BEKAL
RAMADHAN
Syaikh
Muhammad bin Jamil Zainu رحمه الله
Biografi Penulis
Syaikh
Muhammad bin Jamil Zainu lahir di kota Halb, Suria pada tahun 1344 H atau tahun
1920 M. Sejak kecil beliau sudah senang mempelajari ilmu-ilmu agama. Hafal
Al-Qur'an di usia belasan tahun. Setelah hafal Al-Qur'an beliau mempelajari
tafsir, fikih Hanafi, nahwu dan sharaf, sejarah Islam, hadits, dan ilmu-ilmu
lain seperti fisika, kimia, matematika, bahasa Perancis dan lain-lain di Al
Kulliyah Asy Syar'iyah At Tajhiziyah.
Seperti
kebanyakan orang Islam di negerinya, beliau hanya mengetahui tauhid rububiyah.
Satu jenis tauhid yang diyakini oleh orang-orang musyrik yang diperangi Nabi.
Allah berfirman:
وَلَئِن
سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى
يُؤْفَكُونَ
"Dan
sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka.'
Niscaya mereka menjawab, 'Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan
(dari menyembah Allah)." (QS. Az Zukhruf: 87)"
Bahkan
juga diyakini oleh setan laknatullah 'alaihi. Dalam Al Qur 'an
disebutkan:
قَالَ
رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ
"Iblis
berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat. pasti
aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi’''
(QS. Al Hijr: 39)
Sedangkan
tauhid uluhiyah dan asma wa sifat sama sekali merupakan sesuatu yang asing bagi
kebanyakan orang saat itu. Bahkan lebih parah lagi para guru di sekolah-sekolah
sering menakwilkan ayat-ayat sifat.
Pada
tahun 1948 beliau menyelesaikan studi-nya dan memperoleh ijazah dari madrasah.
Tahun itu juga diterima pada program pengutusan pengajar yang diadakan Al Azhar
tetapi beliau tidak mengikutinya karena alasan kesehatan. Setelah tidak jadi
mengikuti program tadi beliau mengajar di Darul Mu'allim selama kurang lebih 29
tahun.
Setelah itu beliau meninggalkan kegiatan mengajar.
Ketika
melaksanakan umrah pada tahun 1399, beliau berkenalan dengan Syaikh 'Abdul 'Aziz
bin Baz رحمه الله. Dari perkenalan itu beliau ditunjuk oleh Syaih bin Baz untuk
mengajar di Masjidil Haram selama musim haji. Tugas mengajar ini tidak hanya
sampai di sini. Setelah musim haji berakhir, Syaikh mengirim beliau ke Yordania
dan tinggal di kota Ramtsa tepatnya di Universitas Shalahuddin. Di sini beliau
merangkap sebagai imam, khatib, dan guru al-Qur'an.
Bulan
Ramadhan tahun 1400 H, beliau diminta oleh salah seorang pelajar dari Darul
Hadits Khairiyah Mekkah untuk mengajar di sekolah tersebut karena mereka sedang
membutuhkan tenaga pengajar, terutama untuk ilmu hadits. Setelah menghubungi
kepala sekolah dan juga atas tazkiyah yang diberikan oleh Syaikh 'Abdul
'Aziz bin Baz رحمه الله, beliau mengajar di sekolah tersebut dengan materi tafsir,
tauhid, Al Qur'an, dan pelajaran-pelajaran lain.
Di
sekolah inilah, berkat taufik dan pertolongan dari Allah, beliau mulai menulis
risalah-risalah kecil yang ringkas. Alhamdulillah mendapat sambutan
hangat dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, antaranya bahasa Inggris, Perancis,
Benggali, Indonesia, Turki, Urdu, dan lain-lain. Risalah-risalah yang berjumlah
kurang lebih 20 buah ini beliau kumpulkan lalu diberi judul judul Silsilah At
Taujihat Al Islamiyah. Beberapa di antaranya telah dicetak sampai ribuan
eksemplar. Ada juga yang dibagi cuma-cuma.
Semoga
risalah-risalah ini bermanfaat dan amalan beliau dicatat sebagai amalan yang
ikhlas.
Beliau
wafat pada hari Jum'at 29 Syawal 1431 H dan disholatkan di Masjidil Haram
Makkah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni beliau, amin...
________________
Sumber:
1.
Ash-Shufiyyah
fi Mizan Al-Kitab wa Sunnah,
edisi Indonesia SUFI menurut Al-Qur’an dan Sunnah oleh Syaikh Muhammad
bin Jamil Zainu, Terbitan Media Hidayah, hal 98-101
2.
Berita
wafat beliau di http://alfirqatunnajiyyah.blogspot.com/
SEKAPUR
SIRIH
Sesungguhnya,
bulan Ramadhan adalah bulan mulia lagi berbarakah yang ditunggu-tunggu oleh kaum
muslimin. Namun, sudahkah kaum muslimin mempersiapkan dirinya di dalam menyambut
tamu yang agung ini? Sungguh, tidak mempersiapkan diri di dalam menyambut tamu
yang agung ini adalah suatu kerugian dan ketidakhormatan.
Oleh
karena itulah, di dalamnya menyambut bulan yang mulia ini, kami mempersembahkan
kepada kaum muslimin, sebuah terjemahan buku kecil yang sangat sederhana ini,
sebagai bekal-bekal dan panduan singkat di dalam menghadapi bulan
Ramadhan.
Semoga
apa yang kami lakukan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kaum muslimin dan
menjadi bekal bagi penterjemah di dalam menghadapi hari, dimana harta dan
anak-anak tidaklah befaidah sedikitpun, kecuali hati yang selamat. Semoga Alloh
membalas penulis risalah ini, Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dengan
pahala yang berlimpah, atas jerih payahnya di dalam menyebarkan dakwah dan ilmu.
Amien
MUQODDIMAH
إنّ
الحمد
لله
نحمده
ونستعينه
ونستغفره،
ونعوذ
بالله
من
شرور
أنفسنا
ومن
سيّئات
أعمالنا،
من
يهده
الله
فلا
مضلّ
له،
ومن
يضلل
فلا
هادي
له،
وأشهد
أن
لا
إله
إلا
الله
وحده
لا
شريك
له،
وأشهد
أنّ
محمدا
عبده
ورسوله
Sesungguhnya
segala puji hanyalah milik Alloh yang kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan
dan pengampunan dari-Nya, kami memohon perlindungan Alloh dari keburukan
jiwa-jiwa kami dan kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk
oleh Alloh tak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang dileluasakan
kesesatan atasnya tak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa
tiada sesembahan yang hak untuk disembah kecualli Alloh semata yang tidak ada
sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan
utusan-Nya.
Amma
Ba’du : sesungguhnya
puasa itu merupakan salah satu rukun Islam, yang tampak di dalam keikhlasan,
ihsan dan amanah,
dan hal ini dicapai ketika seorang yang berpuasa menahan dari makan, minum dan
perkara yang dapat membatalkannya sedangkan ia tidak menahan diri dari perkara
ini melainkan karena muroqobatullah
(merasa diawasi
Alloh Ta’ala) dan
ru`yah (penglihatan)
Alloh kepadanya.
Saya telah
memaparkan di dalam buku ini tentang keutamaan puasa, adab-adab dan
hukum-hukumnya, pembatal-pembatal puasa, sholat malam di dalamnya,
lailatul
qodar dan
keutamaannya. Saya juga memaparkan tentang I’tikaf, zakat fithri,
sholat ‘ied dan
selainnya dari perkara-perkara yang penting.
