“Dari Amirul
mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu
berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan,
maka barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya
adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk
menggapai dunia atau wanita yang hendak di nikahinya maka hijrahnya kepada apa
yang dihijrahi”.(HR.
Al-Bukhari: 1).
ü
Berkata
Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau
seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan
menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di
setiap bab” (Jami’ul
Ulum 1/8).
ü
Imam
Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).
ü
Imam
Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu,
”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha,
Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan
dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang
halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).
Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah
pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif
(lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah
tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman
Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).
Maka perkara apa saja yang merupakan perkara
agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya,
adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah
(siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak
menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang
kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut
kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala
(ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana
di sabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:
Allah
berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa
yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut
(juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia
syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih,
sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim
(4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).
ü
Berkata
Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Lafal ‘amalan’ disini adalah nakiroh dalam konteks
kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis
amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung
amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).
Definisi
ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan bahasa) Ikhlas menurut bahasa
adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa
mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak
tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni
untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam
memiliki harta ini. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang wanita yang
menghadiahkan dirinya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,
Dan perempuan
mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya,
sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50).
Dan sesungguhnya
pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami
memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang
bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang
meminumnya.
(QS. An Nahl: 66).
Maka tatkala
mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding
dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kamu
ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama
Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan
meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali),
atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang
sebaik-baiknya”.
(QS. Yusuf: 80).
Yaitu para saudara Yusuf menyendiri untuk saling
berbicara diantara mereka tanpa ada orang lain yang menyertai pembicaraan
mereka. Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi) Syaikh
Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas
namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada
yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah
tatkala beribadah”, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu
engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga
bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari komentar manusia”, yaitu jika
engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu
dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka
tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan
kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya. Dan
inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak
menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya
tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya
kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu
(meskipun manusia tidak meridhoimu).
Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah “samanya
amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”,
adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik
daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari
ikhlas yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu
engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu,
maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka
hendaknya engkaupun menghiasi hatimu di hadapan Robbmu.
Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, “melupakan
pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”, yaitu engkau lupa
bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada
Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan “Engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka
sesungguhnya Ia melihatmu”. Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan
apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh
dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka
apalagi yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut
jangan sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari
pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan
binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada
dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada
sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan
Allah pada hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah beliau yang
berjudul ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh
Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).
ü
Berkata
Syaikh Abdul Malik, “Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan
ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas
dalam dakwahnya”.
Katakanlah,
“Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk
orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).
Yaitu
dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang
membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang di bangun karena untuk mencari wajah
Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada di antara kita dan kalian
orang-orang yang senang jika di katakan bahwa kampung mereka adalah kampung
sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus
sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah
ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh
salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak
sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa
mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Dan ini adalah musibah yang sangat
menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga
terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada
keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat yang Allah
menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah
karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya mereka
untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di atas
sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” (Dari ceramah beliau yang berjudul
ikhlas).
Syuhroh (Popularitas)
Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya.
Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena
untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah di lakukan oleh para
penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar
bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal
yang aneh dan yang di haramkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas
(sebagaimana pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah
telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas
benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, “awas jangan di bayangkan!!”-, padahal dia hanya di bayar sangat
rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar. Na’udzu
billahi min dzalik), walau pada akhirnya setelah perjuangan dan pengorbanannya
tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan
lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang di dambakan
oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).
Sebagaimana fenomena sekarang ini. Hampir
seluruh keanehan-keanehan yang di laku kan oleh manusia sesungguhnya di karenakan
cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni,
ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga
bahunya dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah di lihat oleh Syaikh Abdur
Rozaq), ada yang rambutnya cuma di tengah saja panjang adapun sisanya gundul,
ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada
yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh
kepalanya gundul namun tersisa satu pelintiran yang panjang sekali, dan
model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru
masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian.
Yang semua ini hanyalah di lakukan demi ketenaran.
Demi Allah, seandainya salah mereka itu tinggal
di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia
hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan
hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang
memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal di antara
para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.
Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa
orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga
menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang
bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah
juga pingin kesungguhannya dalam beribadah di ketahui oleh para ahli ibadah
yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang
yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi di hadapan manusia. Penyakit
inilah yang dalam kamus agama di sebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang)
dan sum’ah (pingin didengar orang).
Manusia begitu bersemangat untuk menutupi
kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil
apapun, di bungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini di karenakan mereka
menginginkan mendapatkan kehormatan di mata manusia. Dengan terungkapnya
kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata
manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil
apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya
(saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya)
tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat
mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang
hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah.
Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah.
ü
Berkata
Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana
engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik
Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh
(1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh
Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).
Dalam
riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no
6500 beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau
menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan
amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang
yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.
ü
Berkata
Syaikh Abdul Malik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim
ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati
kita sebagaimana yang dikehendaki Allah” (Dari ceramah beliau yang berjuduk
ikhlas).
Oleh karena itu banyak para imam salaf yang
benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak di sebut-sebut oleh
manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk
menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah
tatkala mendengar pujian manusia.
ü
Berkata
Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun
membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati
manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?!
(ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak)
karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh
Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi
dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal
46)).
ü
Berkata
Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang
ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”.
(As-Siyar 11/210). Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia
mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”.
(As-Siyar 11/211).
ü
Imam
Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku
mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”.
(As-Siyar 11/211).
ü
Pernah
Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar)
tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika
seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian
manusia”. (As-Siyar 11/211).
ü
Berkata
Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata
padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya
menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan
Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari
kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah
sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya
Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal
ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan
Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).
ü
Berkata
Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia
untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung
datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana
Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang
menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan
padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka
berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah
kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan
menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya
lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa
kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah
hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya.
Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi
tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang
lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” Lihat takhrij kisah ini secara
terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47. Lihatlah
wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan
ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar
terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit
yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan
dunia ini. Allahu Akbar.. ! inilah akhlak salaf (Berkata Guru kami Syaikh Abdul
Qoyyum, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para
pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka
ia adalah dajjal”). Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan
ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha
untuk meraihnya dengan berbagai macam cara.
ü
Dari
Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain memikul sekarung roti
diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata,
”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”. Ini
merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat,
seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Ma’ud, Ummu
Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh
Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta
syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk
hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539,
hadits no. 1908).
ü
Dan
dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka
memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka
bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung
tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di
Madinah”.
ü
Berkata
Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah
berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga
meninggalnya Ali bin Husain” Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah
(2/96), Aina Nahnu hal. 9.
ü
Lihatlah
bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak
ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang
biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda
hitam di pundak beliau.
ü
Seseorang
bertanya pada Tamim Ad-Dari ”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah
Tamim, sangat marah, kemudian berkata, “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku
di tengah malam, tanpa di ketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku
sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia” (Dinukil dari kitab
Az- Zuhud, Imam Ahmad).
Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan
akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka
tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan
kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang
dirahmati oleh Allah), Allahu Al-Musta’an, sudah amalannya sedikit, namun
diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya). Ada
yang berkata, ”Dakwah saya disana…, disini…”, ada juga yang berkata,”Yang
menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…” (padahal kalau dihitung
belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya
banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma
sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk
semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia
bahwa dia adalah da’i favorit), ada yang berkata, “Saya sudah baca kitab ini,
kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab
itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau
bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia
ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa
dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua
adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.
Lihatlah Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang
bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang
yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin
sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa
menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang
ibadahnya, atau dakwahnya, atau perkara yang lainnya.
Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan
jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan
jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru
saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).
Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama
Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai
sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku
bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada di tanganku-
menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku di atas tombak tersebut,
seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku
sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari
pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala
telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia
menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata:
”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan
mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak
pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku
pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa
aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya
hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan
kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok” (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi
Hatim 1/266).
Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas
adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya.
Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita
terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa
menjadikan kita riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan
amal, maka dia akan berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak
mampu lagi maka di akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf
dahulu memngecek niat mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau
sudah berubah?. Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang
saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya
sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits
saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh
beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam
Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).
