Oleh: Ayatullah Ja'far Subhani
Akhir-akhir ini marak perkembangan gerakan “Keagamaan” yang di sebut sebagai gerakan
Salafi. Sering mereka mengklaim bahwa mereka hadir bermaksud menghidupkan
kembali ajaran ulama salaf untuk menyelamatkan umat dari amukan dan badai
fitnah yang melanda dunia Islam hari ini. Acapkali gerakan ini menegaskan bahwa
kelompok yang selain mereka tidak ada jaminan memberikan alternatif (Keselamatan).Tidak
jarang juga mereka mengklaim bahwa golongan yang selamat yang dinubuatkan oleh Nabi Saw adalah golongan mereka. Tentu
saja, konsekuensi dari klaim ini adalah menafikan kelompok yang lain. Artinya
bahwa kelompok mereka yang benar selainnya adalah sesat (itsbat asy-syai yunafi maa adahu).
Kalau kita mau berkaca pada sejarah, gerakan
Salafi ini sebenarnya bukan gerakan baru. Mereka bermetamorfosis dari gerakan pemurnian ajaran Islam Wahabi yang di kerangka
konsep pemikiranyna oleh Ibn Taimiyah
yang kemudian di besarkan oleh muridnya Muhammad
bin Abdulwahab, menjadi gerakan Salafi. Metamorfosis ini jelas untuk memperkenalkan
ajaran usang dengan pendekatan dan nama baru. Pertanyaan yang mendasar yang
harus diajukan di sini adalah apakah Salafi itu identik dengan mazhab jumhur,
Ahlusunnah? Kalau tidak identik, bagaimana pandangan Ahlusunnah terhadap
kelompok Salafi ini (Wahabi)?
Bagaimanakah sikap ulama Ahlsunnah terhadap
kelompok ini, dan literatur-literatur tekstual apa saja yang telah ditulis oleh
para ulama ahli sunnah untuk menjawab pemikiran Wahabi? Tulisan ringan ini
berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan asumtif di atas. Kami persilahkan Anda
untuk menyimak tulisan berikut ini yang merupakan hasil wawancara jurnal Kalam
Islami dengan Ayatullah Ja'far Subhani.
Founding Father Wahabi
Wahabi adalah sebuah aliran pemikiran yang
muncul pada awal abad ke-8 H. yang dicetuskan oleh Ahmad bin Taimiyah. Ia lahir
pada tahun 661 HQ, 5 tahun setelah kejatuhan pemerintahan khilafah Abbasiyah di
Baqdad. Pemikiran kontroversialnya yang ia lontarkan pertama kali pada tahun
698, pada masa mudanya dalam risalahnya yang bernama (Aqidah hamwiyah), sebagai
jawaban atas pertanyaan masyarakat Hamat (Suriah) dalam menafsirkan ayat (Ar-rahman
ala al-Arsy istawaa) artinya: “Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas
Arsy” dimana ia mengatakan bahwa; Allah Swt bersemayam di atas kursi di langit
dan bersandar padanya.
Risalah tersebut di cetak dan di sebarkan di
Damaskus dan sekitarnya, yang menyebabkan para ulama Ahlusunnahdengan suara
bulat melakukan kritikan dan kecaman terhadap pemikirannya, akan tetapi dengan
berlalunya waktu, Ibn Taimiyah dengan pemikiran kontroversialnya malah semakin
berani.
Dengan alasan itulah, pada akhirnya di tahun 705
pengadilan menjatuhkan hukuman pengasingan ke Mesir. Kemudian pada tahun 712 Ia
kembali lagi ke Syam. Di Syam Ibn Taimiyah kembali bergerilya melakukan
penyebaran paham-paham kontroversial. Akhirnya pada tahun 721 dia dimasukkan ke
dalam penjara dan pada tahun 728 meninggal di dalamnya.
Penyikapan dan tulisan-tulisan para ulama
terkemuka Ahlusunnah pada waktu itu, merupakan sebuah bukti dalam catatan
sejarah yang tidak akan pernah terhapus atas penolakan pemikiran Ahmad Ibn
Taimiyah.
ü Ibn Batutah misalnya; yang terkenal sebagai seorang
pengelana dalam catatan perjalanannya, atau masyhur dengan “peninggalan Ibn
Batutah” menulis :
“
Ketika saya di Damaskus, saya melihat Ibn Taimiyah berceramah dalam berbagai
bidang ilmu pengetahuan, akan tetapi sangat disayangkan ceramahnya itu terkesan
tidak memiliki sisi rasionalitas,[1] lanjut
beliau: Ibn Taimiyah pada hari jumat di sebuah mesjid sedang memberi nasehat
dan bimbingan kepada hadirin, dan saya turut hadir dalam acara tersebut, salah
satu dari isi ceramah Ibn Taimiyah adalah sebgai berikut: “ Allah SWT dari atas Arsy turun ke langit pertama, seperti saya
turun dari mimbar ”, pernyataan tersebut dia lontarkan dan dengan segera
dia pun satu tangga turun dari mimbarnya,” tiba-tiba seorang Faqih mazhab
Maliki yang bernama Ibn Zuhra berdiri, dan menolak pandangan ibnu taimiyyah.
para jemaah pendukung Ibn Taimiyah berdiri, dan mereka memukul faqih mazhab
Maliki yang protes tersebut dan melemparinya dengan sepatu.[2]
Itulah
salah satu contoh aqidah Ibn Taimiyah yang disaksikan secara langsung oleh Ibn
batutah sebagai saksi yang netral dan tidak berpihak, dia mendengar dengan
telinganya secara langsung dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Semoga
Allah melindungi kita dari orang-orang yang menjelaskan aqidah dan makrifat
Islam berdasarkan pemikiran tersebut.
Tak syak lagi bahwa Ibn Taimiyah dengan berbagai
kelemahan yang dimiliki, tetap memiliki sisi positif walaupun sangat terbatas (Tak
ada keburukan mutlak di dunia). Dan yang di sayangkan adalah para pengikutnya
hanya melihat sisi positif Ibn Taimiyah saja, dan menolak serta menutup-nutupi
sisi kelemahan dan negatifnya secara membabi buta.