Hanya kepada
Allohlah saya memohon supaya menjadikan tulisanku ini bermanfaat bagi kaum
muslimin dan menjadikan perbuatanku ini ikhlas hanya mengharap wajah Alloh yang
mulia semata.
Syaikh Muhammad
bin Jamil Zainu
AYAT TENTANG
PUASA
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى
الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن
كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى
الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ
خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. شَهْرُ
رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ
الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ
مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ
الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang
tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat
menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi
makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu Mengetahui. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri
tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan
barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur. (QS.
al-Baqoroh : 183-185)
Faidah
Ayat
1.
Alloh
mewajibkan puasa terhadap kaum mukminin sebagaimana Alloh wajibkan atas
orang-orang sebelum mereka yang mana di dalam puasa ini terdapat faidah-faidah
bagi dunia dan akhirat.
2.
Diperolehnya
tingkatan takwa kepada Alloh Azza
wa Jalla
di dalam puasa.
3.
Puasa
itu hari-harinya spesifik tertentu, namun tidaklah lebih dari tiga puluh
hari.
4.
Orang
yang sakit dan musafir,
diperbolehkan berbuka pada bulan Ramadhan dan wajib atas mereka menggantinya
(qodho’).
5.
Dahulu,
ada pilihan antara berbuka di bulan ramadhan dan membayar fidyah atau berpuasa,
kemudian hukumnya dimansukh
(dihapus) dan berpuasa di bulan Ramadhan menjadi wajib
hukumnya.
6.
Keutamaan
bulan Ramadhan dan keutamaan Al-Qur`an yang Alloh turunkan di dalamnya. Perlu
diketahui bahwa yang namanya inzal
(menurunkan Al-Qur`an) itu pastilah dari atas ke bawah, oleh karena itulah
inzal
ini menunjukkan atas ketinggian Alloh di atas arsy-Nya sebagaimana ditegaskan
tentangnya ayat-ayat dan hadits-hadits nabi yang shahih
(autentik).
7.
Wajibnya
berpuasa atas mukallaf
(orang
yang mendapatkan beban kewajiban) yang mendapati bulan
Ramadhan.
8.
Syariat
Alloh yang samhah
(toleran/lapang) dan mudah, jauh dari kesukaran dan
kesulitan.
9.
Mengagungkan
Alloh dengan bertakbir pada hari ‘ied
dan ucapan syukur atas nikmat-nikmat Alloh.
PUASA
TERMASUK RUKUN ISLAM
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ
الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam
dibangun atas lima hal :
1.
Syahadat
(persaksian) Laa ilaaha illalloh
[لا معبودا بحق إلا الله :
tiada sesembahan yang hak kecuali Alloh] dan Muhammad Rasulullah [Muhammad yang
Alloh mengutus beliau untuk menyampaikan agama-Nya dan wajib mentaati beliau di
dalam semua yang beliau sampaikan dari Alloh.]
2.
Menegakkan
Sholat
[menunaikan
pada waktunya dengan memenuhi rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya dengan
tenang dan khusyu’.]
3.
Menunaikan
Zakat
[Apabila
seorang muslim memiliki sekurang-kurangnya 85 gram emas atau uang yang senilai
dengannya, maka ia harus membayarkan zakatnya sebesar 2,5 persen setelah satu
tahun. Adapun selain uang maka ada ukurannya tersendiri.]
4.
Pergi
haji ke Baitullah
[bagi
orang yang memiliki kemampuan, yaitu orang yang memiliki biaya perjalanan pulang
pergi beserta nafaqoh-nya sedangkan ia tidak memiliki
hutang.]
5.
Berpuasa
Ramadhan
[yaitu
menahan diri dari makan, minum, jima’ (berkumpul dengan isteri) dan setiap hal
yang dapat membatalkan puasa dari fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat
untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala.] (Muttafaq
‘alaihi)
PUASA
RAMADHAN DAN HUKUMNYA
1.
Definisi
puasa:
ialah menahan diri dari makan, minum, jima’ dan seluruh hal yang dapat
membatalkannya dengan niat beribadah kepada Alloh Ta’ala dari semenjak terbitnya
fajar hingga terbenamnya matahari.
2.
Hukumnya:
wajib atas setiap muslim yang telah baligh (dewasa), berakal, mampu
melaksanakannya dan muqim (menetap). Wajib pula bagi wanita apabila telah suci
dari haidh (menstruasi) dan nifas (darah pasca bersalin).
3.
Ramadhan
ditetapkan dengan melihat hilal
(bulan sabit muda) atau menyempurnakan Sya’ban sebanyak 30 hari [apabila
terhalang melihat hilal, pent.].
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
صُومُوا
لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا
عِدَّةَ شَعْبَان ثَلَاثِينَ يَوْمًا
“Berpuasalah
karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Apabila (penglihatan)
kalian terhalang maka sempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari.” (Muttafaq
‘alaihi)
4.
Hukum
Niat:
wajib berniat untuk puasa ramadhan dan bagi orang yang berpuasa cukuplah baginya
meniatkan di dalam hatinya. Tidak ada dalilnya melafazhkan niat baik ketika
puasa ataupun sholat. Barangsiapa yang bersahur sebelum fajar maka ia telah
berniat dan barangsiapa yang menahan dari makan, minum dan pembatal puasa di
tengah hari dengan ikhlas kepada Alloh, maka ia telah berniat walaupun ia tidak
bersahur. [Lihat Fiqhus Sunnah].
KEUTAMAAN
RAMADHAN DAN PUASA
1.
Alloh
Ta’ala berfirman :
شَهْرُ
مَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ
“Bulan
Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`an” (QS Al-Baqoroh :
185).
2.
Alloh
Ta’ala berfirman :
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya
kami menurunkannya di malam lailatul qodar.” (QS Al-Qodar :
1).
3.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِذَا
دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَمَاءِ وَأُغْلِقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمِ
وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْن
“Apabila
Ramadhan telah masuk, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup
serta syaithan-syaithan dibelenggu.”
Di
dalam riwayat lain :
إِذَا
جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ
“Apabila
Ramadhan telah datang, pintu-pintu surga dibuka”.
Di
dalam riwayat lain :
فُتِحَتْ
أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ
“pintu
rahmat dibuka”. (Muttafaq ’alaihi)
4.
Di
dalam hadits riwayat Turmudzi :
وَيُنَادِي
مُنَاٍد : يَا بَاغِيَ الخَيْرِ هَلُمَّ وأَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِ أَقْصِرْ
وِلْلَّهِ عتقاءُ مِنَ النَّارِ وَ ذلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ حَتَّى يَنْقَضِيَ
رَمَضَان
“Berseru
seorang penyeru, wahai orang yang menghendaki kebaikan lakukan dan
laksanakanlah, wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah. Dan Alloh
memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka dan hal ini terjadi setiap
malam sampai berakhirnya Ramadhan.” (dihasankan oleh
al-Albani).
5.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ
مِائَةِ ضِعْفٍ إِلى مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا
الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ
أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ
لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ
الْمِسْكِ
“Setiap
amal bani Adam dilipatgandakan, kebaikan diganjar sepuluh kali lipat yang
sepadan dengannya hingga sampai seratus kali lipat, bahkan hingga sampai kepada
apa yang Alloh kehendaki. Alloh Azza wa Jalla berfirman : kecuali puasa, karena
se-sungguhnya puasa itu untukku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya. Ia
meninggalkan syahwat dan makannya hanya karena Aku. Bagi orang yang berpuasa ada
dua kegembiraan, yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia
bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu adalah
lebih harum di sisi Alloh dibandingkan harumnya kesturi.” (muttafaq
’alaihi).
