Pertama:
Jumlah
raka'at shalat Ied ada dua berdasaran riwayat Umar رضي الله عنه.
صَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ
الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Shalat
safar itu ada dua raka'at, shalat Idul Adha dua raka'at dan shalat Idul Fithri
dua raka'at. (Semua itu dikerjakan) dengan sempurna bukan qashar berdasarkan
sabda Muhammad صلي الله عليه وسلم"
Kedua:
Rakaat
pertama, seperti halnya semua shalat, dimulai dengan takbiratul ihram,
selanjutnya bertakbir sebanyak tujuh kali. Sedangkan pada rakaat kedua bertakbir
sebanyak lima kali, tidak termasuk takbir intiqal (takbir perpindahan dari satu
gerakan ke gerakan lain)
Dari
Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ
فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ
خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوعِ
“Sesungguhnya
Rasulullah صلي الله عليه وسلم bertakbir dalam shalat Idul Fithri dan Idul
Adha, pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan rakaat kedua lima kali, selain
dua takbir ruku"
Berkata
Imam Al-Baghawi: "Ini merupakan
perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat dan orang setelah mereka,
bahwa beliau صلي الله عليه وسلم bertakbir pada rakaat pertama shalat Ied
sebanyak tujuh kali selain takbir pembukaan, dan pada rakaat kedua sebanyak lima
kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca (Al-Fatihah). Diriwayatkan
yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya" (Ia menukilkan nama-nama
yang berpendapat demikian, sebagaimana dalam Syarhus Sunnah 4/309. Lihat
Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam 24/220,221)
Ketiga
:
Tidak
ada yang shahih satu riwayatpun dari Nabi صلي الله عليه وسلم bahwa beliau mengangkat kedua tangannya
bersamaan dengan mengucapkan takbir-takbir shalat Ied.
Akan
tetapi Ibnul Qayyim berkata: "Ibnu Umar -dengan semangat ittiba'nya kepada
Rasul- mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan setiap takbir" (Zadul Ma'ad
1/441)
Aku
katakan : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi صلي الله عليه وسلم.
Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam Tamamul Minnah hal 348: "Mengangkat tangan ketika bertakbir dalam
shalat Ied diriwayatkan dari Umar dan putranya -رضى الله عنهما-, tidaklah riwayat ini dapat dijadikan
sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat Umar dan putranya di sini tidak
shahih. Adapun dari Umar, Al-Baihaqi
meriwayatkannya dengan sanad yang dlaif (lemah). Sedangkan riwayat dari
putranya, belum aku dapatkan sekarang"
Dalam
Ahkmul Janaiz hal 148, berkata Syaikh kami : "Siapa yang menganggap
bahwasanya Ibnu Umar tidak mengerjakan hal itu kecuali dengan tauqif dari Nabi
صلي الله عليه وسلم, maka silakan ia untuk mengangkat tangan
ketika bertakbir".
Keempat:
Tidak
shahih dari Nabi صلي الله عليه وسلم satu dzikir tertentu yang diucapkan di
antara takbir-takbir Ied. Akan tetapi ada atsar dari Ibnu Mas'udرضي الله عنه
tentang hal ini. Ibnu Mas'ud berkata mengenai shalat Id "Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian
dan sanjungan kepada Allah عزّوجلّ "
Berkata
Ibnul Qoyyim رحمه الله:
"(Nabi صلي الله عليه وسلم) diam sejenak di antara dua takbir, namun
tidak dihapal dari beliau dzikir tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir
tersebut".
Aku
katakan: Apa yang telah aku katakan dalam masalah mengangkat kedua tangan
bersama takbir, juga akan kukatakan dalam masalah ini.
Kelima
:
Apabila
telah sempurna takbir, mulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu membaca surat
Qaf pada salah satu rakaat dan pada rakaat lain membaca surat Al-Qamar. Terkadang dalam dua rakaat itu beliau membaca
surat Al-A'la dan surat Al-Ghasyiyah.
Berkata
Ibnul Qayyim رحمه الله:
"Telah shahih dari beliau bacaan surat-surat ini, dan tidak shahih dari
belaiu selain itu"
Keenam
:
(Setelah
melakukan hal di atas) selebihnya sama seperti shalat-shalat biasa, tidak
berbeda sedikitpun.
Ketujuh
:
Siapa
yang luput darinya (tidak mendapatkan) shalat Ied berjama'ah, maka hendaklah ia
shalat dua raka'at.
Dalam
hal ini berkata Imam Bukhari رحمه الله dalam Shahihnya: "Bab : Apabila
seseorang luput dari shalat Id hendaklah ia shalat dua raka'at" (Shahih Bukhari
1/134, 135)
Al-Hafidzh
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/550 berkata setelah menyebutkan tarjumah
ini (judul bab yang diberi oleh Imam Bukhari di atas). Dalam tarjumah ini ada dua hukum:
1.
Disyariatkan
menyusul shalat Ied jika luput mengerjakan secara berjamaah, sama saja apakah
dengan terpaksa atau pilihan.
2.
Shalat
Id yang luput dikerjakan diganti dengan shalat dua raka'at
Berkata
Atha' رحمه الله: "Apabila seseorang kehilangan shalat Ied
hendaknya ia shalat dua rakaat" (sama dengan di atas)
Al-Allamah
Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan: "Ini
adalah madzhabnya Syafi'i, yaitu jika seseorang tidak mendapati shalat Ied
bersama imam, maka hendaklah ia shalat dua rakat, sehingga ia mendapatkan
keutamaan shalat Ied sekalipun luput darinya keutamaan shalat berjamaah dengan
imam".
Adapun
menurut madzhab Hanafi, tidak ada qadla untuk shalat Ied. Kalau kehilangan shalat
bersama imam, maka telah hilang sama sekali"
Berkata
Imam Malik dalam Al-Muwaththa "Setiap yang shalat dua hari raya sendiri,
baik laki-laki maupun perempuan, maka aku berpendapat agar ia bertakbir pada
rakaat pertama tujuh kali sebelum membaca (Al-Fatihah) dan lima kali pada
raka'at kedua sebelum membaca (Al-Fatihah)"
Orang yang terlambat dari shalat Id, hendaklah ia melakukan shalat yang
tata caranya seperti shalat Id. sebagaimana shalat-shalat lain.
(Al-Mughni 2/212)
Kedelapan
:
Takbir
(shalat Ied) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan meninggalkannya secara
sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan. Namun orang yang meninggalkannya dengan
sengaja -tanpa diragukan lagi- berarti menyelisihi sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم.

No comments:
Post a Comment