Bagaimanapun juga bagi para pemikir yang bebas
dan merdeka yang lebih mencintai kebenaran hakiki daripada Plato akan melihat
arah positif dan negatifnya dan mengkritisi pemikiran Ibnu Taimiyyah, orang-orang
di bawah ini dapat di kategorikan sebagai para pakar dan akademisi Syam dan
Mesir di zamannya, mereka mengatakan bahwa pemikiran Ibn Taimiyah telah merubah
ajaran-ajran para nabi dan wali Allah. Dan untuk menolak dan mengkritisi pemikiran
ibn Taimiyyah mereka menulis buku sebagai berikut:
- Syeikh Sofiyuddin Hindi Armawi (644-715Q)
- Syeikh Syahabuddin bin Jahbal Kalabi Halabi (733)
- Qadhi al-Qodhaat Kamaluddin Zamlakany (667-733)
- Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Dzahabi(748)
- Sadruddin Marahhil ( wafat 750)
- Ali bin Abd al Ka’fi Subki ( 756)
- Muhammad bin Syakir Kutby (764)
- Abu Muhammad Abdullah bin As’ad Yaafi’i (698-768)
- Abu Bakar Hasni Dimasyqy (829)
- Shahabuddin Ahmad bin Hajar ‘Asqalany (852)
- Jamaluddin Yusuf bin Taqari Ataabaqi (812-874)
- Shahabuddin bin Hajar Ha’itami (973)
- Mulla Ali Qari Hanafi (1016)
- Abul Ais Ahmad bin Muhammad Maknasi terkenal dengan Abul Qadhi’ (960-1025)
- Yusuf bin Ismail bin Yusuf Nabhani(1265-1350)
- Syeikh Muhammad Kausari Misry (1371)
- Syeikh Salamah Qadha’i Azami (1379)
- Syeikh Muhammad Abu Zahrah (1316-1396)[3]
Sebagian dari mereka
menulis buku khusus untuk mengkritik pemikiran Ibn Taimiyah. Seperti Taqiyuddin
Subki dalam kritiknya terhadap Ibn Taimiyah menulis dua buah kamib yang
berjudul Syifau al siqomi fi ziarati
khoirul anami dan Ad-Durrot al madiati fii radi ala Ibni taimiyah.
Kritikan yang terus
menerus yang di lakukan oleh para cendekiawan muslim sunni terhadap Ibn
Taimiyah menyebabkan doktrin-doktrin pemikirannya terkubur, dan dengan
berlalunya zaman ajarannya perlahan-lahan terlupakan, aliran pemikiran ibn
taimiyyah tidak ada yang tersisa kecuali dalam buku-buku yang ditulis oleh
muridnya yang bernama Ibn Qayyum Jauzi (691-751), bahkan ibn Qayyum dalam kitab (Ar-Ruuh) menentang pandangan gurunya
sendiri.
Muhammad bin Abdul Wahab
Pelanjut Pemikiran Ibn Taimiyah di Abad 12
Muhammad bin Abdul Wahab dilahirkan pada tahun
1115 di kota Uyinah bagian dari kota Najad. Semasa belajar di Madinah para
gurunya merasa khawatir akan masa depan muridnya itu, karena terkadang
pernyataan-pernyataan ekstrim dan keliru terucap dari lisannya, sampai-sampai
mereka berkata, :“ jika Muhammad bin
Abdul Wahab pergi bertabliqh, pasti ia akan menyesatkan sebagian masyarakat.”[4]
Selagi ayahnya masih hidup, Muhammad bin abdul
Wahab adalah tipe seorang yang pendiam, tetapi setelah wafat ayahnya pada tahun
1153, tirai yang menghalangi keyakinannya terkuak.[5]
Dua
aspek yang membantu penyebaran dakwah Muhammad bin Abdul Wahab ditengah-tengah
masyarakat arab Baduy Najad yaitu:
1.
Mendukung
sistem politik keluarga Su’ud
2.
Menjauhkan
masyarakat Najad dari peradaban, ilmu pengetahuan dan keotentikan ajaran Islam.
Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab dengan
slogannya pemurnian tauhid dan perlawanan kepada syirik secara pelan-pelan
mengalami perkembangan bahkan berhasil menarik perhatian orang yang jauh dari
najad seperti Amir Muhammad bin Ismail San’ani (1099-1186) penulis buku “Subulussalam”
dalam syarahnya (Bulughul murom) yang menerima dan mengikuti ajarannya, dan
dalam sebuah qasidahnya berbunyi sebagai berikut:
Salam alaa najadi wa man
halli fii najdi Wa in kaana taslimi alal abdi laa yuzdii
(Salam
bagi Najad dan siapa saja yang ada disana yang memiliki tempat,Walau tak
seberapa salam saya dari jarak jauh memberi kebaikan)
Akan tetapi ketika dia menyadari pembunuhan,
perbuatan keji dan penyerangan terhadap kaum muslimin di lakukan oleh para
pengikut Abdul Wahab yang di prakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri.
Penyesalan itu dia lontarkan kembali dalam alunan qasidahnya, berikut bunyinya:
Raja’tu anil qauli
allazi qultu fi najdi Wa qod shahha anhu. Khulafulladzi indi
Dalam
perkataan lalu tentang lelaki itu (Muhammad Ibn Abdul Wahhab) saya tarik
kembali, karena kesalahan sesuatu yang berkenaan dengan Ia telah diketahui dan
sudah jelas bagi saya.