6.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِنَّ
فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ
الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا
دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya
di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan ar-Royyan. Orang-orang yang
berpuasa masuk darinya pada hari kiamat, dan tidak ada seorangpun selain mereka
yang dapat memasukinya. Apabila mereka (orang-orang yang berpuasa, pent.) telah
memasukinya pintu tersebut ditutup, dan tidak ada lagi seorangpun yang dapat
memasukinya.” (Muttafaq ’alaihi).
7.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ
صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ
Barangsiapa
berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan ihtisab (mengharap balasan dari
Alloh) maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaq
’alaihi).
8.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
وَالصَّلوَاتُ
الخَمْسُ وَالجُمْعَةُ إِلى الجُمْعَةِ وَرَمَضَان إِلى رَمَضَانِ مُكَفِّرَاتٌ
لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَتْ الكَبَائِرُ
“...antara
sholat lima waktu, antara Jum’at yang satu ke Jum’at yang lain dan antara
Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang lain, terdapat kafarat (penghapus dosa)
diantaranya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR.
Muslim).
9.
Dari
Abi Umamah beliau berkata : Aku mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan aku berkata :
مُرْنِي
بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ
“Tunjukkan
padaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga.”
Beliau
menjawab :
عَلَيْكَ
بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ
“berpuasalah
karena tidak ada yang sepadan dengannya.”
Kemudian
aku mendatangi beliau kedua kalinya, beliau tetap berkata :
عَلَيْكَ
بِالصَّوْمِ
“Berpuasalah”.
(Shahih, HR. Ahmad).
10.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَا
مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ
الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Tidaklah
seorang hamba berpuasa sehari di jalan Alloh, melainkan Alloh jauhkan pada hari
itu wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh kharif (jarak perjalanan).” (HR.
Muslim).
11.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
الصِّيَامُ
وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ
رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي
فِيه
“Puasa
dan Al-Qur`an memberikan syafa’at bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa
berkata : Wahai Rabb, sesungguhnya aku telah menahannya dari makan dan syahwat
di siang hari, maka berilah dia syafa’at karenaku.” (Shahih, HR. Ahmad dan
selainnya).
KEWAJIBAN
ANDA DI BULAN RAMADHAN
Ketahuilah
wahai saudaraku se-Islam, bahwa Alloh mewajibkan atas kita berpuasa sebagai
ibadah bagi-Nya, dan agar puasa anda menjadi sempurna dan bermanfaat, maka
lakukanlah hal-hal berikut ini :
1.
Jagalah
sholat anda.
Diantara orang-orang yang berpuasa ada orang yang menelantarkan sholat padahal
sholat merupakan tiangnya agama dan meninggalkannya termasuk kekufuran.
2.
Jagalah
puasa Ramadhan.
Latihlah anak-anak anda untuk berpuasa kapan saja mereka mampu dan
berhati-hatilah dari berbuka (membatalkan puasa) di bulan Ramadhan tanpa ada
udzur.
Nabi
صلى الله عليه وسلم pernah melihat di dalam mimpinya sebuah kaum :
مُعَلَّقِيْنَ
بِعَرَاقِيْبِهِمْ، مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ، تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا.
قُلْتُ: مَا هَؤلاء قَالَ: هَؤلاء الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تَحِلَّةِ
صَوْمِهِمْ
Yang
digantung terbalik dengan kepada di bawah, mulut-mulut mereka robek dan dari
mulut mereka darah bercucuran. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata : ”Siapakah mereka ini?” (Malaikat) menjawab : ”mereka
adalah orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka.” [Sebelum halal puasa
mereka yaitu sebelum waktu berbuka]. (Dishahihkah al-Hakim dan disepakati oleh
adz-Dzahabi).
Barangsiapa
yang membatalkan puasanya sehari dengan sengaja maka wajib atasnya menggantinya
dan bertaubat.
3.
Berhati-hatilah
dari berbuka puasa di hadapan manusia,
sebagai implementasi sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
كُلُّ
أُمَّتِيْ مُعَافىً إِلاَّ المُجاَهِرِيْنَ
“Seluruh
umatku terampuni kecuali mujahir (orang yang menampakkan kemaksiatan).”
(Muttafaq ’alaihi).
Ath-Thibi
berkata: ”Setiap umatku diampuni dari ghibah kecuali orang-orang yang
menampakkan (dosa). Membatalkan puasa adalah suatu keberanian atas Alloh,
meremehkan Islam dan kelancangan terhadap manusia. Ketahuilah barangsiapa yang
tidak berpuasa maka tidak ada ied atasnya, karena ied itu adalah suatu
kegembiraan besar dengan menyempurnakan puasa dan diterimanya
ibadah.”
4.
Jadilah
orang yang berakhlak baik,
jauhilah kekufuran dan mencela agama serta mu`amalah yang buruk terhadap
manusia, berhujjah dengan puasa anda. Puasa itu mendidik jiwa dan tidak
memperburuk akhlak. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِذَا
كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ
أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Apabila
salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengumpat
(yarfuts) dan jangan pula membentak-bentak (yaskhob). Apabila ada
seorang yang mencela atau menganiayanya, maka katakanlah : sesungguhnya aku
seorang yang sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaihi).
[mengumpat
: mengucapkan kata kotor, membentak : mengangkat suara].
5.
Menjaga
lisan dari ghibah (menggunjing), berdusta dan selainnya. Nabi
صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ
لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَعَمِلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةً فِى أَنْ يَدَعْ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan ucapan dusta atau melakukan kedustaan, maka Alloh tidak
butuh akan (puasanya yang) meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)
Dan
sabda beliau :
كَمْ
مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَمِهِ إِلاَّ الظَّمَأ
“Betapa
banyak orang yang berpuasa, namun dia tidaklah mendapatkan dari puasanya
melainkan hanya dahaga.” [Shahih, HR ad-Darimi].
6.
Bacalah
risalah seputar masalah puasa dan selainnya, supaya anda dapat mengetahui
hukum-hukum seputar puasa sehingga anda dapat mengetahui bahwa makan dan minum
karena lupa tidaklah membatalkan puasa, jinabah (berkumpul dengan isteri atau
mimpi) pada malam hari tidaklah mencegah puasa, walaupun yang wajib adalah
menghilangkan junub-nya untuk berthoharoh dan sholat.
SUNNAH
DAN ADAB BERPUASA
1.
Sahur,
berbuka dan berdo’a.
a.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
تَسَحَّرُوا
فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Bersahurlah
karena di dalam sahur itu adalah berkah.” (Muttafaq
’alaihi)
b.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا
يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia
senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq
’alaihi)
c.
Hadits
Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ
قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تُمَيْرَاتٍ فَإِنْ
لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Adalah
Rasulullah صلي الله عليه وسلم berbuka sebelum menunaikan sholat dengan beberapa ruthob (kurma
basah), dan apabila tidak memiliki ruthob beliau berbuka dengan beberapa tamr
(kurma kering), dan apabila tidak memiliki tamr beliau berbuka dengan menenggak
seteguk air.” (Shahih, HR. Turmudzi).
d.
Sabda
Nabi صلى الله عليه وسلم:
ثَلاثٌ
لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ، وَ الإِمَامُ الْعَادِلُ ،
وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga
orang yang tidak ditolak do’a mereka, yaitu: seorang yang berpuasa ketika
berbuka, seorang imam yang adik dan do’a orang yang teraniaya.” (Shahih, HR.
