SELAMAT DATANG-WELCOME-AHLAN WA SAHLAN>>> TERIMA KASIH KUNJUNGANYA-THANKS FOR JOIN

View Entri




UNTUK YANG LAGI GALAU >>> Jangan Lupa * tAKe & GivE*

Friday, 25 July 2014

PEDOMAN TATACARA SHALAT ‘IED




Pertama:
Jumlah raka'at shalat Ied ada dua berdasaran riwayat Umar رضي الله عنه.
صَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Shalat safar itu ada dua raka'at, shalat Idul Adha dua raka'at dan shalat Idul Fithri dua raka'at. (Semua itu dikerjakan) dengan sempurna bukan qashar berdasarkan sabda Muhammad صلي الله عليه وسلم"    
Kedua:
Rakaat pertama, seperti halnya semua shalat, dimulai dengan takbiratul ihram, selanjutnya bertakbir sebanyak tujuh kali. Sedangkan pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima kali, tidak termasuk takbir intiqal (takbir perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lain) 
Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوعِ
“Sesungguhnya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bertakbir dalam shalat Idul Fithri dan Idul Adha, pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan rakaat kedua lima kali, selain dua takbir ruku"   
Berkata Imam Al-Baghawi:  "Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat dan orang setelah mereka, bahwa beliau صلي الله عليه وسلم bertakbir pada rakaat pertama shalat Ied sebanyak tujuh kali selain takbir pembukaan, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca (Al-Fatihah). Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya" (Ia menukilkan nama-nama yang berpendapat demikian, sebagaimana dalam Syarhus Sunnah 4/309. Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam 24/220,221) 
Ketiga :
Tidak ada yang shahih satu riwayatpun dari Nabi صلي الله عليه وسلم bahwa beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan mengucapkan takbir-takbir shalat Ied.
Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata: "Ibnu Umar -dengan semangat ittiba'nya kepada Rasul- mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan setiap takbir" (Zadul Ma'ad 1/441) 
Aku katakan : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi صلي الله عليه وسلم.  Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam Tamamul Minnah hal 348:  "Mengangkat tangan ketika bertakbir dalam shalat Ied diriwayatkan dari Umar dan putranya -رضى الله عنهما-, tidaklah riwayat ini dapat dijadikan sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat Umar dan putranya di sini tidak shahih.  Adapun dari Umar, Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan sanad yang dlaif (lemah). Sedangkan riwayat dari putranya, belum aku dapatkan sekarang" 
Dalam Ahkmul Janaiz hal 148, berkata Syaikh kami : "Siapa yang menganggap bahwasanya Ibnu Umar tidak mengerjakan hal itu kecuali dengan tauqif dari Nabi صلي الله عليه وسلم, maka silakan ia untuk mengangkat tangan ketika bertakbir". 
Keempat:
Tidak shahih dari Nabi صلي الله عليه وسلم satu dzikir tertentu yang diucapkan di antara takbir-takbir Ied. Akan tetapi ada atsar dari Ibnu Mas'udرضي الله عنه  tentang hal ini. Ibnu Mas'ud berkata mengenai shalat Id   "Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah عزّوجلّ " 
Berkata Ibnul Qoyyim رحمه الله:  "(Nabi صلي الله عليه وسلم) diam sejenak di antara dua takbir, namun tidak dihapal dari beliau dzikir tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir tersebut". 
Aku katakan: Apa yang telah aku katakan dalam masalah mengangkat kedua tangan bersama takbir, juga akan kukatakan dalam masalah ini. 
Kelima :
Apabila telah sempurna takbir, mulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu membaca surat Qaf pada salah satu rakaat dan pada rakaat lain membaca surat Al-Qamar. Terkadang dalam dua rakaat itu beliau membaca surat Al-A'la dan surat Al-Ghasyiyah.   
Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله:  "Telah shahih dari beliau bacaan surat-surat ini, dan tidak shahih dari belaiu selain itu"
Keenam :
(Setelah melakukan hal di atas) selebihnya sama seperti shalat-shalat biasa, tidak berbeda sedikitpun.   
Ketujuh :
Siapa yang luput darinya (tidak mendapatkan) shalat Ied berjama'ah, maka hendaklah ia shalat dua raka'at. 
Dalam hal ini berkata Imam Bukhari رحمه الله dalam Shahihnya: "Bab : Apabila seseorang luput dari shalat Id hendaklah ia shalat dua raka'at" (Shahih Bukhari 1/134, 135) 
Al-Hafidzh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/550 berkata setelah menyebutkan tarjumah ini (judul bab yang diberi oleh Imam Bukhari di atas).  Dalam tarjumah ini ada dua hukum: 
1.    Disyariatkan menyusul shalat Ied jika luput mengerjakan secara berjamaah, sama saja apakah dengan terpaksa atau pilihan. 
2.    Shalat Id yang luput dikerjakan diganti dengan shalat dua raka'at
Berkata Atha' رحمه الله: "Apabila seseorang kehilangan shalat Ied hendaknya ia shalat dua rakaat" (sama dengan di atas) 
Al-Allamah Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan:  "Ini adalah madzhabnya Syafi'i, yaitu jika seseorang tidak mendapati shalat Ied bersama imam, maka hendaklah ia shalat dua rakat, sehingga ia mendapatkan keutamaan shalat Ied sekalipun luput darinya keutamaan shalat berjamaah dengan imam". 
Adapun menurut madzhab Hanafi, tidak ada qadla  untuk shalat Ied. Kalau kehilangan shalat bersama imam, maka telah hilang sama sekali"   
Berkata Imam Malik dalam Al-Muwaththa  "Setiap yang shalat dua hari raya sendiri, baik laki-laki maupun perempuan, maka aku berpendapat agar ia bertakbir pada rakaat pertama tujuh kali sebelum membaca (Al-Fatihah) dan lima kali pada raka'at kedua sebelum membaca (Al-Fatihah)"  Orang yang terlambat dari shalat Id, hendaklah ia melakukan shalat yang tata caranya seperti shalat Id. sebagaimana shalat-shalat lain. (Al-Mughni 2/212) 
Kedelapan :
Takbir (shalat Ied) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan. Namun orang yang meninggalkannya dengan sengaja -tanpa diragukan lagi- berarti menyelisihi sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم.

No comments:

Post a Comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Wikipedia

Search results