Setelah berkembangnya pemikiran Wahabi, orang
pertama yang menolak terhadap paham wahabisme itu adalah saudaranya sendiri,
yakni Sulaiman bin Abdul Wahab dalam buku (As-Sowaa’iqul illahiyyah). Setelah
beliau, banyak para ulama dan tokoh-tokoh pemuka Ahlusunnah lainnya melontarkan
kritikan terhadap pahamnya itu. Barangkali lebih dari 100 judul buku yang telah
ditulis untuk menentang pemikiran abdul wahab tersebut, di antaranya:
1)
Abdullah
bin Lathif Sya’fii penulis (Tajrid Syaiful al-jihad lil Mudda’i al–Ijtihad)
2)
Afifuddin
Abdullah bin Dawud Hanbali penulis (As-sawa’iq wa al-Ruduud)
3)
Muhammad
bin Abdurrahman bin Afalik Hanbali penulis (Tahkamu al-Muqalladin biman ad’i
Tajdidi ad-Diin)
4)
Ahmad
bin Ali bin Luqbaani Basri penulis risalah kritik atas keyakinan anaknya Abdul
wahab.
5)
Syeikh
Atho’ Allah Makki, penulis (Al-Aarimul al-Hindi fi Unuqil Najdi)
Para cendikiawan Ahlusunnah inilah yang telah
menuliskan buku-buku dalam mengkritik dan menolak pemikiran Abdul wahab, dan
dan selain mereka masih banyak yang menulis buku dan untuk selengkapnya
silahkan anda merujuk buku Buhusul fi Milal wa Nihal ( juz 4, halaman
355-359).
Di kalangan syiah, yang pertama kali yang
mengkritik pemikiran wahabi adalah faqih
dan marja masyhur di dunia syiah; Almarhum
ayyatulah Syeikh Ja’far Kasyif al-Qittho (1226), yang berjudul Minhajjul Rissyadi liman araadas-Sadad,
beliau dengan bukunya tersebut telah menyingkap hakikat kebenaran, dan beliau
mengirim buku tersebut ke Amir Sa’ud bin Abdul Aziz (pemimpin ta’ashub wahabi).
Cucu beliau, Almarhum Ayatullah Syeikh Muhammad Husein Ali Khasyif al Qitto,
juga menulis sebuah buku yang berjudul ‘’Al-Aayat
al-Bayyinat fi Qam’il Bidai wa Dzolalat, dengan pendekatan logika (akal)
dan naql (wahyu), sebagai upaya kritikan dan perlawanan atas paham wahabi yang
telah merusak dan menghancurkan makam suci para imam Ahlubait as di Madinah
pada tahun 1344 HQ.
Sebuah buku yang paling masyhur dari ulama Syiah
dalam mengkritik wahabi dengan pendekatan yang logis, buku berjudul ‘’Kasyful irtiyob an itba’ Muhammad bin
Abdul Wahab), yang ditulis oleh Allamah Ayyatullah Sayyid Muhsin Amuli, buku
ini, sangat bagus di tela’ah dan akan membuka wacana pemikiran terutama bagi
para peneliti.[6]
Pembaharuan Pemikiran
dalam Aliran Wahabi
Paham wahabi dengan pondasi pemikiran Salafi
menentang seluruh bentuk perubahan dalam kehidupan umat manusia. Ketika Abdul
Aziz bin Abdurrahman pada tahun 1344 Q menjadi penguasa dua haram yang suci
(mekkah al mukarramah dan madinah al munawwarah), terpaksa harus membangung dan
mengatur system pemerintahannya sesuai dengan model pemerintahan pada umumnya
ketika itu dan merubah pola kehidupan wahabi yang sesuai dengan kebiasaan arab
Baduy-Najad. Dan ia menyetujui mengimpor produk teknologi modern ketika itu seperti
telegraf, telephon, sepeda, mobil dan lain-lain. Dan sikapnya ini membakar api
kemarahan para pengikutnya yang muta’shib, menyebabkan terjadinya kejadian
tragedi berdarah yang terkenal dalam sejarah sebagai peristiwa “berdarah Akhwan”.
Ahmad Amin, penulis asal Mesir, ketika membahas
tentang kelompok Wahabi, mengatakan bahwa pemikiran wahabi sekarang yang
berkembang ini pada hakikatnya 100 persen bertolak belakang dengan pemikiran
wahabi di masa lalu. Ahmad Amin menulis: “Wahabi
menolak peradaban baru dan tuntutan peradaban baru dan modern, mayoritas di
antara mereka meyakini bahwa hanya Negaranyalah sebagai negara islam sementara
Negara-negara lain bukan Negara islam karena negara-negara tersebut telah
menciptakan bid’ah bahkan menyebar luaskannya dan wajib bagi mereka memerangi
Negara tersebut.
Semasa Ibn Sa’ud berkuasa, ia menghadapi dua
kekuatan besar dan tidak jalan lain kecuali harus memilih salah satunya yaitu :
Pertama; pemuka-pemuka
agama yang tinggal di Najad memiliki akar pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab
yang menolak dengan keras segala bentuk perubahan dan peradaban baru.
Kedua;
arus peradaban baru yang dalam system pemerintahn sangat membutuhakn alat
tekhnoligi modern tersebut.
Pemerintahan, mengambil jalan tengah dari kedua
kekuatan tersebut dengan cara mengakui Negara-negara islam yang lain sebagai
negar Islam dan juga di samping menggiatkan pengajaran agama mereka juga
memberikan pengajaran peradaban modern dan mengatur sistem pemerintahannya
berdasarkan sistem pemerintahan modern. Untungnya para pemimpin Negara Saudi
telah lelah melayani cara berpikir dan aturan-aturan kering dan kaku pemikiran
wahabi yang menjauhkan kaum muslimin dari sunnah dan warisan sejarah yang di yakini
seluruh kaum muslimin dan menghancurkan tempat-tempat suci mereka juga
menafikan seluruh bentuk penemuan baru dan menganggapnya sebagai bid’ah. Dan
dengan memperhatikan serangkaian peristiwa yang tidak dapat ditutup-tutupi lagi
(seperti bertambahnya tekanan dan ancaman
Amerika dan Israel terhadap Negara-negara Islam dan Negara-negara Arab setiap
hari dan kehadiran dan peran aktif pemerintahan Republik Islam Iran dalam hidup
berdampingan dan damai dengan Negara-negara tetangganya serta memimpin
perlawanan terhadap hegemoni yahudi).