Turmudzi dan selainnya).
e.
Adalah
Rasulullah صلى الله عليه وسلم apabila berbuka, beliau mengucapkan :
ذَهَبَ
الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ
اللَّهُ
“Telah
sirna dahaga dan telah basah urat-urat serta telah ditetapkan pahala dengan
kehendak Alloh.” (Hasan, HR. Abu Dawud).
2.
Perbanyaklah
berdzikir kepada Alloh, mem-baca dan mendengar Al-Qur`an, men-tadabburi maknanya
dan mengamalkannya, dan pergilah ke Masjid-Masjid untuk men-dengarkan
pengajian-pengajian yang bermanfaat.
3.
Perbanyaklah
sedekah terhadap kerabat dan orang-orang yang papa, kunjungilah karib keluarga
dan berbuat baiklah terhadap musuh. Jadilah orang yang berhati lapang lagi
mulia. Sungguh Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling lapang dengan kebaikan dan yang paling
murah hati perbuatannya di Ramadhan.
4.
Janganlah
berlebih-lebihan di dalam makan dan minum ketika berbuka, sehingga anda
menyia-nyiakan faidah puasa dan memperburuk kesehatan anda. Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَا
مَلَأَ ابْنُ آدَمُ وِعَاءً شَرً مِنْ بَطْنِهِ
“Tidaklah
Ibnu Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya.” (Shahih, HR.
Turmudzi).
5.
Jangan
mendengarkan nyanyian dan musik-musik, karena ia adalah seruling syaithan.
6.
Jangan
pergi ke bioskop dan janganlah menonton televisi yang bisa jadi anda akan
melihat sesuatu yang merusak akhlak dan menghilangkan pahala puasa.
7.
Jangan
banyak begadang sehingga anda melewatkan sahur dan sholat fajar (shubuh) dan
lebih utama bagi anda beraktivitas di pagi hari. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
اللُّهمَّ
بَارِكْ لِأٌمَّتِيْ بُكُرِهَا
“Ya
Alloh berkahilah umatku di pagi hari mereka.” (Shahih, HR.
Ahmad).
HARI
YANG DILARANG BERPUASA
1.
Dua
Hari raya ‘Ied, yaitu ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adhha. Sebagaimana ucapan ‘Umar
bin al-Khaththab رضي الله عنه:
إِنَّ
هَذَيْنِ يِوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم عَنْ
صِيَامِهَمَا : يِوْمَ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَاْلآخَرُ يَوْمَ تَأْكُلُوْنَ
فِيْهِ مِنْ نُسُكِكُمْ
“Sesungguhnya
ini adalah dua hari yang Rasulullah صلي الله عليه وسلم melarang berpuasa di dalamnya, yaitu hari berbuka (fithri)
kalian setelah kalian berpuasa, dan hari dimana kalian di dalamnya memakan hewan
sembelihan kalian (yaitu Iedul Adhha).” (HR. Muslim).
2.
Hari
(dimana wanita mengalami) haidh dan nifas, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hak kaum wanita :
أَلَيْسَتْ
إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فّذَالِكَ مِنْ نُقْصَنِ
دِيْنٍهَا
“Tidakkah
ketika haidh mereka tidak sholat dan tidak berpuasa? Maka demikian inilah yang
merupakan kekurangan agama mereka.” (HR. Bukhari).
3.
Menyambung
puasa selama dua hari berturut-turut atau lebih tanpa berbuka. Hal ini disebut
dengan puasa wishol, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
إِيَّاكُمْ
وَالوِصَال
“Jauhilah
oleh kalian puasa wishol.” (Muttafaq ‘alahi)
Dan
sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لَا
تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى
السَّحَرِ
“Janganlah
kalian berpuasa wishol, dan siapa saja diantara kalian yang menghendaki untuk
menyambung puasanya maka sambunglah sampai sahur saja.” (HR.
Bukhari)
4.
Berpuasa
pada hari syak (hari yang meragukan), yaitu pada hari ketiga puluh bulan
Sya’ban, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ
تُقَدِّمُوْا بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ
صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
“Janganlah
kalian mendahului berpuasa Ramadhan dengan sehari atau dua hari (sebelumnya)
kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa maka berpuasalah.” (HR.
Muslim).
HARI
YANG DIBENCI BERPUASA
1.
Puasa
‘Arofah bagi orang yang tengah berhaji dan berada di ‘Arofah. (Dalilnya): Ummu
Fadhl mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan beliau ketika itu sedang berada di atas untanya di ‘Arofah
dan beliau meminumnya. (HR Muslim)
2.
Hari
jum’at secara bersendirian, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ
تَصُوْمُوا يَوْمَ الجُمْعَةِ إِلاَّ وَقَبْلُهُ يَوْمٌ أَوْ بَعْدَهُ
يَوْمٌ
“Janganlah
kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali diiringi dengan sehari sebelum atau
setelahnya.” (Shahih, HR. Ahmad)
3.
Hari
Sabtu secara bersendirian, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لَا
تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِي الفَرِيْضَةِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ
إِلَّا عُودَ كِرَمٍ أَوْ لِحَاءَ شَجَرَةٍ فَلْيَفْطِرْ عَلَيْهِ
“Janganlah
kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang wajib. Apabila salah seorang
dari kalian tidak mendapatkan (makanan) kecuali ranting kayu atau akar pohon,
maka berbukalah dengannya.” (Shahih, HR. Ahmad dan
selainnya).
4.
Puasa
ad-Dahr (sepanjang tahun) yaitu puasa yang dilakukan pada seluruh tahun tanpa
berbuka, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ
صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَد
“Tidak
ada puasa bagi orang yang berpuasa sepanjang tahun.” (Shahih, HR.
an-Nasa`i).
5.
Puasanya
seorang wanita dan suaminya ada di sisinya melainkan dengan izinnya, sebagaimana
sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ
تَصُومُ المَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ غَيْرَ
رَمَضَان
“Janganlah
seorang wanita berpuasa selain puasa Ramadhan sedangkan suaminya ada di sisinya
kecuali dengan izinnya.” (Muttafaq ‘alaihi).
6.
Tiga
hari tasyriq, yaitu pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :
أَيَامُ
التَّشْرِيْقِ أَيَامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْر ٍلِلّهِ
“Hari
tasyriq adalah hari makan-makan dan minum-minun serta berdzikir kepada Alloh.”
(HR. Muslim)
YANG
DIBOLEHKAN TIDAK BERPUASA
1.
Orang
yang sakit dan musafir, maka wajib atas mereka qodho’ (menggantinya),
sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
فَمَنْ
كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ
أُخَرَ
“Maka
barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu
pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqoroh: 184).
Adapun
seorang yang sakitnya tidak ada harapan untuk sembuh, maka wajib atasnya
memberikan makan orang miskin setiap harinya sebanyak satu mud gandum (makanan
pokok).
2.
Wanita
haidh dan nifas, maka wajib atas mereka qodho’, sebagaimana ucapan
‘Aisyah رضي الله عنها:
كُنَّا
نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
“Kami
diperintahkan untuk mengganti puasa namun tidak diperintahkan untuk mengganti
sholat.” (Muttafaq ‘alaihi)
3.
Lelaki
dan pria tua yang telah jompo yang sudah tidak mampu lagi berpuasa, maka wajib
atas mereka memberi maka orang miskin setiap harinya.
4.
