FITHRI 
1.    Hukumnya: Wajib atas tiap individu kaum muslimin, baik anak-anak mapun dewasa, laki-laki atau wanita dan merdeka ataupun budak.
2.    Atas siapa diwajibkannya: atas muslim yang merdeka, memiliki (makanan) dalam takaran satu sha’ (gantang) yang lebih dari makanan pokoknya dan makanan untuk keluarganya selama sehari semalam, maka wajib atasnya mengeluarkan zakat untuk dirinya dan orang yang ia tanggung nafkahnya, seperti isterinya, anak-anaknya dan siapa saja yang berada dalam pertanggungannya, dan dianggap hal ini sebagai infak terhadap mereka.
3.    Takarannya : Satu sha’ (gantang) kurma, tepung, gandum atau yang semisalnya yang dianggap sebagai makanan pokok dan dikeluarkan menurut makanan pokok mayoritas di negeri tersebut, baik berupa beras, jagung atau selainnya. [Takarannya kurang lebih sebesar 2,5 kg].
Dari Ibnu ’Umar رضي الله عنهما beliau berkata:  ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri pada bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma atau gandum, atas seorang hamba sahaya ataupun yang merdeka, pria maupun wanita, anak-anak maupun dewasa, dari kaum muslimin.” (Muttafaq ’alaihi)
4.    Hikmah disyariatkannya:
a.     Sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa yang jatuh ke dalam perbuatan laghwun dan rafats.1
b.     Sebagai bantuan kepada kaum fakir miskin dan kaum papa serta mencukupi mereka dari meminta-minta pada hari ied.
5.    Penyalurannya: Zakat fithri disalurkan kepada kaum miskin, sebagaimana dalam sebuah hadits dimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
زَكَاةُ الفِطْرِ طُهْرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةٌ للمَسَكِيْنَ
“Zakat Fithri itu mensucikan seorang yang berpuasa dari laghwun  dan rofats serta sebagai makanan kaum miskin.” (shahih).
Adapun orang miskin telah datang penjelasan artinya di dalam sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: ”Yang tidak memiliki sesuatu yang dapat mencukupi kebutuhannya dan tidak pula memadai, maka dia disedekahi dan tidak meminta kepada manusia sedikitpun.” (Muttafaq ‘alaihi)
6.    Waktu dikeluarkannya: Wajib mengeluarkannya sebelum pelaksanaan sholat ’ied, dan boleh mengeluarkannya sehari atau dua hari sebelum ied.
Dari Ibnu ’Abbas رضي الله عنهما beliau berkata: ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari  perbuatan sia-sia dan kotor dan sebagai makanan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat (ied) maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat (ied) maka ia termasuk sedekah dari jenis-jenis sedekah lainnya (bukan termasuk zakat fithri, pent).” (Hasan, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan selainnya).
_______________
1. Laghwun adalah ucapan atau perbuatan yang tidak ada faidahnya (sia-sia) sedangkan Rafats adalah ucapan yang keji.

SHOLAT DUA 'IED DI
MUSHALLA (TANAH LAPANG)
 
1.    Mandi dan berparfum serta berpakaian dengan pakaian terbagus. Ajaklah keluarga dan anak-anakmu bersegera ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat ied, pent.) pagi-pagi lalu kembalilah dari jalan yang lain.
2.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami agar kami mengajak keluar untuk melaksanakan sholat iedul fithri dan adhha para hamba sahaya, wanita haidh dan gadis-gadis pingitan. Adapun wanita haidh mereka (diperintahkan untuk) menjauhi tempat sholat dan menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Saya berkata: ”Wahai Rasulullah, ada diantara kami yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah menjawab: ”Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya memakaikannya.” (Muttafaq ’alaihi)
3.    Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak berangkat sholat pada hari iedul fithri sampai beliau makan beberapa buah kurma yang jumlahnya ganjil.” [ganjil mencakup bilangan 1,3,5,7,9]
4.    Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم keluar untuk menunaikan sholat iedul fithri dan adhha ke lapangan, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah sholat. (HR. al-Bukhari).
5.    Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
التَّكْبِيْرُ فِي الفِطْرِ : سَبْعٌ فِي الأُوْلَى وَخَمْسٌ فِيْ الآخِرَةِ وَالقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهُمَا
“Takbir ketika ’iedul fithri adalah tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua, dan membaca (Al-Fatihah) setelahnya pada setiap rakaat.” (Hasan, HR. Abu Dawud)
 Faidah Hadits
 Faidah hadits yang dapat dipetik dari hadits-hadits di atas adalah :
1.    Sholat dua ’ied hukumnya wajib, yaitu berjumlah dua rakaat, dimana seorang yang sholat bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, kemudian membaca Al-Fatihah dan surat lainnya yang mudah.
2.    Sholat ied itu dilaksanakan di musholla (tanah lapang) yaitu tempat yang dekat dengan kota namun di luar bangunan. Rasulullah صلي الله عليه وسلم keluar ke tempat ini untuk menunaikan sholat dua ied dan beliau disertai oleh anak-anak kecil, kaum wanita, para remaja bahkan kaum wanita yang mengalami haidh.
Al-Hafizh berkata di dalam al-Fath: “Di dalamnya beliau keluar untuk menunaikan sholat di musholla dan tidak boleh dilaksanakan di Masjid kecuali apabila dalam keadaan darurat,” [Seperti hujan atau dingin]
3.    Ditekankan bertakbir semenjak malam iedul fithri dan berakhir sampai selesainya sholat ied. Alloh Ta’ala berfirman :
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian bertakbir mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian” (QS: Al-Baqarah: 185)

BID'AH-BID'AH DALAM PERAYAAN 'IED 
1.    Ziarah kubur.
Telah berlangsung kebiasaan mengunjungi makam-makam pada saat perayaan ied, dan tidak ada dalil yang menunjukkan pengkhususannya dilakukan pada saat ied.
2.    Ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan wanita).
Kaum lelaki dan wanita bercampur baur di makam-makam dan di perayaan ied. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : ”Tidak aku tinggalkan sebuah fitnah sepeninggalku nanti yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaq 'alaihi)
3.    Membaca Al-Qur`an di area makam.
Telah datang larangan membaca Al-Qur`an dalam sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian itu seperti kuburan. Sesungguh-nya rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqoroh akan menyebabkan syaithan lari darinya.” (HR Muslim).
Dan ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di makam salah seorang sahabat beliau setelah dikuburkan, beliau bersabda kepada para sahabatnya : ”Mohonkanlah ampun untuk saudaramu ini dan mintalah kemantapan atasnya, karena dirinya sekarang sedang ditanya (oleh malaikat).” (Shahih, HR Hakim).
Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan para sahabatnya bahwa apabila hendak masuk area pemakaman hendaklah mengucapkan :
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ
“Salam kesejahteraan atas kalian wahai para penghuni makam dari kaum mukminin dan muslimin, dan sesungguhnya kami insya Alloh akan menyusul kalian. Saya memohon kepada Alloh bagi kami dan kalian keselamatan.” [yaitu dari siksa]. (HR Muslim).






No comments:

Post a Comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Wikipedia

Search results