Hal tersebut di atas menyebabkan secara perlahan-perlahan
pandangan negara Arab Saudi menjadi netral dan stabil terhadap negara Republik
Islam Iran bahkan lebih dari itu mereka meninjau kembali ajaran-ajaran kering
wahabi serta pengkafiran kaum muslimin. tidak ada yang lebih indah yang dilakukan
oleh Negara yang menjadi tuan rumah umat islam pada perhelatan akbar ibadah
haji setiap tahun, kecuali menjadi negara netral dan meninjau kembali pandangan
mereka selama ini.
[1] Matan
asli arabnya sebagai berikut : (Wa Kaana fi aqlihi sayyi’un)
[2] Rihlah
Ibn Batutah : 95-96, sesuai dengan terbitan tahun 1384
[3] Untuk
lebih jauh mengetahui pribadi-pribadi diatas, silahkan anda merujuk ke kami berikut: Buhusu
fi Milal wa Nihal, Juz 4, hal. 37-50)
[4] Ja’milul
sidqi zahaawi,Al-Fajru as- Shadiq, hal.17, musnad Ahmad Zaini Dahlan, Fitnah
Wahabi, hal 66.
[5] Alusi, Sejarah
Najad, hal. 111, 113.
[6] Untuk
lebih jauhnya tentang refensi lain dari ulama syiah tentang permasalah diatas,
silahkan anda rujuk ke bukunya (Buhusu fi Milal wa Nuhal), Juz 4, hal. 359-360)
Siapakah
Wahhabi?
Oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Selubung
Makar di Balik Julukan Wahhabi
Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia
Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah
tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi
rahimahullahu1. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah
untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan
apa rahasia di balik itu semua …?
Para pembaca, dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia.
Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah.
Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian
jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena
ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun
ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang di emban Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Musuh-musuh tersebut dapat di klasifikasikan
sebagai berikut:
1. Di Najd dan sekitarnya: Para ulama suu` yang
memandang al-haq sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai al-haq. Orang-orang
yang dikenal sebagai ulama namun tidak mengerti tentang hakekat Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Orang-orang yang takut kehilangan
kedudukan dan jabatannya. (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula
Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir hal.90-91, ringkasan
keterangan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz)
2. Di dunia secara umum: Mereka adalah kaum
kafir Eropa; Inggris, Prancis dan lain-lain, Daulah Utsmaniyyah, kaum Shufi,
Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun dan pergerakan Islam; Al-Ikhwanul Muslimin, Hizbut
Tahrir, Al-Qaeda, dan para kaki tangannya. (Untuk lebih rincinya lihat kajian
utama edisi ini/ Musuh-Musuh Dakwah Tauhid) Bentuk permusuhan mereka beragam.
Terkadang dengan fisik (senjata) dan terkadang dengan fitnah, tuduhan dusta,
isu negatif dan sejenisnya. Adapun fisik (senjata), maka banyak diperankan oleh
Dinasti Utsmani yang bersekongkol dengan barat (baca: kafir Eropa) –sebelum
keruntuhannya–. Demikian pula Syi’ah Rafidhah dan para hizbiyyun. Sedangkan
fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya, banyak dimainkan oleh kafir
Eropa melalui para missionarisnya, kaum shufi, dan tak ketinggalan pula Syi’ah
Rafidhah dan hizbiyyun.
Dan
ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi pengikut dakwah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik sukses mereka untuk
menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut. Padahal, istilah
‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah
bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen)
tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk
penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah
tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam
wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162) Tak cukup sampai di situ.
Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan
keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang
dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya.
Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang mengerikan bagi
umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli dalam menerima informasi.
Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah.
Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang
yang tidak bertanggung jawab itu.
Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahhabi.
1. Tuduhan: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
adalah seorang yang mengaku sebagai Nabi, ingkar terhadap Hadits nabi,
merendahkan posisi Nabi, dan tidak mempercayai syafaat beliau.
Bantahan: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
adalah seorang yang sangat mencintai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal
ini terbukti dengan adanya karya tulis beliau tentang sirah Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, baik Mukhtashar Siratir Rasul, Mukhtashar Zadil Ma’ad Fi
Hadyi Khairil ‘Ibad atau pun yang terkandung dalam kitab beliau Al-Ushul
Ats-Tsalatsah.
Beliau berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam telah wafat –semoga shalawat dan salam-Nya selalu tercurahkan
kepada beliau, namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya; yang tidaklah
ada kebaikan kecuali pasti beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada
kejelekan kecuali pasti beliau peringatkan. Kebaikan yang telah beliau
sampaikan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan di ridhai
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedangkan kejelekan yang beliau peringatkan adalah
kesyirikan dan segala sesuatu yang di benci dan di murkai Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus beliau kepada seluruh umat manusia,
dan mewajibkan atas tsaqalain; jin dan manusia untuk menaatinya.” (Al-Ushul
Ats-Tsalatsah)
Beliau juga berkata: “Dan jika kebahagiaan umat
terdahulu dan yang akan datang karena mengikuti para Rasul, maka dapatlah
diketahui bahwa orang yang paling berbahagia adalah yang paling berilmu tentang
ajaran para Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling
mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalan mereka serta benar-benar
mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling berbahagia di setiap
masa dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam setiap agama. Dan
dari umat ini adalah Ahlus Sunnah wal Hadits.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 2/21)
Adapun tentang syafa’at Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam, maka beliau berkata dalam suratnya kepada penduduk Qashim: “Aku
beriman dengan syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliaulah orang
pertama yang bisa memberi syafaat dan juga orang pertama yang diberi syafaat.