Lihatlah bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga
niat mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya
beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan
kita sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan
beribu-ribu kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat
tatkala diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita
disela-sela pembicaraan kita??. Terkadang seseorang di awal sedang mengisi
pengajian, dia mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian,
disaat dia memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan
kefasihannya melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk
merubah niatnya. Waspadalah wahai para saudaraku… sesungguhnya hanya sedikit
yang selamat dari tipu daya syaitan.
Sungguh benarlah perkataan Sufyan Ats-Tsauri,
”Saya tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niat, karena
niat itu berbolak-balik (berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62),
lihat Jami’ul ‘Ulul wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).
Kalau
seseorang telah selamat dari tipu daya syaitan hingga selesai amalnya,
ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati orang tersebut dan
merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada manusia, dan
syaitan menipunya dengan berkata, ”Ini bukanlah riya…, supaya kamu bisa
dicontohi manusia…”. Akhirnya ter jebaklah orang tersebut dan diapun
mengungkapkan kebaikan-kebaikannya di hadapan orang, maka bisa jadi diapun
menceritakan kabaikan-kebaikannya pada manusia karena riya’, maka ini merupakan
kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena
pahala amalan yang di sembunyikan lebih baik daripada amalan yang di ketahui
orang lain.
Allah
berfirman, yang artinya:
“Jika kalian
menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian
menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka
menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari
kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang
kalian kerjakan”
(QS. Al-Baqoroh: 271).
Berkata
Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa di ketahui
orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil ayat ini dan hadits dalam shohihain
(Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh, beliau berkata:
“Berkata Rasulullah : ”Tujuh golongan yang
berada di bawah naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan kecuali
naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia
menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di infakkan
oleh tangan kanannya” Di riwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377).
Berkata
Imam Nawawi: ” Berkata para Ulama bahwanya penyebutan tangan kanan dan kiri
menunjukan kesungguhan dan sangat di sembunyikannya serta tidak di ketahuinya
sedekah. Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut karena dekatnya tangan kanan
dengan tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri. Dan maknanya
adalah seandainya tangan kiri itu seorang laki-laki yang terjaga maka dia tidak
akan mengetahui apa yang di infak oleh tangan kanan karena saking di sembunyikannya.”
(Al-Minhaj 7/122), hal ini juga sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr (Al-Fath
2/191).
Rosulullah
bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi,
bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau
Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka
para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata,
”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?”
Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan
kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab,
”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk
Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka
bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari
pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai
Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah
menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya
lalu dia sembunyikan agar tidak di ketahui tangan kirinya”. Diriwayatkan oleh Imam
Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar,
”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).
Sungguh
benar orang yang berkata, “Jangan heran kalau engkau melihat seorang yang bisa
jalan di atas air, karena syaitan juga bisa berjalan di atas air. Janganlah
heran kalau engkau melihat seorang yang berjalan terbang di udara, karena
syaitan juga bisa terbang di udara. Tapi heranlah engkau jika engkau melihat
seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya namun tangan kirinya tidak
mengetahuinya, karena syaitan tidak bersedekah (apalagi dengan ikhlas) (Wallahu
A’lam).
Ingat
perkataan Ibnul Qoyyim, “Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama
rasa senang untuk di puji dan di sanjung dan keinginan untuk memperoleh apa
yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid
Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423). Wahai Dzat yang
membolak-balikan hati-hati (manusia) tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.
Hukum menyembunyikan
amal
Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan
menyembunyikan amalan kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu
hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib.
Berkata Ibnu Hajar: ”At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma’ bahwa
sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara
tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” (Al-Fath 3/365).
Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang
yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka
untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari
riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang
kuat.
Imam Al-Iz bin Abdus Salam telah menjelaskan
hukum menyembunyikan amalan kebajikan secara terperinci sebagai berikut. Beliau
berkata, “Keta’atan (pada Allah) ada tiga:
Yang pertama, adalah amalan yang di syariatkan
secara dengan di nampakan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam
sholat secara jahr, khutbah-kutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan sholat
jumat dan sholat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi
orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, maka hal-hal seperti ini tidak
mungkin di sembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya, maka
hendaknya dia berusaha bersungguh-sungguh untuk menolaknya hingga dia bisa
ikhlas kemudian dia bisa melaksanakannya dengan ikhlas, sehingga dengan
demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena
kesungguhannya menolak riya, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk
orang lain.