Wanita
hamil dan wanita menyusui yang khawatir atas (kesehatan) dirinya dan bayinya,
maka wajib atas mereka memberi makan orang miskin setiap harinya. Dari ibnu
‘Abbas bahwasanya beliau melihat Ummu Walad yang tengah hamil atau menyusui,
lantas beliau berkata :
أَنْتِ
مِنَ الَّذِيْنَ لاَ يُطِيْقُونَهُ عَلَيْكِ الجَزَاء وَلَيْسَ عَلَيْكِ
القَضَاء
“Engkau
adalah termasuk orang yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka wajib atasmu
al-jazaa’ (membayar) namun tidak wajib atasmu qodho’ (mengganti).” (Shahih, HR.
ad-Daruquthni).
BEBERAPA
FAIDAH PUASA
Ketahuilah
wahai saudaraku seislam bahwa Alloh mewajibkan kepada kita puasa sebagai
peribadatan kepada-Nya, dan puasa memiliki sejumlah faidah, diantaranya
:
1.
Firman
Alloh Ta’ala:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى
الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqoroh:
183)
Anda
benar-benar akan mendapatkan derajat ketakwaan
kepada Alloh dengan berpuasa.
2.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
الصِّيَامُ
جُنَّةٌ
“Puasa
itu perisai” (Muttafaq ’Alaihi)
Perisai
yaitu penghalang dari perbuatan keji dan dosa termasuk juga penghalang
neraka.
3.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ
فَطَّرَ صَائِمًا كاَنَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ
أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa
yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala sebagaimana
pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa
itu sedikitpun.” (Shahih, HR Tirmidzi)
4.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
عُمْرَةٌ
فِيْ رَمَضَانِ تَعْدِلُ حَجَّة
“Umroh
di bulan Ramadhan sepadan dengan haji.” (Muttafaq ‘alaihi)
5.
Para
perokok dapat mengambil manfaat di dalam puasanya untuk meninggalkan rokok yang
notabene merupakan penyebab kanker dan gangguan kesehatan. Ia akan berusaha
mencoba untuk meninggalkan rokok pada malam hari sebagaimana ia tinggalkan pada
pagi harinya.
6.
Puasa
akan mengistirahatkan alat pencernaan dan lambung dari kepayahan yang kerjanya
saling berkorelasi, menggelontorkan ampas-ampas yang tersisa dan menguatkan
fisik. Puasa juga bermanfaat untuk berbagai macam penyakit. Selain itu, puasa
akan mengistirahatkan para perokok dari meng-hisap rokok yang diharamkan secara
syar’i dan membantunya untuk meninggalkannya.
7.
Puasa
itu mendidik jiwa dan membiasakannya untuk senantiasa di atas kebenaran,
ke-disiplinan, ketaatan, kesabaran dan ke-ikhlasan serta menguatkan keinginan.
8.
Seorang
yang berpuasa akan merasakan adanya kesetaraan diantara saudara-saudaranya yang
berpuasa, yang mana ia berpuasa dan berbuka bersamaan dengan mereka sehingga ia
merasakan kesatuan seluruh umat Islam.
9.
Seorang
yang berpuasa akan berempati dengan merasakan lapar sehingga ia akan menolong
saudara-saudaranya yang meng-alami kelaparan dan membutuhkan, serta ia akan
mensedekahkan hartanya kepada orang-orang fakir miskin.
10.
Apabila
seorang yang berpuasa menahan diri dari perkara yang halal dengan mengharap
keridhaan Alloh Ta’ala, maka lebih utama lagi baginya dirinya untuk menahan diri
dari perkara yang haram.
11.
Amanah
dan Muroqobatullah (merasa diawasi Alloh): Ketika seorang yang berpuasa
me-ninggalkan perkara yang dapat membatalkan puasanya, ia sadar bahwa Alloh
Ta’ala sedang mengawasi dirinya, sehingga ia menjaga amanahnya di dalam
interaksinya dengan manusia, serta ia merasa takut kepada Alloh Ta’ala baik di
saat sendiri maupun dihadapan orang ramai.
PEMBATAL
PUASA
Hal-hal
yang membatalkan puasa ada dua macam, yaitu :
1.
Yang
membatalkan puasa dan hanya wajib mengqodho-nya saja, yaitu
:
a.
Makan,
minum dan merokok secara sengaja (dan wajib atas pelakunya bertaubat).
b.
Muntah
dengan sengaja, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
مَنْ
اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ القَضَاء
“Barangsiapa
yang muntah dengan sengaja maka wajib atasnya qodho’.” (Shahih, HR Hakim dan
selainnya).
c.
Wanita
haidh atau nifas, walaupun ia berada pada waktu akhir menjelang terbenamnya
matahari.
2.
Yang
membatalkan puasa dan wajib mengqodho’ serta membayar kafarat, yaitu: Jima’
(bersetubuh) dan tidak ada selainnya menurut mayoritas ulama.
Kafarat-nya
yaitu : membebaskan budak, apabila tidak ada budak maka berpuasa dua bulan
berturut-turut, apabila tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin.
Sebagian ulama tidak mensyaratkan harus berurutan di dalam kafarat (maksudnya
boleh memilih salah satu diantara tiga, pent.)
HAL-HAL
YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA
1.
Makan
dan minum karena lupa, keliru (maksudnya, mengira sudah waktunya buka ternyata
belum, pent.) atau terpaksa. Tidak wajib mengqodho’-nya ataupun membayar
kafarat, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
مَنْ
نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا
أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
“Barangsiapa
yang lupa sedangkan ia berpuasa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia
menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Alloh telah memberinya makan dan minum.”
(Muttafaq ’alaihi).
Dan
sabda beliau : ”Sesungguhnya Alloh mengangkat (beban taklif) dari umatku (dengan
sebab) kekeliruan, lupa dan keterpaksaan.” (Shahih, HR
Thabrani).
2.
Muntah
tanpa disengaja, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
“Barangsiapa
yang mengalami muntah sedangkan ia dalam keadaan puasa maka tidak wajib atasnya
mengqodho’.” (Shahih, HR
Hakim).
3.
Mencium
isteri, baik untuk orang yang telah tua maupun pemuda selama tidak sampai
menyebabkan terjadinya jima’. Dari ’Aisyah رضي الله عنها beliau berkata : ”Rasulullah pernah menciumi (isteri-isteri
beliau) sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa, beliau juga pernah bermesraan
sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling
mampu menahan hasratnya.” (muttafaq ’alaihi)
4.
Mimpi
basah di siang hari walaupun keluar air mani.
5.
Keluarnya
air mani tanpa sengaja seperti orang yang sedang berkhayal lalu keluar (air
mani).
6.
Mengakhirkan
mandi janabat, haidh atau nifas dari malam hari hingga terbitnya fajar. Namun
yang wajib adalah menyegerakannya untuk menunaikan sholat.
7.
Berkumur
dan istinsyaq (menghirup air ke dalam rongga hidung) secara tidak berlebihan,
sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Laqith bin Shabrah :
أَسْبِغْ
الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا
أَنْ تَكُونَ صَائِمًا
“Sempurnakan
wudhu’ dan sela-selailah jari jemari serta hiruplah air dengan kuat (istinsyaq)
kecuali apabila engkau sedang berpuasa.” (Shahih, HR. ahlus
sunan).
8.
Menggunakan
siwak kapan saja, dan yang semisal dengan siwak adalah sikat gigi dan pasta
gigi, dengan syarat selama tidak masuk ke dalam perut.
9.
Mencicipi
makanan dengan syarat selama tidak ada sedikitpun yang masuk ke dalam perut.