Tidaklah mengingkari syafa’at Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini kecuali
ahlul bid’ah lagi sesat.” (Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah,
hal. 118)
2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait
2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait
Bantahan:
Beliau berkata dalam Mukhtashar Minhajis Sunnah:
“Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai hak atas umat
ini yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan kecintaan
dan loyalitas yang lebih besar dari seluruh kaum Quraisy…” (Lihat ‘Aqidah
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/446)
Di antara bukti kecintaan beliau kepada Ahlul
Bait adalah dinamainya putra-putra beliau dengan nama-nama Ahlul Bait: ‘Ali,
Hasan, Husain, Ibrahim dan Abdullah.
3.
Tuduhan: Bahwa beliau sebagai Khawarij, karena telah memberontak terhadap
Daulah ‘Utsmaniyyah. Al-Imam Al-Lakhmi telah berfatwa bahwa Al-Wahhabiyyah
adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij ‘Ibadhiyyah, sebagaimana
disebutkan dalam kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin
Muhammad Al-Wansyarisi, juz 11.
Bantahan:
Bantahan:
Adapun
pernyataan bahwa Asy-Syaikh telah memberontak terhadap Daulah Utsmaniyyah, maka
ini sangat keliru. Karena Najd kala itu tidak termasuk wilayah teritorial
kekuasaan Daulah Utsmaniyyah. Demikian pula sejarah mencatat bahwa kerajaan
Dir’iyyah belum pernah melakukan upaya pemberontakan terhadap Daulah
‘Utsmaniyyah. Justru merekalah yang berulang kali diserang oleh pasukan Dinasti
Utsmani. Lebih dari itu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan –dalam
kitabnya Al-Ushulus Sittah–: “Prinsip ketiga: Sesungguhnya di antara (faktor
penyebab) sempurnanya persatuan umat adalah mendengar lagi taat kepada pemimpin
(pemerintah), walaupun pemimpin tersebut seorang budak dari negeri Habasyah.” Dari
sini nampak jelas, bahwa sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap
waliyyul amri (penguasa) sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, dan bukan ajaran Khawarij.
Mengenai
fatwa Al-Lakhmi, maka yang dia maksudkan adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman
bin Rustum dan kelompoknya, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para
pengikutnya. Hal ini karena tahun wafatnya Al-Lakhmi adalah 478 H, sedangkan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli
1792 M. Amatlah janggal bila ada orang yang telah wafat, namun berfatwa tentang
seseorang yang hidup berabad-abad setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin
Abdurrahman bin Rustum, maka dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah
tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikutnya, Al-Lakhmi merupakan
mufti Andalusia dan Afrika Utara, dan fitnah Wahhabiyyah Rustumiyyah ini
terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi, hubungan antara Najd
dengan Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh. Sehingga bukti sejarah ini
semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah Khawarij yang diperingatkan Al-Lakhmi
adalah Wahhabiyyah Rustumiyyah, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan
para pengikutnya. Lebih dari itu, sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
terhadap kelompok Khawarij sangatlah tegas. Beliau berkata –dalam suratnya
untuk penduduk Qashim–: “Golongan yang selamat itu adalah kelompok pertengahan
antara Qadariyyah dan Jabriyyah dalam perkara taqdir, pertengahan antara
Murji`ah dan Wa’idiyyah (Khawarij) dalam perkara ancaman Allah Subhanahu wa
Ta'ala, pertengahan antara Haruriyyah (Khawarij) dan Mu’tazilah serta antara
Murji`ah dan Jahmiyyah dalam perkara iman dan agama, dan pertengahan antara
Syi’ah Rafidhah dan Khawarij dalam menyikapi para shahabat Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula
Al-Wahhabiyyah, hal 117). Dan masih banyak lagi pernyataan tegas beliau tentang
kelompok sesat Khawarij ini.
4. Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan
menghalalkan darah mereka.
Bantahan:
Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: “Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami...?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)
Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: “Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami...?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)
5. Tuduhan: Wahhabiyyah adalah madzhab baru dan
tidak mau menggunakan kitab-kitab empat madzhab besar dalam Islam.
Bantahan:
Hal ini sangat tidak realistis. Karena beliau mengatakan dalam suratnya kepada Abdur rahman As-Suwaidi: “Aku kabarkan kepadamu bahwa aku alhamdulillah adalah seorang yang berupaya mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru. Dan agama yang aku peluk adalah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dianut para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya.” (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 75)
Hal ini sangat tidak realistis. Karena beliau mengatakan dalam suratnya kepada Abdur rahman As-Suwaidi: “Aku kabarkan kepadamu bahwa aku alhamdulillah adalah seorang yang berupaya mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru. Dan agama yang aku peluk adalah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dianut para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya.” (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 75)
Beliau juga berkata dalam suratnya kepada
Al-Imam Ash-Shan’ani: “Perhatikanlah semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala
merahmatimu apa yang ada pada Rasulullah Shallal lahu 'alaihi wa sallam, para
shahabat sepeninggal beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik
hingga hari kiamat. Serta apa yang diyakini para imam panutan dari kalangan
ahli hadits dan fiqh, seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin
Hanbal –semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai mereka–, supaya engkau bisa
mengikuti jalan/ ajaran mereka.” (Ad-Durar As-Saniyyah 1/136)
Beliau juga berkata: “Menghormati ulama dan
memuliakan mereka meskipun terkadang (ulama tersebut) mengalami kekeliruan,
dengan tidak menjadikan mereka sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, merupakan
jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun
mencemooh perkataan mereka dan tidak memuliakannya, maka ini merupakan jalan
orang-orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta'ala (Yahudi).” (Majmu’ah
Ar-Rasa`il An-Najdiyyah, 1/11-12. Dinukil dari Al-Iqna’, karya Asy-Syaikh
Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, hal.132-133)
6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkarul munkar)
6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkarul munkar)
Bantahan:
Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru beliaulah orang yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasehat beliau kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan dakwah (inkarul munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan (teknis) dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas kebenaran. Yaitu mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga menimbulkan perpecahan di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: ‘Seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar membutuhkan tiga hal: berilmu tentang apa yang akan dia sampaikan, bersifat belas kasihan ketika beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar terhadap segala gangguan yang menimpanya.’ Maka kalian harus memahami hal ini dan merealisasikannya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu ada pada orang yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikannya atau tidak memahaminya. Para ulama juga menyebutkan bahwasanya jika inkarul munkar akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh dilakukan. Aku mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah kusebutkan dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak melaksanakannya niscaya perbuatan inkarul munkar kalian akan merusak citra agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang membuat baik agama dan dunianya.”(Lihat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 176)
Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru beliaulah orang yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasehat beliau kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan dakwah (inkarul munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan (teknis) dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas kebenaran. Yaitu mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga menimbulkan perpecahan di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: ‘Seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar membutuhkan tiga hal: berilmu tentang apa yang akan dia sampaikan, bersifat belas kasihan ketika beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar terhadap segala gangguan yang menimpanya.’ Maka kalian harus memahami hal ini dan merealisasikannya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu ada pada orang yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikannya atau tidak memahaminya. Para ulama juga menyebutkan bahwasanya jika inkarul munkar akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh dilakukan. Aku mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah kusebutkan dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak melaksanakannya niscaya perbuatan inkarul munkar kalian akan merusak citra agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang membuat baik agama dan dunianya.”(Lihat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 176)
7. Tuduhan: Muhammad bin Abdul Wahhab itu
bukanlah seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar dari para syaikh, dan
mungkin saja ilmunya dari setan!