Yang kedua, amalan yang jika di amalkan
secara tersembunyi lebih afdhol dari pada jika di nampakkan. Contohnya seperti
membaca qiro’ah secara perlahan tatkala sholat (yaitu sholat yang tidak di syari’atkan
untuk menjahirkan qiro’ah), dan berdzikir dalam sholat secara perlahan. Maka
dengan perlahan lebih baik daripada jika dijahirkan.
Yang ketiga, amalan yang terkadang
di sembunyikan dan terkadang di nampakkan seperti sedekah. Jika dia kawatir
tertimpa riya’ atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakan amalannya
dia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut di sembunyikan lebih baik
daripada jika di nampakkan.
Adapun
orang yang aman dari riya’ maka ada dua keadaannya:
Yang pertama, dia bukanlah termasuk
orang yang di ikuti, maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa
jadi dia tertimpa riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.
Yang kedua, dia merupakan orang
yang di contohi, maka dia menampakan sedekahnya lebih baik karena hal itu
membantu fakir miskin dan dia akan diikuti. Maka dia telah memberi manfaat
kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan dia juga menyebabkan orang-orang kaya
bersedekah pada fakir miskin karena mencontohi dia, dan dia juga telah memberi
manfaat pada orang-orang kaya tersebut karena mengikuti dia beramal soleh.”
Qowa’idul Ahkam 1/125 (Sebagaimana dinukil oleh Sulaiman Al-Asyqor dal kitabnya
Al-Ikhlash hal 128-129).
Tentunya
kita lebih mengetahui diri kita, kita termasuk orang yang aman dari riya atau
tidak.
Mengobati penyakit cinta
ketenaran.
Berkata
Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada
dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan
tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa
dari dosa-dosaku dan aku di panggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok
3/357 no. 5382).
ü
Berkata
Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran),
dan hal ini tidak di ragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi
jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi
orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka
mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah
ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya
banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang
mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar
–padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam - yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah
berkata tentangnya, “Jika di timbang iman Abu Bakar di banding dengan iman umat
maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robku, sesungguhnya aku telah
banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau
maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang di wasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq.
Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut
kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia di agungkan
di antara manusia, khawatir di angkat-angkat di antara manusia, karena ia
mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin
menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini
merupakan salah satu bentuk dosa.
Hendaknya
setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang
terpandang untuk selalu merendahkan dirinya di antara manusia dan menampakkan
hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun
agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali
kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan
manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan.
Dan
diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah
mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan
dengan Allah, ia takut hari di mana di balas apa-apa yang terdapat dalam
dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada di simpan di hati-hati, tidak ada
yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan
pembicaraan mereka di hadapan Allah.
Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap
yang di panuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa
orang yang di ikutinya itu tidak boleh di agungkan, namun hanyalah di ambil
faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang di ambil oleh masyarakat,
karena yang di agungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa
cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut,
rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan
Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak di ikuti oleh dua orang
di belakangnya.
Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di
hadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih
sebagaimana di riwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: “Ya
Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan
ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”, ia mengucapkan doa ini dengan
keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka
tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat
pada kenyataan dimana orang yang di agungkan semakin menjadi-jadi agar di agungkan
dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang di ikutinya??
Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan
dirinya -dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan
masuk surga setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah
pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.
Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub
(takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat).
Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan
jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut,
kenapa?, karena keselamatan jiwanya lebih utama di bandingkan keselamatan jiwa
orang lain, karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari
bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka,
yang pada diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati
dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal
tersebut, Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya
dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan
hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul
Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).
Riya itu samar.
Sungguh
benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga
terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang
sebaik-baiknya. Di kisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat
berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga
sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang
melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya
selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang
pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).
ü
Berkata
Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri
lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia
menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya
aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”,
lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan
sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan
berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah
memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan
akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu,
berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu
Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan
berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh
Ad-Dimasyq 48/404).
Perhatikanlah
wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang
memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu
banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang di beri taufik oleh Allah.
Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat
menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah
dalam firman-Nya.
“Dan (jelaslah)
bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi
oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).
“Yaitu
orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104).
SUBHANN
ALLOH…

No comments:
Post a Comment