10.
Bercelak
dan meneteskan obat mata ke dalam mata atau telinga walaupun ia merasakan
rasanya di tenggorokan.
11.
Suntikan
(injeksi) selain injeksi nutrisi dalam berbagai jenisnya. Karena sesungguhnya,
sekiranya injeksi tersebut sampai ke lambung, namun sampainya tidak melalui
jalur (pencernaan) yang lazim/biasa.
12.
Menelan
air ludah yang berlendir (dahak), dan segala (benda) yang tidak mungkin
menghindar darinya, seperti debu, tepung atau selainnya (partikel-partikel kecil
yang terhirup hingga masuk tenggorokan dan sampai perut, pent.).
13.
Menggunakan
obat-obatan yang tidak masuk ke dalam pencernaan seperti salep, celak mata, atau
obat semprot (inhaler) bagi penderita asma.
14.
Gigi
putus, atau keluarnya darah dari hidung (mimisan), mulut atau tempat lainnya.
15.
Mandi
pada siang hari untuk menyejukkan diri dari kehausan, kepanasan atau selainnya.
16.
Menggunakan
wewangian di siang hari pada bulan Ramadhan, baik dengan dupa, minyak maupun
parfum.
17.
Apabila
fajar telah terbit sedangkan gelas ada di tangannya, maka janganlah ia
meletakkan-nya melainkan setelah ia menyelesaikan hajat-nya, sebagaimana sabda
Nabi صلى الله عليه وسلم :
إِذَا
سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى
يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
“Apabila
salah seorang dari kalian telah mendengar adzan dikumandangkan sedangkan gelas
masih berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sampai ia
menyelesaikan hajat-nya tersebut.” (Shahih, HR Abu
Dawud).
18.
Berbekam,
”karena Nabi صلى الله عليه وسلم pernah berbekam sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.”
(muttafaq ’alayhi). Adapun hadits yang berbunyi : ”Orang yang membekam dan
dibekam batal puasanya” (Shahih, HR Ahmad) maka statusnya mansukh
(terhapus) dengan hadits sebelumnya dan
dalil-dalil yang lainnya.
Ibnu
Hazm berkata : ”Hadits ”orang yang membekam dan dibekam batal puasanya” adalah
shahih tanpa diragukan lagi, akan tetapi kami mendapatkan di dalam hadits Abu
Sa’id : ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan keringanan berbekam bagi orang yang
berpuasa”
dan sanad hadits ini shahih sehingga wajib menerimanya. Oleh sebab keringanan
(rukhshah) itu terjadi setelah ’azimah (ketetapan), maka (hal ini)
menunjukkan atas dinaskh (dihapusnya) hadits yang menjelaskan batalnya
puasa karena bekam, baik itu orang yang membekam maupun yang dibekam.” (Lihat
Fathul Bari 4:178).
PUASA
SUNNAH DAN KEUTAMAANNYA
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم menganjurkan untuk berpuasa pada hari-hari berikut ini
:
1.
Puasa
enam hari pada bulan Syawwal. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ
صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ
الدَّهْرِ
“Barangsiapa
yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal,
sepadan (pahalanya) dengan puasa dahr. (selamanya).” (HR. Muslim dan
selainnya),
Dan
sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
صِيَامُ
شَهْرِ رَمَضَان بِعَشْرَةِ اَشْهُرٍ وَ صِيَامُ سِتَّةِ اَيَّامٍ بَعْدَهُ
بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ
“Puasa
bulan Ramadhan itu sepadan dengan berpuasa selama sepuluh bulan, dan puasa enam
hari setelah Ramadhan sepadan dengan berpuasa selama dua bulan. Maka yang
demikian inilah sama dengan puasa setahun penuh.” (Shahih, HR. Ahmad).
Sekiranya
puasa ini diulangi terus setiap tahun, seperti berpuasa
Dahr.”
2.
Puasa
hari ’Arofah bagi selain orang yang berhaji. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
صِيَامُ
يَوْم عَرَفَة أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة الَّتِي قَبْلَهُ وَ
السَنَة الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa
pada hari ’Arofah, aku mengharap kepada Alloh supaya menghapuskan dosa-dosa
setahun sebelum dan setelahnya.” (HR. Muslim).
3.
Puasa
hari ’Asyura` (10 Muharram) dan sehari sebelumnya. Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda:
صِيَامُ
يَوْم عَاشُورَاء أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة الَّتِي
قَبْلَهُ
“Puasa
hari ’Asyura` aku mengharap kepada Alloh supaya menghapuskan dosa-dosa setahun
sebelumnya.” (HR. Muslim)
Dan
sabda beliau :
لَئِنْ
بَقِيْتُ إِلَى قَابِل لأَصُومَنَّ التَّاسِع
“Jika
aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal
sembilan (Muharram).” (HR. Muslim).
4.
“Adalah
Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih banyak berpuasa pada bulan Sya’ban” (Muttafaq ’alaihi)
5.
“Seutama-utama
puasa setelah Ramadhan adalah bulan Alloh Muharram” (HR. Muslim).
6.
Berpuasa
pada hari Senin dan Kamis. Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda:
تُعْرَضُ
الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي
وَأَنَا صَائِمٌ
“Amal
ditampakkan pada hari Senin dan Kamis dan aku menyukai apabila amalku
ditampakkan, aku dalam keadaan berpuasa.” (Shahih, HR. Nasa`i).
Beliau
pernah ditanya tentang berpuasa pada hari Senin, lalu beliau menjawab:
ذَاكَ
يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
“Itu
adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan (wahyu) kepadaku.” (HR.
Muslim).
7.
Berpuasa
pada hari-hari putih (ayyamul baidh, tiga hari pertengahan bulan Qomariyah,
pent.), sebagaimana ucapan salah seorang Sahabat radhiyallahu ’anhu :
”Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami untuk berpuasa setiap bulannya pada tanggal
13,14 dan 15.” (Hasan, HR. Nasa`i dan selainnya).
8.
Berpuasa
sehari dan berbuka sehari. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
أَحَبُّ
الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ
صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ
ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
“Puasa
yang paling dicintai Alloh adalah puasa Dawud dan sholat yang paling Alloh
cintai adalah sholatnya Dawud. Beliau tidur pada pertengahan malam kemudian
bangun pada sepertiganya dan tidur kembali pada seperenam malam. Beliau berbuka
sehari dan berpuasa sehari.” (Muttafaq ’alaihi).
Peringatan
Penting
1.
Janganlah
seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di sisinya melainkan dengan
izinnya. Apabila ia berpuasa sunnah dan suaminya memerintahkannya untuk berbuka
maka ia harus berbuka kecuali puasa yang wajib.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
لاَ
تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ
رَمَضَانَ
“Janganlah
seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya berada di sisinya melainkan dengan
izinnya kecuali Ramadhan” (muttafaq ’alaihi).
2.
Seorang
yang berpuasa sunnah berkuasa atas dirinya, apabila ia berkehendak ia boleh
berpuasa dan apabila ia berkehendak ia boleh berbuka. Tidak wajib baginya
berniat sebelum berpuasa, kecuali puasa yang wajib. Dari ’Aisyah radhiyallahu
’anha beliau berkata, pada suatu hari Rasulullah mendatangiku dan berkata :
”Apakah kamu punya sesuatu (yang bisa dimakan)?” Saya menjawab: ”Tidak ada”.