Jawaban:
Pernyataan ini menunjukkan butanya tentang biografi Asy-Syaikh, atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual terhadap umat. Bila di tengok sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal Al-Qur`an sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat berjamaah. Dan pada usia 20 tahun sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah (pergi) menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa`, Bashrah (yang kedua kalinya), Zubair, kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak,
Jawaban:
Pernyataan ini menunjukkan butanya tentang biografi Asy-Syaikh, atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual terhadap umat. Bila di tengok sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal Al-Qur`an sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat berjamaah. Dan pada usia 20 tahun sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah (pergi) menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa`, Bashrah (yang kedua kalinya), Zubair, kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak,
di antaranya adalah:
ü Di Najd: Asy-Syaikh
Abdul Wahhab bin Sulaiman dan Asy-Syaikh Ibrahim bin Sulaiman.
ü Di Makkah: Asy-Syaikh
Abdullah bin Salim bin Muhammad Al-Bashri Al-Makki Asy-Syafi’i.
ü Di Madinah: Asy-Syaikh
Abdullah bin Ibrahim bin Saif.
ü Asy-Syaikh Muhammad
Hayat bin Ibrahim As-Sindi Al-Madani,
ü Asy-Syaikh Isma’il bin
Muhammad Al-Ajluni Asy-Syafi’i,
ü Asy-Syaikh ‘Ali Afandi
bin Shadiq Al-Hanafi Ad-Daghistani,
ü Asy-Syaikh Abdul Karim
Afandi, Asy-Syaikh Muhammad Al Burhani, dan Asy-Syaikh ‘Utsman Ad-Diyarbakri.
ü Di Bashrah: Asy-Syaikh
Muhammad Al-Majmu’i.
ü Di Ahsa`: Asy-Syaikh
Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif Asy-Syafi’i.
8.
Tuduhan: Tidak menghormati para wali Allah, dan hobinya menghancurkan kubah/
bangunan yang dibangun di atas makam mereka.
Jawaban:
Pernyataan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menghormati para wali Allah Subhanahu wa Ta'ala, merupakan tuduhan dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku menetapkan (meyakini) adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada para wali Allah Subhanahu wa Ta'ala, hanya saja mereka tidak berhak diibadahi dan tidak berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang tidak dimampu kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.”
Pernyataan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menghormati para wali Allah Subhanahu wa Ta'ala, merupakan tuduhan dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku menetapkan (meyakini) adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada para wali Allah Subhanahu wa Ta'ala, hanya saja mereka tidak berhak diibadahi dan tidak berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang tidak dimampu kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.”
Adapun
penghancuran kubah/bangunan yang di bangun di atas makam mereka, maka beliau
mengakuinya –sebagaimana dalam suratnya kepada para ulama Makkah. Namun hal itu
sangat beralasan sekali, karena kubah/ bangunan tersebut telah dijadikan
sebagai tempat berdoa, berkurban dan bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Sementara Asy-Syaikh sudah mendakwahi mereka dengan segala cara, dan
beliau punya kekuatan (bersama waliyyul amri) untuk melakukannya, baik ketika
masih di ‘Uyainah ataupun di Dir’iyyah.
Hal
ini pun telah di fatwakan oleh para ulama dari empat madzhab. Sebagaimana telah
di fatwakan oleh sekelompok ulama madzhab Syafi’i seperti Ibnul Jummaizi,
Azh-Zhahir At-Tazmanti dll, seputar penghancuran bangunan yang ada di pekuburan
Al-Qarrafah Mesir. Al-Imam Asy-Syafi’i sendiri berkata: “Aku tidak menyukai
(yakni mengharamkan) pengagungan terhadap makhluk, sampai pada tingkatan
makamnya di jadikan sebagai masjid.” Al-Imam An-Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab
dan Syarh Muslim mengharamkam secara mutlak segala bentuk bangunan di atas
makam. Adapun Al-Imam Malik, maka beliau juga mengharamkannya, sebagaimana yang
dinukilkan oleh Ibnu Rusyd. Sedangkan Al-Imam Az-Zaila’i (madzhab Hanafi) dalam
Syarh Al-Kanz mengatakan: “Diharamkan mendirikan bangunan di atas makam.” Dan
juga Al-Imam Ibnul Qayyim (madzhab Hanbali) mengatakan: “Penghancuran kubah/
bangunan yang dibangun di atas kubur hukumnya wajib, karena ia dibangun di atas
kemaksiatan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Fathul
Majid Syarh Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh,
hal.284-286)
· Para pembaca, demikianlah
bantahan ringkas terhadap beberapa tuduhan miring yang ditujukan kepada
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Untuk mengetahui bantahan atas
tuduhan-tuduhan miring lainnya, silahkan baca karya-karya tulis Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian buku-buku para ulama lainnya seperti:
· Ad-Durar As-Saniyyah fil
Ajwibah An-Najdiyyah, disusun oleh Abdurrahman bin Qasim An-Najdi
· Shiyanatul Insan ‘An
Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, karya Al-‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani
Al-Hindi.
· Raddu Auham Abi Zahrah,
karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, demikian pula buku bantahan
beliau terhadap Abdul Karim Al-Khathib.
· Muhammad bin Abdul
Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi.
· ‘Aqidah Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab As Salafiyyah, karya Dr. Shalih bin Abdullah
Al-’Ubud.
· Da’watu Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu`ayyidin, karya
Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dsb.
Barakah
Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab merupakan dakwah yang penuh barakah. Buahnya pun bisa di rasakan
hampir di setiap penjuru dunia Islam, bahkan di dunia secara keseluruhan.
Di Jazirah
Arabia
Di Jazirah Arabia
sendiri, pengaruhnya luar biasa. Berkat dakwah tauhid ini mereka bersatu yang
sebelumnya berpecah belah. Mereka mengenal tauhid, ilmu dan ibadah yang
sebelumnya tenggelam dalam penyimpangan, kebodohan dan kemaksiatan. Dakwah
tauhid juga mempunyai peran besar dalam perbaikan akhlak dan muamalah yang
membawa dampak positif bagi Islam itu sendiri dan bagi kaum muslimin, baik
dalam urusan agama ataupun urusan dunia mereka. Berkat dakwah tauhid pula
tegaklah Daulah Islamiyyah (di Jazirah Arabia) yang cukup kuat dan disegani
musuh, serta mampu menyatukan negeri-negeri yang selama ini berseteru di bawah
satu bendera. Kekuasaan Daulah ini membentang dari Laut Merah (barat) hingga
Teluk Arab (timur), dan dari Syam (utara) hingga Yaman (selatan), daulah ini
dikenal dalam sejarah dengan sebutan Daulah Su’udiyyah. Pada tahun 1233 H/1818
M daulah ini di porak-porandakan oleh pasukan Dinasti Utsmani yang dipimpin
Muhammad ‘Ali Basya. Pada tahun 1238 H/1823 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah
II yang di prakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Turki bin Abdullah bin Muhammad
bin Su’ud, dan runtuh pada tahun 1309 H/1891 M. Kemudian pada tahun 1319 H/1901
M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah III yang diprakarsai oleh Al-Imam
Al-Mujahid Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal bin Turki Alu Su’ud. Daulah
Su’udiyyah III ini kemudian dikenal dengan nama Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah
As-Su’udiyyah, yang dalam bahasa kita biasa disebut Kerajaan Saudi Arabia.
Ketiga daulah ini
merupakan daulah percontohan di masa ini dalam hal tauhid, penerapan Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan syariat Islam, keamanan,
kesejahteraan dan perhatian terhadap urusan kaum muslimin dunia (terkhusus
Daulah Su’udiyyah III). Untuk mengetahui lebih jauh tentang perannya, lihatlah
kajian utama edisi ini/Barakah Dakwah Tauhid.
Di Dunia
Islam
Dakwah tauhid Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab merambah dunia Islam, yang terwakili pada Benua Asia
dan Afrika, barakah Allah Subhanahu wa Ta'ala pun menyelimutinya. Di Benua Asia
dakwah tersebar di Yaman, Qatar, Bahrain, beberapa wilayah Oman, India,
Pakistan dan sekitarnya, Indonesia, Turkistan, dan Cina. Adapun di Benua
Afrika, dakwah Tauhid tersebar di Mesir, Libya, Al-Jazair, Sudan, dan Afrika
Barat. Dan hingga saat ini dakwah terus berkembang ke penjuru dunia, bahkan
merambah pusat kekafiran Amerika dan Eropa.
Pujian Ulama Dunia
terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Dakwah Beliau Pujian ulama
dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya amatlah
banyak. Namun karena terbatasnya ruang rubrik, cukuplah disebutkan sebagiannya
saja.
1.
Al-Imam
Ash-Shan’ani (Yaman). Beliau kirimkan dari Shan’a bait-bait pujian untuk
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Bait syair yang diawali
dengan:
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya
2.
Al-Imam
Asy-Syaukani rahimahullahu (Yaman). Ketika mendengar wafatnya Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau layangkan bait-bait pujian terhadap
Asy-Syaikh dan dakwahnya. Di antaranya: Telah wafat tonggak ilmu dan pusat
kemuliaan Referensi utama para pahlawan dan orang-orang mulia Dengan wafatnya,
nyaris wafat pula ilmu-ilmu agama
3.
Wajah
kebenaran pun nyaris lenyap ditelan derasnya arus sungai Muhammad Hamid Al-Fiqi
(Mesir). Beliau berkata: “Sesungguhnya amalan dan usaha yang beliau lakukan
adalah untuk menghidupkan kembali semangat beramal dengan agama yang benar dan
mengembalikan umat manusia kepada apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur`an….
dan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta apa yang
diyakini para shahabat, para tabi’in dan para imam yang terbimbing.”
4.
Dr.
Taqiyuddin Al-Hilali (Irak). Beliau berkata: “Tidak asing lagi bahwa Al-Imam
Ar-Rabbani Al-Awwab Muhammad bin Abdul Wahhab, benar-benar telah menegakkan
dakwah tauhid yang lurus. Memperbaharui (kehidupan umat manusia) seperti di
masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Dan
mendirikan daulah yang mengingatkan umat manusia kepada daulah di masa
Al-Khulafa` Ar-Rasyidin.”