Beliau lantas berkata : ”Kalau begitu aku sekarang berpuasa.” Kemudian pada
kesempatan yang lain beliau mendatangiku lagi, lalu aku mengatakan kepada beliau
: ”Wahai Rasulullah, kita diberi hadiah haysun.”1 Beliau mengatakan: ”Bawalah kemari. Aku
tadi pagi sebenarnya berpuasa.” lalu beliau memakannya.” (HR. Muslim).
______________
1. Haysun adalah kurma yang dicampur
minyak dan susu lalu dilumatkan/ditumbuk.
SHOLAT
MALAM (QIYAM) RAMADHAN
1.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ
قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ
"Barangsiapa
yang melakukan sholat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap
pahala, diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq
’alaihi)
2.
Seorang
lelaki dari Bani Qodho’ah datang kepada Rasulullah lalu berkata: ”Wahai
Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan engkau adalah utusan Alloh, aku
menunaikan sholat lima waktu, berpuasa sebulan penuh dan menegakkan sholat malam
di bulan Ramadhan serta menunaikan zakat!” Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: ”Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan demikian,
maka ia termasuk golongan shiddiqin dan syuhada’.” (Shahih HR. Ibnu Khuzaimah).
3.
"Adalah
Nabi صلى الله عليه وسلم melaksanakan sholat malam sebanyak tiga belas rakaat: di
dalamnya sholat witir dan dua rakaat sholat fajar.” (HR. Bukhari).
4.
"Nabi
صلى الله عليه وسلم tidak pernah menambah baik di bulan Ramadhan maupun selainnya
sholat malam lebih dari 11 rakaat. Beliau sholat 4 rakaat dan janganlah
menanyakan bagaimana bagus dan panjangnya, lalu sholat 4 rakaat dan janganlah
menanyakan bagaimana bagus dan panjangnya, lalu beliau sholat 3 rakaat.”
(Muttafaq ’alaihi).
_________________
Catatan:
Boleh
sholat tarawih pada awal malam namun yang utama adalah pada akhir
malam.
LAILATUL
QADAR DAN KEUTAMAANNYA
1.
Alloh
Ta’ala berfirman :
إِنَّا
أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدَرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدَرِ
لَيْلَةُ الْقَدَرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ
فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ
الْفَجْرِ
“Sesungguhnya
kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qodar (malam kemuliaan). Dan
tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan
izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan
sampai terbit fajar.” (QS Al-Qodar 1-5).
2.
Adalah
Rasulullah صلى الله عليه وسلم apabila telah memasuki sepuluh (hari terakhir Ramadhan), beliau
mengencangkan ikat pinggangnya,1
menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. (Muttafaq ’alaihi).
3.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ
قاَمَ لَيْلَةُ الْقَدَرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
yang menegakkan sholat pada malam Laylatul Qodar dengan keimanan dan penuh
pengharapan, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ’alaihi)
Dan
sabda beliau :
تَحَرُّوا
لَيْلَةَ الْقَدَرِ فِيْ الوِتْر مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِيْ
رَمَضَان
“Carilah
malam lailatul qodar pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan” (HR. Bukhari).
4.
Dari
’Aisyah beliau berkata :
ياَ
رَسُوْلَ اللهِ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدَرِ مَا أَقُوْلُ ؟ قاَلَ : قُوْلِي
اللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ
عَنِّي
“Wahai
Rasulullah, bagaimana pendapat anda apabila aku mengetahui kapan terjadinya
malam lailatul qodar, apa yang seharusnya aku ucapankan di dalamnya?” Beliau
menjawab : ”Ucapkanlah: ”Ya Alloh, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Mengampuni, maka ampunilah aku.” (Shahih, HR. Turmudzi).
________________
1.
Mengencangkan ikat pinggangnya yaitu bersungguh-sungguh di dalam ibadah dan
menjauhi dari berkumpul (jima’) dengan isteri-isteri
beliau.
I'TIKAF
1.
Makna
I’tikaf secara syariat adalah: mendiami Masjid dan menetap di dalamnya dengan
niat bertaqorrub kepada Alloh Ta’ala.
2.
Disyariatkannya:
Para ulama bersepakat akan pensyariatannya. ”Karena Nabi صلى الله عليه وسلم dulu pernah beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai
Alloh عزّوجلّ mewafatkan beliau. Kemudian isteri-isteri beliau beri’tikaf
setelah wafatnya beliau.”
3.
Macam-macam
i’tikaf :
a.
I’tikaf
yang wajib: yaitu apabila seseorang mewajibkan atas dirinya untuk melakukan-nya
dengan sebab nadzar.
b.
I’tikaf
yang sunnah: yaitu apabila seorang muslim melaksanakannya dengan maksud
mendekatkan diri kepada Alloh dan meneladani Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ditekankan pelaksanannya pada sepuluh hari terakhir pada bulan
Ramadhan.
4.
Waktu
i’tikaf : ”Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم apabila bermaksud untuk melaksanakan i’tikaf, beliau sholat
fajar lalu memasuki tempat i’tikaf beliau.” (muttafaq ’alaihi)
[Yaitu
pada pagi hari kesepuluh bulan Ramadhan].
“Nabi
pernah beri’tikaf pada sepuluh hari di bulan Syawwal.” (muttafaq
’alaihi).
5.
Syarat
mu’takif (orang yang beri’tikaf): Dia haruslah seorang yang mumayyiz (berakal
sehat dan baligh) dan suci dari janabat, haidh dan nifas.
6.
Rukun
I’tikaf : Menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala.
Yang
dibolehkan bagi orang yang beri’tikaf :
a.
Keluar
dari tempat i’tikaf-nya untuk mengantarkan keluarganya.
b.
Menyisir
rambut, mencukur rambut, menggunting kuku, membersihkan badan (mandi), berparfum
dan menggunakan pakaian yang bagus.
c.
Keluar
dari masjid untuk menunaikan hajat yang mendesak, seperti buang air besar dan
kecil, makan dan minum apabila tidak ada yang mengantarkan
makanannya.
d.
Bagi
seorang yang beri’tikaf, ia haruslah makan, minum dan tidur di Masjid dengan
tetap harus menjaga kebersihannya.
7.
Etika
di dalam I’tikaf: Dari ’Aisyah رضي الله عنها beliau berkata : ”Tuntunan di dalam i’tikaf yaitu tidak keluar
kecuali untuk menunaikan hajat yang mendesak, tidak mengunjungi orang sakit,
tidak menyentuh dan berkumpul (jima’) dengan isterinya, dan tidak ada i’tikaf
kecuali di Masjid Jama'ah. Juga merupakan tuntunan adalah bagi orang yang
beri’tikaf tetap harus berpuasa.” (Shahih, HR al-Baihaqi).
8.
Yang
membatalkan i’tikaf: Jima’, keluar dari masjid tanpa ada keperluan secara
sengaja, hilangnya ingatan karena gila atau mabuk, dan mengalami haidh dan
nifas.
9.
Yang
disunnahkah bagi mu’takif: Memperbanyak ibadah-ibadah nafilah seperti sholat,
membaca Al-Qur`an, berdzikir dan membaca buku-buku agama.
10.
Yang
dibenci bagi mu’takif: Menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat
baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan menahan diri dari berbicara dengan
anggapan hal ini sebagai pendekatan diri kepada Alloh. (Lihat Fiqhus
Sunnah).
ZAKAT
FITHRI
1.
Hukumnya:
Wajib atas tiap individu kaum muslimin, baik anak-anak mapun dewasa, laki-laki
atau wanita dan merdeka ataupun budak.
2.
Atas
siapa diwajibkannya:
atas muslim yang merdeka, memiliki (makanan) dalam takaran satu sha’ (gantang)
yang lebih dari makanan pokoknya dan makanan untuk keluarganya selama sehari
semalam, maka wajib atasnya mengeluarkan zakat untuk dirinya dan orang yang ia
tanggung nafkahnya, seperti isterinya, anak-anaknya dan siapa saja yang berada
dalam pertanggungannya, dan dianggap hal ini sebagai infak terhadap mereka.
3.
Takarannya
: Satu sha’ (gantang) kurma, tepung, gandum atau yang semisalnya yang dianggap
sebagai makanan pokok dan dikeluarkan menurut makanan pokok mayoritas di negeri
tersebut, baik berupa beras, jagung atau selainnya. [Takarannya kurang lebih
sebesar 2,5 kg].
Dari
Ibnu ’Umar رضي الله عنهما beliau berkata:
”Rasulullah صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri pada bulan Ramadhan sebanyak satu sha’
kurma atau gandum, atas seorang hamba sahaya ataupun yang merdeka, pria maupun
wanita, anak-anak maupun dewasa, dari kaum muslimin.” (Muttafaq
’alaihi)
4.
Hikmah
disyariatkannya:
a.
Sebagai
pensuci bagi orang yang berpuasa yang jatuh ke dalam perbuatan laghwun dan
rafats.1
b.
Sebagai
bantuan kepada kaum fakir miskin dan kaum papa serta mencukupi mereka dari
meminta-minta pada hari ied.
5.
Penyalurannya:
Zakat fithri disalurkan kepada kaum miskin, sebagaimana dalam sebuah hadits
dimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
زَكَاةُ
الفِطْرِ طُهْرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةٌ
للمَسَكِيْنَ
“Zakat
Fithri itu mensucikan seorang yang berpuasa dari laghwun dan rofats serta sebagai makanan kaum
miskin.” (shahih).
Adapun
orang miskin telah datang penjelasan artinya di dalam sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: ”Yang tidak memiliki sesuatu yang dapat mencukupi kebutuhannya
dan tidak pula memadai, maka dia disedekahi dan tidak meminta kepada manusia
sedikitpun.” (Muttafaq ‘alaihi)
6.
Waktu
dikeluarkannya:
Wajib mengeluarkannya sebelum pelaksanaan sholat ’ied, dan boleh mengeluarkannya
sehari atau dua hari sebelum ied.
Dari
Ibnu ’Abbas رضي الله عنهما beliau berkata: ”Rasulullah صلى الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa
dari perbuatan sia-sia dan kotor dan
sebagai makanan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat
(ied) maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya
setelah sholat (ied) maka ia termasuk sedekah dari jenis-jenis sedekah lainnya
(bukan termasuk zakat fithri, pent).” (Hasan, HR. Abu Dawud, Ibnu
Majah, dan selainnya).
_______________
1.
Laghwun adalah ucapan atau perbuatan yang tidak ada faidahnya (sia-sia)
sedangkan Rafats adalah ucapan yang keji.
SHOLAT
DUA 'IED DI
MUSHALLA (TANAH LAPANG)
MUSHALLA (TANAH LAPANG)
1.
Mandi
dan berparfum serta berpakaian dengan pakaian terbagus. Ajaklah keluarga dan
anak-anakmu bersegera ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat ied,
pent.) pagi-pagi lalu kembalilah dari jalan yang lain.
2.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami agar kami mengajak keluar untuk melaksanakan
sholat iedul fithri dan adhha para hamba sahaya, wanita haidh dan gadis-gadis
pingitan. Adapun wanita haidh mereka (diperintahkan untuk) menjauhi tempat
sholat dan menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Saya berkata: ”Wahai
Rasulullah, ada diantara kami yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah menjawab:
”Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya memakaikannya.” (Muttafaq ’alaihi)
3.
Adalah
Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak berangkat sholat pada hari iedul fithri sampai beliau
makan beberapa buah kurma yang jumlahnya ganjil.” [ganjil mencakup bilangan
1,3,5,7,9]
4.
Adalah
Rasulullah صلى الله عليه وسلم keluar untuk menunaikan sholat iedul fithri dan adhha ke
lapangan, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah sholat. (HR. al-Bukhari).
5.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda :
التَّكْبِيْرُ
فِي الفِطْرِ : سَبْعٌ فِي الأُوْلَى وَخَمْسٌ فِيْ الآخِرَةِ وَالقِرَاءَةُ
بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهُمَا
“Takbir
ketika ’iedul fithri adalah tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat
kedua, dan membaca (Al-Fatihah) setelahnya pada setiap rakaat.” (Hasan, HR. Abu
Dawud)
Faidah
Hadits
Faidah
hadits yang dapat dipetik dari hadits-hadits di atas adalah
:
1.
Sholat
dua ’ied hukumnya wajib, yaitu berjumlah dua rakaat, dimana seorang yang sholat
bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua,
kemudian membaca Al-Fatihah dan surat lainnya yang mudah.
2.
Sholat
ied itu dilaksanakan di musholla (tanah lapang) yaitu tempat yang dekat dengan
kota namun di luar bangunan. Rasulullah صلي الله عليه وسلم keluar ke tempat ini untuk menunaikan sholat dua ied dan beliau
disertai oleh anak-anak kecil, kaum wanita, para remaja bahkan kaum wanita yang
mengalami haidh.
Al-Hafizh
berkata di dalam al-Fath: “Di dalamnya beliau keluar untuk menunaikan
sholat di musholla dan tidak boleh dilaksanakan di Masjid kecuali apabila dalam
keadaan darurat,” [Seperti hujan atau dingin]
3.
Ditekankan
bertakbir semenjak malam iedul fithri dan berakhir sampai selesainya sholat ied.
Alloh Ta’ala berfirman :
وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
“Dan
hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian bertakbir
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian” (QS:
Al-Baqarah: 185)
BID'AH-BID'AH
DALAM PERAYAAN 'IED
1.
Ziarah
kubur.
Telah
berlangsung kebiasaan mengunjungi makam-makam pada saat perayaan ied, dan tidak
ada dalil yang menunjukkan pengkhususannya dilakukan pada saat
ied.
2.
Ikhtilath
(bercampur baur antara laki-laki dan wanita).
Kaum
lelaki dan wanita bercampur baur di makam-makam dan di perayaan ied. Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda : ”Tidak aku tinggalkan sebuah fitnah sepeninggalku
nanti yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaq
'alaihi)
3.
Membaca
Al-Qur`an di area makam.
Telah
datang larangan membaca Al-Qur`an dalam sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian itu seperti
kuburan. Sesungguh-nya rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqoroh akan
menyebabkan syaithan lari darinya.” (HR Muslim).
Dan
ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di makam salah seorang sahabat beliau setelah dikuburkan,
beliau bersabda kepada para sahabatnya : ”Mohonkanlah ampun untuk saudaramu ini
dan mintalah kemantapan atasnya, karena dirinya sekarang sedang ditanya (oleh
malaikat).” (Shahih, HR Hakim).
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم mengajarkan para sahabatnya bahwa apabila hendak masuk area
pemakaman hendaklah mengucapkan :
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ
شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ
الْعَافِيَةَ
“Salam
kesejahteraan atas kalian wahai para penghuni makam dari kaum mukminin dan
muslimin, dan sesungguhnya kami insya Alloh akan menyusul kalian. Saya memohon
kepada Alloh bagi kami dan kalian keselamatan.” [yaitu dari siksa]. (HR
Muslim).

No comments:
Post a Comment