5.
Asy-Syaikh
Mulla ‘Umran bin ‘Ali Ridhwan (Linjah, Iran). Beliau –ketika dicap sebagai
Wahhabi– berkata: Jikalau mengikuti Ahmad dicap sebagai Wahhabi
Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahhabi Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah ada bagiku Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Pemberi
Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahhabi Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah ada bagiku Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Pemberi
6.
Asy-Syaikh
Ahmad bin Hajar Al-Buthami (Qatar). Beliau berkata: “Sesungguhnya Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi adalah seorang da’i tauhid, yang tergolong
sebagai pembaharu yang adil dan pembenah yang ikhlas bagi agama umat.”
7.
Al
‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani (India). Kitab beliau Shiyanatul Insan
‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, sarat akan pujian dan pembelaan terhadap
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.
8.
Asy-Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Syam). Beliau berkata: “Dari apa yang telah
lalu, nampaklah kedengkian yang sangat, kebencian durjana, dan tuduhan keji
dari para penjahat (intelektual) terhadap Al-Imam Al Mujaddid Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dan
mengaruniainya pahala–, yang telah mengeluarkan manusia dari gelapnya
kesyirikan menuju cahaya tauhid yang murni…”
9.
Ulama
Saudi Arabia. Tak terhitung banyaknya pujian mereka terhadap Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, turun-temurun sejak Asy-Syaikh masih
hidup hingga hari ini.
Penutup
Akhir kata, demikianlah sajian kami seputar Wahhabi yang menjadi momok di Indonesia pada khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Semoga sajian ini dapat menjadi penerang di tengah gelapnya permasalahan, dan pembuka cakrawala berfikir untuk tidak berbicara dan menilai kecuali di atas pijakan ilmu.
Akhir kata, demikianlah sajian kami seputar Wahhabi yang menjadi momok di Indonesia pada khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Semoga sajian ini dapat menjadi penerang di tengah gelapnya permasalahan, dan pembuka cakrawala berfikir untuk tidak berbicara dan menilai kecuali di atas pijakan ilmu.
Wallahu a’lam
bish-shawab.
1)
Biografi
beliau bisa dilihat pada Majalah Asy Syari’ah, edisi 21, hal. 71.
2)
Untuk
lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/Musuh-musuh Dakwah Tauhid.
3)
Sebagaimana
yang dinyatakan Ahmad Abdullah Al-Haddad Baa ‘Alwi dalam kitabnya Mishbahul
Anam, hal. 5-6 dan Ahmad Zaini Dahlan dalam dua kitabnya Ad-Durar As-Saniyyah
Firraddi ‘alal Wahhabiyyah, hal. 46 dan Khulashatul Kalam, hal. 228-261.
4)
Sebagaimana
dalam Mishbahul Anam.
5)
Sebagaimana
yang diterangkan pada kajian utama edisi ini/Hubungan Najd dengan Daulah
Utsmaniyyah.
6)
Untuk
lebih rincinya bacalah kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah,
karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir.
7)
Sebagaimana
yang dinyatakan Ibnu ‘Abidin Asy-Syami dalam kitabnya Raddul Muhtar, 3/3009.
8)
Termaktub
dalam risalah Sulaiman bin Suhaim.
9)
Tuduhan
Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim, Qadhi Manfuhah.
10)
Lihat
‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/143-171.
11)
Ayah
beliau, dan seorang ulama Najd yang terpandang di masanya dan hakim di ‘Uyainah.
12)
Paman
beliau, dan sebagai hakim negeri Usyaiqir.
13)
Hafizh
negeri Hijaz di masanya.
14)
Seorang
faqih terpandang, murid para ulama Madinah sekaligus murid Abul Mawahib (ulama
besar negeri Syam). Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mendapatkan ijazah
dari guru beliau ini untuk meriwayatkan, mempelajari dan mengajarkan Shahih
Al-Bukhari dengan sanadnya sampai kepada Al-Imam Al-Bukhari serta
syarah-syarahnya, Shahih Muslim serta syarah-syarahnya, Sunan At-Tirmidzi
dengan sanadnya, Sunan Abi Dawud dengan sanadnya, Sunan Ibnu Majah dengan
sanadnya, Sunan An-Nasa‘i Al-Kubra dengan sanadnya, Sunan Ad-Darimi dan semua
karya tulis Al-Imam Ad-Darimi dengan sanadnya, Silsilah Al-‘Arabiyyah dengan
sanadnya dari Abul Aswad dari ‘Ali bin Abi Thalib, semua buku Al-Imam
An-Nawawi, Alfiyah Al-’Iraqi, At-Targhib Wat Tarhib, Al-Khulashah karya Ibnu
Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan seluruh karya tulis Ibnu Hisyam, semua karya tulis
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani, buku-buku Al-Qadhi ‘Iyadh, buku-buku
qira’at, kitab Al-Qamus dengan sanadnya, Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i, Muwaththa’
Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad, Mu’jam Ath-Thabrani, buku-buku As-Suyuthi
dsb.
15)
Ulama
besar Madinah di masanya.
16)
Penulis
kitab Kasyful Khafa‘ Wa Muzilul Ilbas ‘Amma Isytahara ‘Ala Alsinatin Nas.
17)
Asy-Syaikh
Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bertemu dengannya di kota Madinah dan mendapatkan
ijazah darinya seperti yang didapat dari Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin
Saif.
18)
Ulama
terkemuka daerah Majmu’ah, Bashrah.
19)
Lihat
Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah, hal. 119
20)
Ibid,
hal. 76.
21)
Diringkas
dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil
‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As-Salman, yang dimuat dalam
Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal. 140-145.
22)
Diringkas
dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil
‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As Salman, yang dimuat dalam
Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal.146-149.
23)
Untuk
mengetahui lebih luas, lihatlah kitab Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul
Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu`ayyidin, hal. 82-90, dan ‘Aqidah
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 2/371-474.
Allohu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment